
"Di ganti dengan yang ini misalnya. Yang itu biar di cuci dulu." Aran menambahkan lagi sambil menyentuh mantel yang di pakainya. Diona jadi mengerti, yang di maksud Aran adalah mantel Aran yang di simpannya. Ko dia tau? tanya Diona dalam hati. Apa Leana yang mengatakan? Diona melirik sekilas pada Aran. Tidak tampak wajah ingin meledek atau mengganggunya. Tapi tatapan penuh makna yang terlihat. Diona tersipu, rahasianya ketahuan.
"Dari pada simpan mantelnya, apa tidak sebaiknya simpan orangnya?" tanya Aran mengusulkan.
"Nanti aku simpan kamu di lemariku." balas Diona. Kan Aran mintanya di simpan.
"Jangan di sekap di lemari dong Di. Kamu kan bisa taruh mantelku di tempat tidur." Aran protes atas ketidak adilan Diona. Debaran jantung Diona bertambah, begitu juga merah di pipinya. Jelas ini perbuatan Leana. Perlahan Aran merengkuh Diona untuk bersandar padanya.
" Lebih hangat orangnya kan dari pada mantelnya." Aran tidak putus-putusnya menggoda. Sementara Diona menyembunyikan wajahnya yang merah di dada Aran. Ternyata Aran memilih waktu yang tepat untuk membongkar rahasianya.
"Di apakah aku tidak bisa kau simpan di dalam hatimu?" tanya Aran lembut.
"Kamu sudah ada di sana." jawab Diona lirih.
"Maksudku bukan sebagai sahabatmu, tapi sebagai seseorang yang kau gantungkan harapanmu, hidupmu dan jiwamu." Aran mengejar Diona.
"Sudah." jawab Diona dengan lirih lagi.
"Sejak kapan?" Aran tersenyum senang.
"Sejak kau menolongku. Sejak itu kau mengambil alih duniaku." Diona berkata jujur. Tangan Aran menarik wajah Diona agar menatapnya.
"Jadi sekarang kita jadian?" bisik Aran dengan tatapan lekat pada wajah Diona. Yang di tanya hanya mengangguk. Perlahan Aran mencium bibir Diona lembut. Dulu selama empat tahun Aran tidak berani melakukannya. Tapi sekarang Diona benar-benar jadi miliknya. Aran membuat foto mereka berdua di atas gondola. Wajah mereka berdua tampak bahagia. Aran mengirimkan foto itu pada Dewanti. Melihat itu Dewanti terus tersenyum. Hal itu membuat Rustam curiga.
__ADS_1
"Ada apa sih sayang?" tanya Rustam penasaran. Dewanti segera memperlihatkan foto Aran.
"Oh rupanya anak itu sedang bahagia. Ayo kita ke sana. Aku juga mau buat foto seperti itu." Rustam bersemangat.
"Is, nanti saja. Jangan ganggu mereka. Lagi pula kalau kita yang berfoto tidak ada manis-manisnya." tolak Dewanti.
"Bagiku biar bagaimana kamu tetap manis sayang. Ayo kita bikin foto di kamar saja." Rustam menarik Dewanti ke dalam kamar.
"Mas ini apa-apaan sih." Dewanti protes ketika dia di tarik ke tempat tidur.
"Kita foto di sini." Rustam membuat foto di mana Dewanti berada di dalam pelukannya.
"Kaya pengantin baru saja." Gerutu Dewanti.
"Di, ini hari terakhir kita di Venezia. Ada yang ingin kau kunjungi?" tanya Aran lembut.
"Tidak ada. Aku sudah senang dengan apa yang sudah kita lihat sejak kemarin." Diona merasa cukup berwisata. Asalkan bersama Aran, tidak perlu ke tempat-tempat yang khusus. Seperti ini pun Diona sudah senang. Duduk berdua Aran sambil menikmati hidangan sebuah cafe. Saat ini mereka duduk di tepi air. Aran tersenyum melihat .Diona menikmati suasana saat itu.
"Aran sejak kapan kau suka padaku?" Diona mulai mengungkapkan rasa ingin taunya.
"Sejak kita bertemu pertama kali di kampus, aku sudah suka padamu." Aran menatap Diona serius, agar Diona yakin dia berkata jujur.
"Sejak pertama bertemu di kampus?" Diona merasa tidak percaya.
__ADS_1
"Mungkin sudah waktunya aku ceritakan semua yang ku alami. Aku sudah jatuh cinta padamu saat itu. Aku suka berada bersamamu. Tapi kemudian Mhina datang dan mengambil tempatmu di sisiku. Sejak awal aku tidak pernah mencintai Mhina. Aku menikah dengannya karena permintaan Ayah. Selain itu ada rasa iba di diriku yang ingin membuatnya bahagia. Mungkin aku egois ingin membuatnya bahagia tapi juga ingin menjagamu. Yang aku tau kau tidak mencintaiku. Kau hanya diam ketika aku mencurahkan perhatianku. Aku hanya mencintaimu Diona Azalea." Aran tersenyum mesra.
"Jadi kau menikahi Mhina karena iba?" Diona ingin menegaskan.
"Mungkin ini terdengar kejam. Aku ingin memberinya kesempatan untuk bisa menikmati hidup pada umumnya. Walau aku harus mengorbankan perasaanku. Tapi dia tidak menghargai itu. Cinta yang dia bilang hanya untukku tidak ada buktinya. Apa lagi aku sempat merasa hampir gila karena kau pergi dari sisiku. Aku rasa sudah waktunya aku menata hidupku lagi. Mhina selalu curiga aku punya perasaan khusus untukmu. Dan dia benar. Apa yang dia lakukan adalah bukti jika dia tau perasaanku yang sebenarnya." Mata Aran menerawang jauh. Seperti menyesali sesuatu.
"Menurutku kau baik hati, tapi tidak beruntung. Itu bukan salahmu." Ada rasa haru yang Diona rasakan untuk Aran.
"Lalu nona Diona, sejak kapan kau punya perasaan khusus padaku? Oh ralat, sejak kapan kau suka pada mantelku?" Aran menggoda Diona yang langsung tersipu. Diona merasa senang ketika tau Aran jatuh cinta padanya. Perasaan Aran itu membuatnya tidak terlalu memalukan ketahuan menyimpan mantel Aran.
"Sejak kita bersama di kampus dulu aku merasa nyaman bersamamu. Perlahan aku jadi punya perasaan lebih untukmu. Aku kecewa ketika kau bertunangan dengan Mhina, walau aku masih tetap berharap. Tapi harapanku pupus ketika menikahinya. Dulu aku sangat tertutup karena keadaanku yang tidak sempurna. Tidak punya orangtua bersamaku. Tapi pengalaman membuktikan padaku jika aku di cintai orang-orang yang dekat denganku. Itu merubahku. Aku tidak mau lagi diam dan menyimpan rasa yang ku miliki. Sedih maupun bahagia akan aku ungkapkan." Diona mengungkap alasan dirinya berubah.
"Apa akan lain ceritanya jika aku tau perasaanmu?" Aran sangsi apa dia akan menikahi Mhina jika dia tau Diona mencintainya.
"Sudah jadi seperti ini, tidak mengapa. Aku akan jadi orang yang jahat ketika tau niatmu tapi aku mengambilmu." Diona tidak marah karena tau alasan Aran memilih Mhina. Aran memajukan wajahnya.
,"Harusnya kau mengambilku, menyelamatkanku karena aku tidak bahagia." kata Aran menuntut Diona.
"Aku kira kau bahagia, itu sebabnya aku pergi jauh " ungkap Diona jujur. Mereka menyudahi acara makan mereka. Berjalan perlahan menyusuri air sambil bergandengan tangan.
"Kau tau Aran, ada untungnya aku pergi. Aku jadi bisa belajar melukis." kata Diona riang.
"Kau jadi bisa membalasku dengan hidup berdua dengan pria lain."
__ADS_1