PADA DUA HATI

PADA DUA HATI
Hadiah Untuk Paul


__ADS_3

Petugas meminta tanda tangan Diona.


"Terima kasih, saya percaya kerja kalian pasti bagus." Diona memberi tanda tangannya. Walau lukisannya bukan karya ternama tapi dia sayang dengan hasil karyanya. Mereka pun pergi dengan membawa lukisan Diona. Rumah jadi lebih lega. Rumah kecil itu memang di penuhi lukisan Diona.


"Lea, besok kita antar lukisan untuk Paul ya." Diona membuat rencana.


"Baik nona, besok akan saya taruh di mobil lukisannya." Leana setuju. Besoknya Diona dan Leana menuju apartemen Paul. Mereka tiba di parkiran. Tom berlari menghampiri mereka.


"Nona Diona, ada kabar?" sapa Tom dengan wajah gembira.


"Hai Tom, Aku baik-baik saja." jawab Diona ramah.


"Maafkan saya waktu itu tidak bisa melindungi nona." kata Tom dengan raut wajah menyesal. Diona tersenyum lembut.


"Bukan salahmu, orang itu memang pintar." Diona menghibur Tom.


"Nona yakin akan ke atas?" tanya Leana khawatir.


"Iya, aku akan ke atas." Diona merasa dia bisa mendatangi apartemen Paul.


"Biar saya bantu bawakan lukisannya." tawar Tom pada Diona.


"Boleh, biar Tom yang bawakan." jawab Diona pada Tom dan Leana. Tom senang dapat membantu Diona. Mereka menuju apartemen Paul. Pagi seperti ini Paul masih di apartemen. Dia berangkat lebih siang karena tidak perlu mengantar Diona ke sekolah. Diona memencet bel dengan berdebar. Demikian juga dengan Leana, dia penasaran dengan reaksi Diona. Ini pertama kalinya Diona datang lagi ke apartemen Paul. Tidak lama Paul membuka pintu, dia terkejut melihat siapa yang datang.


"Didi?" mata Paul membesar tak percaya.


"Aku membawa lukisan untukmu." Diona menatap Tom untuk menyerahkan lukisan itu pada Paul. Dengan terkejut Paul menerima lukisan itu.


"Nona, aku akan tunggu di luar." kata Leana pada Diona. Dilihatnya reaksi Diona tidak berlebihan.


"Baik, aku akan masuk sebentar." Diona dan Paul masuk ke dalam apartemen. Sementara Leana di luar meminta bantuan Tom. Dia membuka pintu apartemen di sebelah Paul. Tom terkejut.

__ADS_1


"Memangnya penghuni apartemen ini siapa?" tanya Tom penasaran.


"Tuan Aran." jawab Leana sambil tersenyum. Dia paham Tom terkejut.


"Oh tuan Aran. Pantas saja tuan Aran datang tepat waktu menolong nona Diona." Tom jadi paham. Leana tidak menjawab, dia membereskan barang-barang Aran di apartemen itu. Hal ini sudah di perintahkan Aran sejak lama, tapi Leana belum sempat mengerjakannya.


"Tolong bawakan ke mobil ya. Apartemen ini akan di kosongkan, jika ada penyewa baru bisa menghubungi pemilik ya." Leana menyerahkan koper sedang pada Tom. Barang-barang Aran memang tidak banyak.


"Saya mengerti, akan saya info kan jika ada yang menanyakan." Tom pun membawakan koper itu ke bawah. Leana kembali mengunci pintu apartemen. Dia lalu menyusul Tom ke bawah untuk memadukan koper Aran ke dalam mobil.


"Terima kasih ya." kata Leana pada Tom.


"Sama-sama nona." Tom kembali ke posnya. Sedang Leana kembali ke atas, menunggu di depan apartemen Paul. Di dalam Paul tengah menatap Diona dengan khawatir, takut gadis itu masih trauma. Tapi ternyata Diona malah tersenyum manis walau langkahnya pelan menyusuri ruangan itu.


"Didi kau sudah sarapan?" tanya Paul mengalihkan Diona. Dia tidak mau gadis itu takut dan pergi.


"Sudah." di tanya tentang sarapan Diona pun beranjak ke dapur. Dia ingin melihat apa yang Paul buat. Di dapur ternyata hanya ada kopi dan roti yang Paul bawa dari restaurant. Diona mengambil satu dan memakannya. Dia rindu roti itu.


"Sejak kau pergi aku malas memasak. Roti itu aku bawa karena aku terbiasa membawanya untukmu." kata Paul sedih.


"Aku berikan pada Tom." jawab Paul jujur. Diona segera mengemas roti itu. Membawanya semua.


"Dasar serakah." umpat Paul pada Diona, tapi dia senang Diona masih suka roti itu.


"Mau kubuatkan sarapan?" tanya Diona baik hati.


"Tentu saja mau. Aku mandi dulu, setelah itu sarapan harus sudah siap." titah Paul sambil melangkah menuju kamar mandi.


"Siap bos." jawab Diona. Paul tersenyum. Pagi hari dia mendapat kejutan. Paul mandi dengan cepat. Dia senang Diona datang dan gadis itu tidak takut lagi berada di apartemennya. Selesai mandi Paul segera mihat apa yang Diona buat untuknya. Dia pun terperangah. Diona hanya membuat pasta yang di campurkan dengan bumbu saus yang di simpannya di dalam kulkas.


"Hanya ini?" tanya Paul tidak percaya.

__ADS_1


"Hei, memberi lukisan dan menyiapkan sarapan sudah hal yang mewah." seru Diona tidak mau kalah.


"Jauh dariku ternyata tidak membuatmu mendapat kemajuan." keluh Paul, tapi dia makan juga pasta yang Diona buat.


"Aku yakin si Leana itu sudah memanjakanmu." tambah Paul.


"Apa boleh buat, aku pantasnya menjadi ratu." Diona senyum tidak bersalah. Paul terdiam. Dia bisa menjadikan Diona ratu, pikirnya. Karena Paul diam Diona menghampirinya.


"Paul maafkan aku jika sudah menyusahkanmu." Diona memeluk Paul. Karena Paul duduk, mudah bagi Diona merangkulnya. Paul terkejut. Perlahan tangannya menepuk-nepuk bahu Diona.


"Didi sudah tugasku menjagamu. Kau tidak pernah menyusahkanku." kata Paul menghibur Diona. Entah cinta atau apa berat rasanya melepas Diona.


"Jangan lupa padaku." kata Diona lagi, melepas pelukannya dan menatap Paul.


"Bagaimana mungkin lupa hutangmu banyak padaku." gurau Paul. Diona cemberut. Paul tertawa. Di raihnya Diona, di peluk dengan sayang.


"Aku hanya bercanda. Semua yang kulakukan tulus padamu." Paul melepas pelukannya menatap Diona lekat.


"Didi aku ingin kau jadi wanita yang bahagia. Apa pun keputusanmu ku harap kau bahagia. Jangan lagi datang padaku dengan hatimu yang patah." Paul menatap tulus pada Diona. Hampir satu tahun dia bersama Diona tentu berat harus berpisah. Tapi dia sadar dia kalah segalanya dari Aran. Pria itu sudah sejak lama di simpan dalam hati Diona.


"Aku harap kau menemukan gadis yang kau sukai." kata Diona lembut. Paul menghela napas dalam. Dionalah gadisyang dia sukai. Sejak pertama mengenalnya Paul sudah menyukainya.


"Terima kasih Didi untuk harapanmu bagiku." Paul tidak tau harus mengalihkan hatinya ke mana.


"Habiskan sarapanmu." kata Diona mengingatkan.


"Baiklah akan ku habiskan." Paul pun lanjut menghabiskan sarapannya. Ini sarapan terakhir yang Diona buat. Paul merasa tidak ada lagi kesempatan menikmati sarapan yang Diona buat.


"Lukisannya akan kau gantung di mana?" tanya Diona sambil memandang ke seluruh ruangan.


"Aku ingin memajangnya di ruang duduk. Tapi nanti, aku akan mencari pigura lukisannya dulu." Paulbangkit membawa piringnya yang sudah kosong. Mencucinya sebentar. Dia lalu menghampiri Diona.

__ADS_1


"Apa yang akan kau lakukan hari ini?" tanya Paul ingin tau.


"Tidak ada, aku sudah mengepak lukisanku dan mengirimkannya ke Jakarta." jawab Diona cepat.


__ADS_2