PADA DUA HATI

PADA DUA HATI
Rencana Bayu


__ADS_3

"Aku tidak menyesal batal kerja di Paris dan harus menjaga Didi di sini. Ada banyak keuntungan yang ku dapat. Hubunganku dengan ayah jadi baik. Aku juga bisa membawa ibuku pulang. Walau pada akhirnya Didi tidak jadi milikku. Ada Aran di hatinya yang selalu dia bawa kemana pun pergi." kata Paul antara bersyukur dan sedih.


"Itu juga salah satu keberuntunganku." Paul menunjuk lukisan dari Diona untuk membalas Bayu.


"Jadi Di melukisnya ketika di Amalfi?" Bayu penasaran.


"Tidak, dia melukisnya dari ingatannya." jawab Paul.


"Lukisannya bagus. Menggambarkan perasaan hatinya." komentar Mitsi.


"Didi memang senang ketika aku ajak ke Amalfi." jelas Paul.


"Nanti kita ke sana ya sayang. Tapi sebaiknya kau istirahat dulu. Kasihan bayi kita pasti lelah." Bayu berkata lembut pada Mitsi.


"Bayi? maksudmu apa?" tanya Paul heran.


"Istriku sedang mengandung. Dia pasti lelah, biar dia istirahat dulu." kata Bayu dengan tenang.


"Kalian baru menikah tapi istrimu sudah hamil?" Paul tak percaya menatap lekat sahabatnya. Bayu hanya tersenyum.


"Biar aku antar Mitsi dulu ke kamar Di." Bayu menuntun Mitsi untuk beristirahat. Setelah itu dia kembali ke ruang duduk untuk mengobrol lagi dengan Paul. Bayu pun menceritakan semuanya tentang pertemuannya dengan Mitsi.


"Dia cantik, itu sebabnya kau membawanya?" tanya Paul ingin tau.


"Aku memang tertarik melihat wajahnya, tapi bukan itu saja yang membuatku ingin membawanya. Entahlah, ada sesuatu yang membuatku berat meninggalkannya. Mungkin kami jodoh." Bayu berkesimpulan.


"Caramu luar biasa membuatnya jadi milikmu. Bagaimana jika itu kulakukan pada Didi? apa kami juga jodoh?" Paul bertanya iseng.

__ADS_1


"Aku akan menghajarmu habis-habisan. Belum lagi Aran, dia tidak akan tinggal diam." Bayu menegaskan, dia dan Aran sama. Tidak akan melepaskan wanita yang mereka cinta.


"Aku kan cuma berandai-andai. Aku juga tidak mau menikahi seseorang yang hatinya bukan untukku." kata Paul menegaskan.


"Ya aku senang Mitsi mau membuka hatinya untukku. Bisa saja kan dia membenciku." ungkap Bayu tentang perasaan hatinya.


"Mitsi masih berpikir panjang. Ada anak di antara kalian yang butuh orangtuanya. Dia mengalah untuk bayi kalian. Kau tau ketika ibuku pergi aku sangat sedih dan kehilangan. Hidupku terasa tidak lengkap. Apa lagi anak yang lahir tanpa ayah. Seorang anak punya hak untuk hidup bersama orangtuanya. Lagi pula Mitsi sudah merasakan hidup sendiri karena ayahnya yang kejam. Dia pasti ingin anaknya bahagia." kata Paul bijak.


"Pintar juga dirimu. Apa itu yang Mitsi pikirkan ? Aku jadi harus memperhatikannya dan memberi dukungan agar dia tidak merasa sendirian." Bayu baru menyadari keadaan.


"Ya, berikan cinta dan kasih sayangmu. Buktikan dia berharga dalam hidupmu. Bukan anak itu saja." Paul hanya bisa memberi saran. Kisah cintanya sendiri tidak berhasil. Sebanyak apa pun kasih sayang dan perhatian yang dia berikan pada Diona, tidak menggerakkan gadis itu untuk melihatnya dengan berbeda. Diona tetap kukuh pada cintanya.


"Apa rencanamu datang ke sini?" tanya Paul ingin tau.


"Menghadiri wisuda Di, lalu membawa Mitsi wisata. Bisa di bilang kami bulan madu." Bayu berkata apa adanya.


"Jangan katakan kami sudah di sini. Akan jadi kejutan bagi Di." pinta Bayu. Paul tersenyum, dia bisa membayangkan betapa seru wisuda Diona nanti.


"Baiklah, kau istirahat saja. Aku akan berangkat bekerja. Mampir saja nanti untuk makan siang." Paul tidak mau mengganggu Bayu lagi, di pun harus berangkat bekerja. Bayu setuju dengan Paul, dia mengantar Paul keluar apartemen.


Diona pagi itu membereskan urusannya di sekolah. Ada Lucca dan Elis yang sibuk dengan barang-barang mereka.


"Di ada lukisanmu yang kau titipkan di lokerku. Buatku saja ya. Kau kan sudah mengepak dan mengirimkan lukisanmu ke Indonesia kan?* kata Lucca pada Diona.


"Lukisan yang mana ya?" Diona ingin tau, dia lupa.


"Lukisan ketika kita ujian, kalau boleh aku akan membawanya ke mobil." Lucca berharap. Mereka sedang mengosongkan loker karena setelah wisuda mereka tidak kembali lagi ke sekolah. Diona berjalan menuju loker Lucca. Dilihatnya lukisan miliknya. Diona tidak mau memberikannya jika lukisan itu jelek. Tapi karena lukisan itu untuk ujian Diona membuatnya sepenuh hati.

__ADS_1


"Lukisan ini boleh untukmu." Diona memutuskan. Lucca tersenyum senang. Dia langsung membawa lukisan itu ke mobilnya, khawatir Diona berubah pikiran. Di belakang Diona Elis tampak cemberut.


"Diona, di antara kita bertiga kau yang paling berbakat. Tapi kau hanya memberikan lukisanmu pada Lucca. Apa arti diriku sih?" Elis melipat dua tangan di depan dadanya. Matanya menatap tajam pada Diona. Namun tindakannya itu membuat perutnya jadi terlihat. Perut Elis sudah mulai membuncit. Diona tertawa, tapi dia ingat tidak boleh melawan ibu hamil.


"Elis cantik, sayang. Nanti aku buatkan ya lukisan kenangan dariku." Diona jadi ingin membuat satu lukisan untuk Elis. Wajah Elis langsung ceria. Baru di janjikan saja sudah senang. Lucca kembali datang.


"Ibu gendut, mari ku bantu bawa barangmu." Lucca sering menyebut Elis demikian belakangan ini. Tapi Elis tidak marah. Lucca orang yang berjasa baginya.


"Kasihan, suaminya entah di mana." bisik Lucca pada Diona. Mereka berdua terkikik geli. Elis menatap mereka curiga. Diona dan Lucca langsung bersikap biasa. Mereka tidak mau membuat Elis marah, suaminya pengacara handal. Mereka bertiga berjalan pelan menuju keluar. Sebagian barang Diona sudah di bereskan Leana. Lucca memasukan barang Elis ke mobilnya. Jika Justin tidak datang, dia yang mengantar Elis pulang. Barang Diona diambil alih Leana untuk di masukan ke dalam mobil mereka.


"Kita makan yuk, aku lapar." kata Elis pada dua temannya.


"Ibu gendut lapar Di, kita ke cafe dulu ya." ajak Lucca, dia paham wanita hamil akan sering lapar. Diona menggelengkan kepala, baru saja tadi dia melihat Elis makan roti. Lucca mengedipkan sebelah matanya pada Diona untuk setuju.


"Ya sudah, kita ke cafe dulu. Lea kami ke cafe, nanti kau menyusul." kata Diona menurut.


"Baik nona. Saya bereskan barang dulu." Leana sedang menata barang -barang Diona di mobil. Diona, Lucca dan Elis berjalan ke cafe. Mereka memesan pilihan masing-masing. Terlihat dari pesanannya, Elis memang lapar.


"Elis, di mana Justin? Dia tidak menjemputmu." Diona menatap heran.


"Ya biasanya dia sangat perhatian pada istrinya yang gendut." Lucca juga ingin tau.


"Justin ada urusan. Dia sedang bertemu seseorang yang ingin mengajaknya bekerja sama untuk membuka kantor pengacara." jawab Elis sambil menikmati makanannya.


"Jadi kalian akan menetap di sini?" tanya Lucca senang.


"Belum tentu. Justin belum tau apa kerjasama itu menguntungkan." Elis mematahkan semangat Lucca.

__ADS_1


__ADS_2