
Danu pun pulang bersama Wilma. Walau kembali ke Surabaya, tapi Danu akan terus memantau keadaan Diona.
"Di, besok kita akan melihat sekolahmu ya." kata Bayu pada Diona. Mereka baru saja mengantar Danu dan Wilma ke bandara.
"Ok, aku sudah tidak sabar." Diona serasa masih bermimpi.
"Kau mau makan di sini atau kita ke luar?" Bayu melihat tidak ada apa-apa di dapur. Memang sudah beberapa waktu apartemen Paul kosong.
"Keluar saja, agar aku terbiasa dengan lingkungan sekitar." Diona ingin lebih kenal tempat tinggalnya. Bayu memilih Restauran pizza, Diona suka Bayu membawanya ke tempat tersebut. Pertama karena dia suka pizza. Kedua karena tempatnya menyenangkan. Diona betul-betul menikmati makan malamnya. Besoknya sesuai janji Bayu mereka mengunjungi sekolahnya. Diona sangat terkesan. Mungkin karena ini tempat di mana dia akan belajar sesuatu yang sudah diimpikannya sejak lama. Bayu memperkenalkan Diona pada Toby Hanson. Dia yang mengurus para murid baru. Toby seorang yang ramah. Usianya sama dengan Danu. Dia sudah lama bekerja di sana. Toby mengantar Bayu dan Diona berkeliling dan menerangkan ruangan yang ada.
"Senang mengetahui kau akan sekolah di sini Di." Toby mendengar Bayu memanggil Diona seperti itu.
"Terima kasih." Diona merasa hatinya hangat mendengar Toby memanggilnya demikian. Diona merasa di terima di sekolah yang masih asing untuknya.
"Nanti kau akan bertemu teman-teman baru dan bila ada kesulitan temui aku." kata Toby lagi. Tuh kan bagaimana Diona tidak senang.
__ADS_1
"Tenang saja, dia bukan gadis yang menyusahkan." Bayu berkomentar tentang Diona.
"Aku bisa melihat itu." Toby sedang menduga-duga hubungan antara Bayu dan Diona. Dia merasa tidak enak untuk bertanya.
"Nanti sebelum memulai kelasku kau akan di perkenalkan pada gurumu. Dia wanita yang ramah. Dia sepupuku." Toby menerangkan. Diona menduga gurunya nanti ramah seperti Toby.
"Ok, kami tidak akan mengganggu waktu anda lebih lama lagi. Terima kasih untuk bantuannya." kata Bayu mengakhiri pertemuan mereka.
"Sama-sama. Senang bertemu kalian." Toby menduga Bayu bukan pemuda biasa. Auranya mengisyaratkan dia punya uang dan kuasa. Toby mencatat dalam hati untuk memperlakukan Diona dengan baik. Setelah meninggalkan sekolahnya Bayu mengajak Diona berbelanja. Dia membawa Diona ke toko alat lukis dan alat tulis. Bayu sudah tau apa yang di butuhkan Diona. Gadis itu memandang Bayu layaknya superhero. Diona tidak tau apa jadinya dia tanpa Bayu. Terbersit dalam hati Diona andai Aran bisa seperti itu padanya. Tapi Diona segera menghilangkan pikiran itu. Dia jadi merasa tidak menghargai apa yang Bayu lakukan untuknya. Setelah berbelanja keperluan sekolahnya, mereka berbelanja untuk kebutuhan rumah. Bayu berbelanja bahan makanan. Hanya makanan cepat saji dan instan, karena Diona tidak bisa masak. Minuman dan cemilan untuk gadis itu. Bayu tidak tau berapa lama dia bisa menemani Diona. Tapi dia yakin Diona akan baik-baik saja walau sendiri. Setelah lelah belanja mereka pun pulang. Bayu memarkir mobil Paul di tempat parkir.
"Bukankah ini apartemen tuan Paul?" tanya pria yang membantu Bayu.
"Benar, yang di dalam sepupunya." kata Bayu menyebut tentang Diona. Agar mereka tidak curiga pada Diona. Pria itu mengerti. Setelah membantu Bayu pria itu pergi. Bayu mulai menata belanjaan di dapur. Diona tidak sabar untuk bersekolah. Bayu tersenyum melihat itu. Selama dia menghabiskan waktunya dengan Diona, tidak pernah melihat gadis itu bersedih. Mungkinkah upaya mereka berhasil? Semoga saja. Karena lelah mereka memutuskan tidak keluar lagi malam itu. Bayu memesan makanan untuk mereka makan malam. Setelah itu Diona berbaring di kamarnya sambil mendengarkan lagu. Tidak lama kemudian ketika Bayu menengoknya Diona sudah tertidur pulas. Bayu mematikan handphone Diona dan meninggalkan kamar gadis itu. Di luar justru handphone Bayu berbunyi. Asistennya menghubunginya. Ternyata keadaan pekerjaannya tidak baik, ada beberapa kendala yang harus Bayu bereskan. Bayu jadi bingung. Bagaimana dia meninggalkan Diona?
"Di, kamu benar tidak apa aku tinggal?" tanya Bayu keesokan harinya.
__ADS_1
"Tidak apa, aku kan bukan anak kecil." Diona tau Bayu bingung.
"Baiklah, jangan nekat pergi jauh. Tunggulah sampai kau dapat teman di sekolahmu jika ingin pergi-pergi." Bayu benar-benar khawatir. Bayu meninggalkan nomer telpon makanan siap antar untuk Diona.
"Nanti kalau urusanku sudah beres, aku akan kembali." janji Bayu. Diona setuju saja. Pasti dia senang jika Bayu datang lagi. Dia belum tau apakah di sekolahnya dia bisa cepat dapat teman. Dia kan pendiam. Bayu sudah melakukan apa yang dia rasa perlu. Baru sore itu dia meninggalkan Diona. Gadis itu tidak mau ke mana- mana. Jujur Diona masih merasa asing dengan lingkungan tempat tinggalnya. Karena merasa sepi Diona menonton tv. Tapi karena dia tidak tertarik Diona memutuskan untuk tiduran di kamar dan mendengarkan lagu. Pada saat hampir tertidur Diona mendengar ada yang membuka nomer sandi pintu apartemennya. Diona terkejut. Apakah Bayu kembali lagi? Diona bangkit dan mengendap keluar. Ruangan tampak gelap. Diona melihat seseorang memasuki apartemen tapi dia tidak menyalakan lampu. Dari siluetnya Diona tau itu bukan Bayu. Diona merasa takut. Dia mengambil senter karena tidak mungkin baginya mencapai tombol lampu. Dengan segenap keberaniannya Diona menyorotkan lampu senternya pada orang tersebut.
"Siapa kamu?" tanya Diona keras. Lampu senternya tidak hanya membuat orang itu terkejut, tapi juga kesulitan karena silau. Tampak seorang pemuda seumuran Bayu, dia menutup matanya dengan tangannya karena silau.
"Kamu pasti Diona." kata pemuda itu.
"Kamu siapa?" tanya Diona lagi ingin tau.
"Aku Paul teman Bayu " jawab pemuda itu masih kesulitan karena silau. Diona mematikan senternya dan menjatuhkan dirinya karena lemas. Diona tau Paul teman Bayu pemilik apartemen yang dia tempati saat ini. Karena Diona memadamkan senternya Paul tidak kesulitan lagi. Dia pun mencapai tombol lampu dan memencetnya. Ruangan pun menjadi terang. Tampak Diona yang terduduk lemas. Paul tertawa dan menghampiri Diona.
"Kamu pasti ketakutan." Paul membantu Diona berdiri lalu duduk di sofa. Sementara Diona mengamati Paul dalam diam. Pemuda itu setinggi Bayu, tampan dengan rambut hitam dan wajah khas Italia. Tubuhnya tegap di balik jaket hitamnya. Paul mengambilkan Diona segelas air putih. Gadis itu pasti terkejut.
__ADS_1
"Ini minum dulu." Paul menyodorkan gelas itu pada Diona. Gadis itu menerima dan meminumnya. Kali ini Paul yang mengamati Diona. Putih, cantik dengan rambutnya yang coklat tua.