PADA DUA HATI

PADA DUA HATI
Perpisahan


__ADS_3

"Tante sedang apa?" tanya Diona menyapa.


"Membantumu memasukan pakaian ke dalam koper." jawab Wilma sambil tersenyum. Diona memeluk Wilma dari belakang. Tantenya sayang padanya tanpa pamrih. Jika Diona sedih Wilma yang menangis duluan.


"Di, ini punya siapa?" Wilma bertanya sambil memegang mantel Aran. Sebenarnya dia tau itu punya siapa, Wilma hanya ingin menggoda Diona.


"Punya Aran." jawab Diona sambil melepas pelukannya. Diona hanya tersenyum. Karena Aran telah membocorkan rahasianya dia jadi lebih santai.


"Jangan di bawa keluar ya Tante. Aku kan malu." pinta Diona. Wilma tertawa.


"Iya, tidak Tante bawa keluar. Tapi lucu juga kamu jadi seperti ini." Wilma tidak menyangka keponakannya bersikap aneh begitu.


"Mantel itu di tinggalkan Aran ketika pertama kali kami bertemu kembali. Malam ketika Aran menolongku dari Luthan. Kemudian Aran tidak ada kabarnya. Hanya itu benda yang menghiburku." Diona beralasan.


"Tante mengerti, jika kita rindu pada seseorang dan tidak bisa mengatakannya pasti demikian." Wilma pernah muda, dia paham sikap Diona.


"Kita ngobrol yuk di luar." Wilma mengajak Diona keluar dari kamar. Di ruang tamu Danu dan Aran tengah bicara dengan serius.


"Om Danu dan Tante Wilma besok pulang Di " kata Aran ketika melihat Wilma dan Diona datang.


"Kami harus segera pulang, ada pekerjaan yang tidak bisa di tunda. Nanti kamu menyusul bersama Aran." Danu membenarkan perkataan Aran.


"Hati-hati, ingat pulang tepat waktu. Banyak yang harus di persiapkan di Surabaya." Wilma mengingatkan. Khawatir Diona menunda kepulangannya karena bersama Aran.

__ADS_1


"Jangan khawatir, kami segera pulang ko." Aran meyakinkan Danu dan Wilma. Aran pun pamit kembali ke hotel. Besok pagi dia akan kembali untuk mengantar Danu dan Wilma ke bandara. Malam itu di gunakan Danu, Wilma dan Diona untuk bercakap-cakap.


"Tidak menyangka sebentar lagi kamu akan meninggalkan kami." kata Danu penuh haru. Menjaga keponakannya hingga akhirnya menikah, Danu sadar waktu cepat berlalu.


"Tapi kami senang Di, kamu bahagia. Semoga kamu tetap bahagia seperti itu." Wilma lebih terharu lagi. Melepas Diona bukan hal yang mudah untuknya. Tapi jika keponakannya bahagia Wilma rela.


"Semoga Di bisa seperti om dan tante, awet terus." tambah Diona. Dia senang melihat pernikahan om dan tantenya, walau tidak ada anak tapi mereka tetap mesra dan jarang bertengkar. Mereka berusaha saling melengkapi tanpa saling menyalahkan siapa yang tidak mampu memberi keturunan.


"Begitu ya, tidak tau nih om di kasih obat apa sama tantemu." kelakar Danu, dia melirik Wilma jail.


"Tidak di kasih obat, tapi setiap makanan dan minumanmu aku jampi-jampi mas." balas Wilma kesal. Danu dan Diona tertawa.


"Tapi aku rela ko sayang, di jampi-jampi. Cantik sih." Danu merayu. Wilma tidak bisa menjawab. Dia tersipu malu.


"Sudah umur segitu masih suka gombal. Apa Aran suka gombal Di?" Wilma mengomentari Danu juga penasaran pada Aran.


"Hati-hati kalau pulang nanti." pesan Dewanti. Entah mengapa dia mengatakan itu. Mungkin karena kebiasaan orangtua pada umumnya.


"Iya bunda." jawab Aran menenangkan. Karena semalam sudah memberi wejangan pada keponakannya, Danu dan Wilma tidak berpesan lagi. Mereka bersiap untuk masuk ke dalam pesawat. Akhirnya keluarga kembali pulang ke Indonesia.


"Ayo kita kembali, kita punya janji kan." kata Aran pada Diona. Perkataan Aran memang benar, mereka punya janji pertemuan dengan sahabat-sahabat Diona. Perpisahan yang mereka rencanakan. Diona dan Leana pun mengikuti Aran ke mobil.


"Ada yang mau kau beli Di, sebelum bertemu mereka?" tanya Aran di perjalanan.

__ADS_1


"Rasanya tidak ada, semua sudah siap." Diona menjawab sambil menoleh pada Leana. Gadis itu mengangguk, membenarkan perkataan Diona. Cenderamata yang Diona siapkan untuk sahabatnya sudah siap.


"Ok kalau begitu kita langsung ke lokasi ya." Aran memutuskan dan kembali konsentrasi pada perjalanan mereka. Diona sendiri sudah melayang pikirannya, membayangkan perpisahannya dengan teman-temannya. Walau hatinya juga senang dapat bersama Aran kembali. Tempat yang mereka tuju adalah Restaurant Paul. Di sana sudah di sediakan tempat untuk mereka berkumpul. Tiba di sana ternyata teman-temannya sudah datang.


"Maaf terlambat, kami dari bandara." kata Diona dengan menyesal.


"Tenang Di, kami mengerti." Kulkas menjawab sambil menatap Aran. Aneh rasanya sekarang Diona selalu di kawal pria itu. Kalau hanya Leana mereka sudah terbiasa. Diona menggandeng Aran untuk duduk bersamanya.


"Hai, senang bertemu dengan kalian lagi." Aran menyapa dan tersenyum ramah.


"Ini pertama kalinya kau bergabung bersama kami, tapi semoga bukan yang terakhir kali." kata Elis penuh harap. Dia maklum Diona sekarang sudah ada yang memiliki.


"Tentu saja tidak, aku akan mendukung jika Di ingin berkumpul dengan kalian lagi." janji Aran.


"Benar kita akan ke Italy lagi?" tanya Diona penuh harap. Teman-temannya masih akan tinggal di Italy.


"Tentu saja, kapan pun kau mau." demi menyenangkan tunangannya Aran berkata demikian.


"Kalian sudah berkumpul, kami akan menghidangkan makanan." Paul datang menyela. Dia tersenyum tapi kemudian dengan canggung menatap Aran. Belum terbiasa dengan pria yang di cintai Diona itu. Aran tau Paul menjaga jarak dengannya.


"Terima kasih aku bisa mencoba menu di restauranmu." kata Aran ramah pada Paul. Dia tidak ingin ada jarak dengan teman-teman Diona. Apa lagi Paul sudah menjaga Diona selama ini. Walau Aran tau Paul menyayangi Diona. Ada sinar kecewa di mata Paul ketika Diona meninggalkannya. Tapi Diona tidak menyadari itu.


"Aku senang Diona bersamamu. Jaga dia baik-baik, walau aku tau bisa melakukannya." balas Paul tulus. Aran sudah membuktikan bisa melindungi Diona. Paul sendiri malah tidak ada di tempat waktu itu. Mereka berdua terlibat percakapan yang hangat. Aran menawarkan pada Paul untuk berkunjung ke Indonesia. Paul setuju meski tidak tau kapan. Makanan telah di hidangkan, sambil terus bersenda gurau mereka menikmati hidangan. Diona pun membagikan cinderamata bagi para sahabatnya. Justin datang menyusul dan bergabung bersama Aran dan Paul.

__ADS_1


"Senang ya kalau masih sekolah." kata Justin memandang istri dan teman-temannya. Keceriaan mereka menyegarkan mata.


"Aku sih tidak punya ide untuk itu, yang aku tau hanya kerja saja. Tapi melihat mereka aku jadi terhibur." kata Paul jujur. Paul memang ingin membangun karirnya.


__ADS_2