
Ternyata mereka baru bisa berangkat satu jam lagi. Bayu membawa Mitsi untuk duduk dan menunggu di tempat yang banyak orangnya. Agar mereka tidak mudah di kenali. Mitsi menunduk memperhatikan ponselnya. Sedangkan Bayu sibuk memperhatikan ke sekeliling mereka. Semoga saja arah dan tujuan mereka berbeda dengan sosok yang di khawatirkan Mitsi.
"Mitsi apa kau melihat orang itu di sekitar sini?" tanya Bayu pada istrinya, karena Mitsilah yang tau orangnya. Mitsi mengangkat wajahnya menatap ke sekeliling.
"Tidak ada, tapi aku khawatir pria yang berbaju hitam di ujung sana anak buahnya." Mitsi menunjuk dengan dagunya. Bayu melihat arah yang di tunjuk Mitsi. Ada seorang pria dengan jaket hitam dan mengenakan kacamata hitam pula. Tingkahnya mencurigakan.
"Kau yakin sayang, orang itu baru datang ke bandara bukan akan meninggalkan bandara?" tanya Bayu lagi.
"Yakin, orang itu datang bersamaan dengan kita. Tapi entah mau ke mana." jawab Mitsi tanpa ragu.
"Kau tunggu di sini. Tundukan kepalamu." perintah Bayu yang bangkit berdiri. Walaupun bingung Mitsi menurutinya. Bayu melangkah agak jauh, dia menghubungi seseorang dengan ponselnya. Setelah itu Bayu berjalan menuju tempat pemesanan tiket. Bayu membatalkan tiketnya. Terlalu beresiko menunggu satu jam di sana. Bayu pun kembali menghampiri Mitsi.
"Ayo sayang, kita pergi." Bayu menarik Mitsi lembut untuk meninggalkan tempat itu. Ternyata mereka pergi menggunakan pesawat pribadi. Tidak harus menunggu lama mereka meninggalkan Italy.
Danu dan Wilma tiba lebih dulu. Tugas Rianto bertambah. Untung saja bukan suasana liburan hingga tidak sulit untuk membooking kamar hotel. Danu dan Wilma datang ke rumah sakit. Mereka sudah tau alasan Aran dan Diona tertahan di Singapure. Dengan rasa haru Wilma memeluk Leana.
"Terima kasih kamu sudah menolong Di Lea." ucap Wilma tulus.
"Sudah tugas saya." jawab Leana rendah hati.
"Tapi kamu berani Lea. Saya kagum sama kamu." puji Danu sambil mengacungkan ibu jari.
"Mungkin karena tugas saya menjaga nona maka saya tidak takut. Apalagi dengan mudah saya bisa mengikuti mereka. Saya juga beruntung bertemu dua pria penolong yang baik. " Leana tidak menerima pujian itu untuk dirinya sendiri.
"Cepat sembuh ya Lea, kami semua akan menjagamu." kata Wilma yang di sambut dengan anggukan oleh Dewanti. Para pria pun meninggalkan ruang rawat. Mencari tempat untuk duduk bersama. Meninggalkan para wanita yang sibuk mengobrol. Mereka duduk dan menikmati kopi di sebuah cafe tepat di sebelah rumah sakit.
"Kita jadi kumpul di rumah sakit." ujar Danu membuka percakapan.
"Mau bagaimana lagi, keadaan memaksa " balas Rustam.
__ADS_1
"Jadi pernikahan kalian di undur Aran?" tanya Danu pada Aran yang masih diam.
"Di tidak mau meninggalkan Leana, aku setuju om." jawab Aran. Danu terdiam mendengar itu. Wajar jika Diona begitu. Danu bisa memahami.
"Sebentar lagi Leana sudah bisa duduk di kursi roda. Mengapa pernikahan tidak di lakukan di sini saja?" usul Danu. Aran dan Rustam tersentak.
"Om setuju pernikahan di lakukan di sini?" Aran tidak percaya.
"Mengapa tidak?" Danu meyakinkan.
"Apa tidak repot di sini?" tanya Rustam bimbang.
"Sama saja mas, di rumah repot di sini juga repot. Malah di rumah akan lebih repot, di sini kan bisa lebih sederhana dan bermakna." perkataan Danu masuk akal.
"Betul juga Aran. Ayah rasa di sini akan lebih praktis." Rustam setuju.
"Berarti kita akan adakan lamaran di sini, lalu pestanya ?" tanya Aran bingung.
"Lagipula kan kamu yang akan menikah." tambah Rustam ikut cuci tangan.
"Biar Aran pikirkan dulu ya, baiknya bagaimana." Aran jadi merasa tertantang. Walau dia pernah menikah tapi kali ini adalah pernikahan yang dia betul-betul inginkan.
"Tenang saja, kami akan dukung kamu." Danu menenangkan. Dia yakin Aran akan punya rencana yang akan membahagiakan semua.
"Ayah jadi punya kesempatan untuk menebus kesalahan yang dulu Aran. Jangan ragu jika kamu punya kesulitan." Rustam menatap putranya.
"Sebentar, sebentar. Jadi tegang nih. Berarti lamaran juga akan di lakukan di sini kan?" tanya Aran yang masih terus berpikir.
"Benar, kami tidak keberatan. Jawabannya kan akan tetap sama. Lamaranmu di terima." jawab Danu. Menurutnya itu hanya satu prosesi saja.
__ADS_1
"Kalau begitu bagaimana jika lamaran di lakukan di ballroom hotel saja?" tanya Aran pada Danu.
"Boleh saja, biar kamu yang menyediakan prasmanannya. Kalian urus saja hantarannya." jawab Danu, dia bukan orang yang kaku.
"Apa tidak sebaiknya semua biar Aran saja yang mengurusnya?" tanya Rustam pada Danu.
"Tidak mas, kami masih punya tanggung jawab selaku pengganti orangtua Di." Danu tidak ingin keponakannya di pandang remeh. Diona adalah pewaris kekayaan orangtuanya.
"Baiklah, cukup itu dulu ya. Soal pernikahan biar Aran yang pikirkan lagi." ucap Aran, dia tidak mau tergesa-gesa.
"Setuju Aran. Pikirkan dengan baik ." Danu sudah senang dengan acara lamaran bagi keponakannya.
"Kalau begitu kita perlu mengabarkan sanak saudara untuk menghadiri acara lamaran." Rustam berkesimpulan.
"Silahkan mas. Kalau dari kami cukup saya dan Wilma saja. Pada acara pernikahannya nanti baru kami akan mengundang." Danu menyadari dia dan Wilma tidak dekat dengan sanak saudara mereka. Danu tidak mau di pusingkan dengan kedatangan mereka. Tapi Danu tetap menghargai mereka dengan mengundang di hari pernikahan.
"Jadi sekarang kita bisa memberitahu para nyonya, supaya mereka juga bisa membuat persiapan." kata Rustem mengakhiri percakapan.
"Ayo kita kembali ke rumah sakit." kata Aran, dia bersemangat untuk memberitahu semua. Pernikahan tetap di laksanakan. Ternyata yang lain menerima berita tersebut dengan gembira. Terutama Leana. Dia bisa menyaksikan pernikahan Aran dan Diona. Mereka pun membagi tugas. Para pria mengurus tempat dan undangan. Para wanita mengurus pernak-pernik seperti hantaran dan busana untuk lamaran dan pernikahan. Selain itu memilih menu hidangan di hotel.
"Dek, kita pergi untuk membeli hantaran dan busana?" tanya Dewanti pada Wilma.
"Mbak saja yang pergi bersama Di. Saya akan menunggui Leana " tolak Wilma halus.
"Tidak apa-apa kamu menunggu di sini dek?" Dewanti merasa sungkan. Leana itu tanggung jawabnya.
"Tidak apa mbak." Wilma tersenyum tulus.
"Kalau begitu ayo Aran, Diona kita berangkat. Leana sama Tante Wilma dulu ya." kata Dewanti, membahasakan Tante untuk Wilma pada Leana. Itu mengartikan Leana istimewa di pandangan Dewanti. Leana sendiri merasa haru. Harusnya Wilma sibuk mempersiapkan hari istimewa keponakannya. Namun rela menemaninya.
__ADS_1
"Tidak apa kalau Tante ada yang harus di urus." kata Keana pada Wilma, dia tidak mau dirinya menjadi hambatan. Wilma tersenyum mendengar perkataan Leana itu.