
"Aku harus pergi untuk beberapa hari. Ada undangan penting dari kolegaku." Kata Aran malam itu pada istrinya.
"Pasti aku tidak boleh ikut." kata Mhina tidak suka.
"Kau mau pingsan lagi dan menginap di rumah sakit?" tanya Aran kesal. Aran bisa saja mengajak Mhina, tapi tingkah istrinya belum membuatnya lega. Mhina masih saja terus bertemu Luthan.
"Aku tau, aku akan diam di rumah." Mhina berkata demikian tapi pikirannya sibuk merencanakan sesuatu. Merasa Mhina berjanji akan tetap diam di rumah, Aran pun tidak berkata apa pun lagi. Dia pun pergi beristirahat. Besok pagi di meja makan Aran tengah menikmati sarapannya ketika Mhina muncul.
"Aran kapan kau berangkat?" tanya Mhina yang memperhatikan suaminya. Aran bertambah dewasa dan tampan. Sungguh beruntung Mhina bisa mendapatkan Aran.
"Siang ini aku berangkat." jawab Aran singkat.
"Hati-hati, beri kabar jika akan pulang nanti." Mhina berpesan dengan manis.
"Kenapa?" tanya Aran curiga. Belum pernah Mhina minta di beri kabar jika dia pulang dari luar kota.
"Aku akan menyiapkan kejutan untukmu." Mhina berbohong. Dia bukan istri yang menggemaskan seperti itu, dengan memberikan kejutan manis pada suaminya. Mhina istri yang sibuk akan dirinya sendiri. Aran akan melihat kejutan apa yang akan Mhina beri nanti. Mhina pun mengantar Aran pergi. Setelah Aran pergi Mhina menyuruh para pekerja di rumah libur. Mereka boleh pergi wisata atau pulang kampung juga boleh. Sumi bingung, tadi pagi majikannya sudah berpesan untuk mengawasi rumah dengan baik. Kalau begitu dia tidak bisa menjalankan tugasnya dengan baik. Karena takut Mhina marah akhirnya mbok Yem dan Sumi pergi jalan-jalan dengan diantar Parjo supir di rumah. Hanya satpam pintu saja yang Mhina biarkan di rumah. Setelah rumah kosong Luthan pun datang menjemput Mhina. Mereka pergi bersenang-senang di luar. Mhina sengaja meliburkan Ara pekerjanya agar kepergiannya tidak di ketahui. Mbok Yem dan Sumi pergi ke tempat yang mereka ingin mumpung boleh keluar. Parjo menurut saja karena dia sudah sering ada di luar rumah. Ketika hari sudah sore, mereka bingung akan ke mana. Jika pulang mereka akan di marahi nyonya. Akhirnya mbok Yem mengusulkan mereka pulang ke rumah orangtua Aran dan menginap di sana. Besok pagi mereka baru kembali ke rumah. Mereka pun tiba di rumah besar bak istana. Ketika mereka datang menarik perhatian Dewanti, ibu Aran yang baru saja pulang.
__ADS_1
"Ada apa ini?" tanya Dewanti heran.
"Nyonya besar. Kami mau menginap di sini." kata mbok Yem sopan. Sumi bersembunyi di belakang mbok Yem. Dia takut pada Nyonya besar.
"Masuk." seru Dewanti, dia merasa ada yang tidak beres. Tiba di dalam mereka berbaris menghadap nyonya besarnya. Parjo juga ikut karena dia juga tidak mau pulang.
"Bilang pada saya, ada apa sebenarnya?" titah Dewanti yang sudah duduk manis.
"Nyonya Mhina memberi kami libur hari ini. Jadi kami bisa pergi jalan-jalan. Tapi karena kami bingung mau ke mana ya mau nginep di sini saja nyonya. Besok pagi kami pulang." jawab mbok Yem.
"Mhina suruh kalian libur? memangnya dia bisa mengerjakan keperluannya sendiri di rumah?" Dewanti hafal betul kemalasan menantunya. Tidak mau berbuat apa-apa di rumah walau masih sanggup mengerjakannya. Dewanti memang tidak menyukai Mhina. Sejak pertama kali mengenal gadis itu Dewanti sudah anti. Sayangnya suaminya Rustam menyukai Mhina dan memilih Mhina menjadi menantunya. Karena Aran setuju Dewanti tidak bisa berbuat apa-apa. Tapi dia tetap tidak bersikap manis pada Mhina.
"Ya sudah yang lain boleh istirahat di belakang. Tapi mbok Yem tetap di sini. Saya mau bicara." kata Dewanti tegas. Parjo dan Sumi pun pergi ke belakang. Sedangkan mbok Yem menghampiri Dewanti untuk bicara.
"Duduk mbok. Bilang dengan jujur pada saya, apa yang terjadi di rumah Aran. Mbok orang yang saya percaya, sebab itu saya tempatkan di rumah Aran." kata Dewanti tegas. Mbok Yem duduk dengan takut. Perasaannya antara hidup dan mati. Karena apa yang di ceritakan bukan hal yang umum pada rumah tangga biasa. Jika pada Aran mbok Yem masih bisa menahan diri agar rumah tangga Aran tidak rusuh. Tapi pada Dewanti lain lagi. Mbok Yem tidak berani berbohong atau menutupi. Jadi dengan jujur dia menceritakan semua yang terjadi di rumah Aran. Dewanti mengetahui itu terkejut. Aran selama ini tidak pernah bercerita tentang rumah tangganya. Tapi ketika tau akan hal ini jelas Dewanti marah. Rasa tidak sukanya pada Mhina semakin besar.
"Ya sudah mbok istirahat di belakang. Besok pagi baru kembali ke rumah Aran." kata Dewanti pada mbok Yem. Wanita tua itu pun segera pergi ke belakang, di mana dia telah di tunggu Sumi dan Parjo.
__ADS_1
"Bagaimana mbok? Nyonya besar bilang apa?" tanya Sumi.
"Nyonya besar bilang kita istirahat saja di sini. Besok pagi baru pulang." jawab mbok Yem kalem. Sumi dan Parjo lega. Mereka pun beranjak untuk beristirahat. Sedangkan Dewanti di dalam sangat marah. Dia yakin Mhina tidak ada di rumah. Dia harus mengatur waktu untuk bicara dengan Aran. Kalau bicara dengan Rustam suaminya percuma. Suami keras kepalanya itu harus di sodorkan bukti. Tidak bisa hanya dengan kata-kata. Dewanti pun bersabar sampai Aran pulang nanti. Dia akan memanggil dan bicara pada putra tersayangnya itu. Mhina yang pergi bersama Luthan mengunjungi spa. Dia memanjakan diri dengan di tunggu oleh Luthan. Setelah selesai dengan spa, mereka melihat-lihat toko pakaian. Ada gaun yang menarik perhatian Mhina, dia pun mencobanya.
"Luthan, bagus tidak?" tanya Mhina memamerkan baju itu.
"Bagus, pakai saja baju itu. Jangan di tukar lagi." kata Luthan. Dia pun membayar baju itu. Mereka pun pergi makan karena sudah kelaparan.
"Habis dari sini mau ke mana?" tanya Luthan pada Mhina.
"Pulang ya." kata Mhina singkat.
"Masa sudah cantik begitu pulang." Luthan tidak rela secepat itu mereka pulang. Lagi pula di rumah tidak para pekerja, mereka harus melakukan segalanya sendiri.
"Habis ke mana?" tanya Mhina bingung.
"Mumpung hari ini bisa keluar, kita ke tempat yang biasa aku kunjungi mau?" tanya Luthan manis.
__ADS_1
"Mau." jawab Mhina. Ke mana saja Mhina mau. Dia bosan di rumah. Setelah selesai makan mereka pun pergi. Rupanya tempat yang sering di kunjungi Luthan adalah club'. Di mana dia sering berkumpul bersama temannya.