PADA DUA HATI

PADA DUA HATI
Perhatian Keluarga


__ADS_3

"Aku tidak bisa berkata apapun kalau sudah begini. Kami terima dan hargai keinginan baikmu. Kamu juga Agam, terima kasih ya." Aran menatap Agam sambil tersenyum.


"Ya Aran aku sekarang juga temanmu." Agam menepuk bahu Aran. Mereka berdua pun melanjutkan langkah mereka sedangkan Aran kembali ke ruang Diona.


"Di Luthan ingin menebus kesalahannya dulu dengan menjagamu dan Leana." kata Aran pada Diona.


"Aku rasa dulu Luthan berperangai buruk karena Mhina. Sekarang dia sudah sadar dan menjalani hidup dengan baik." kata Diona tentang Luthan.


"Begitulah, cinta bisa membutakan seseorang. Kamu jangan begitu ya Di, begitu cintanya sama aku sampai rela berbuat yang tidak baik." Aran mengedipkan sebelah matanya menggoda Diona.


"Ich, percaya diri sekali ya anda." Diona menyambut godaan Aran.


"Aku beritahu om Danu dulu ya. Khawatir dia menunggu kita." Aran beranjak untuk duduk di sofa. Diona mengangguk tanda mengerti. Matanya menatap Keana dengan sedih. Aran memberitahu Danu kalau mereka tertahan di Singapure karena peristiwa buruk yang terjadi. Danu terkejut tentu saja. Tapi dia belum bisa menyusul ke Singapure.


"Kabarkan kalau kalian akan pulang atau belum bisa pulang Aran. Biar kami bisa memutuskan apa yang harus kami lakukan." kata Danu setelah Aran menjelaskan kalau Diona baik-baik saja. Sedangkan Dewanti yang khawatir Aran akan lama di Surabaya menghubungi putranya untuk mengingatkan. Panggilan Dewanti masuk setelah Aran memutus kontak dengan Danu.


"Halo bunda, kebetulan bunda menghubungi aku." kata Aran yang baru sadar seharusnya dia juga memberi tau orangtuanya.


"Bunda cuma mau tanya, kamu berapa hari di Surabaya nak?" tanya Dewanti lembut. Dia mengira Aran sudah di Surabaya.

__ADS_1


"Kami masih di Singapure bunda." Aran pun menceritakan yang terjadi pada Dewanti.


"Nak, kalau kalian akan pulang untuk mengurus pernikahan Leana jangan di tinggal sendirian ya. Anak itu sudah tidak punya siapa-siapa. Biar bunda yang ke sana untuk menjaganya." pinta Dewanti dengan khawatir. Hal itu mengingatkan Aran bahwa mereka harus melakukan persiapan pernikahan. Dia harus bicara dengan Diona. Maka Aran menghampiri Diona setelah bicara dengan bundanya.


"Di setelah kau sehat kita bisa kembali untuk mempersiapkan pernikahan. Bunda yang akan menunggu Kea untuk sementara." Aran berkata dengan lembut.


"Aku tidak mau pulang tanpa Leana Aran." Diona menyentuh tangan Aran, meminta pengertian. Aran diam sejenak, dia haru membuat keputusan.


"Baiklah, kita akan kembali setelah Kea sembuh." Bagi Aran menunda pernikahan tidak masalah, karena alasan Diona jelas.


"Leana sudah begitu besar berkorban untukku. Aku tidak akan meninggalkannya." Diona berkata penuh haru pada Aran.


"Aran, kami bawa makanan untukmu. Bagaimana keadaan Leana?" Luthan menyapa Aran yang berdiri di luar ruang perawatan.


"Leana sudah bangun, mereka sedang makan di dalam di bantu perawat. Setelah ini dia harus minum obat." Aran bosan di dalam dan takut mengganggu, maka dia menunggu di luar. Selain itu dia juga tengah menunggu Rian.


"Baguslah kalau dia sudah bangun. Semoga dia cepat sembuh." kata Agam.


"Di juga boleh pulang. Aku sudah memesan kamar hotel, Di nanti bisa tidur di sana. Dia menolak pulang ke Indonesia tanpa Leana." jelas Aran sambil menikmati makanannya.

__ADS_1


"Diona pasti bisa merasakan apa yang telah di lakukan Leana. Kami bisa membantumu selagi kami mampu." Luthan tetap dengan niatnya.


"Terima kasih, keluargaku akan datang. Mereka akan membantuku menjaga Leana." Aran perlu mengatakan itu. Khawatir Luthan merasa tidak nyaman bertemu keluarganya.


"Kalau begitu kami akan pergi begitu keluargamu datang." kata Luthan. Benar dugaan Aran, Luthan tidak nyaman bertemu keluarganya.


"Aku mengerti, kalian juga pasti punya kegiatan yang harus di lakukan. Jangan terhambat karena kalian membantuku." Aran paham dengan keputusan Luthan. Rianto datang dengan laporan hasil kerjanya. Koper-koper sudah di bereskan. Kamar hotel juga sudah di dapat. Termasuk untuk Rustam dan Dewanti. Rian pun pamit untuk makan sebentar.


"Cepat juga kerja asistenku ya." kata Agam memuji.


"Ya dia banyak membantuku di kantor." Aran mengakui. Mereka mengobrol hingga polisi datang untuk bertemu Leana. Mereka harus meminta keterangan gadis itu. Aran mengantar dua polisi itu masuk ke ruang perawatan.


"Lea, ada dua polisi yang akan meminta keterangan darimu." kata Aran pada Leana yang baru selesai makan. Wajah Keana masih pucat, tapi dia bisa dengan lancar menceritakan kronologi kejadian itu. Beberapa pertanyaan polisi juga bisa di jawabnya.


"Baiklah, sudah lengkap semua. Kami tidak ingin mengganggu waktu istirahat Anda. Semoga cepat sembuh." dua polisi itu pun pamit. Di luar Aran bertanya tentang perkembangan kasus itu.


"Kami sudah menghubungi pihak Italy. Mereka memang sedang mencari dua orang ini." jawab salah satu polisi itu.


"Jadi mereka hanya berdua?" tanya Luthan.

__ADS_1


"Ya hanya berdua, mereka melarikan diri entah bagaimana caranya. Mereka masih tutup mulut. Pihak Italy sudah meminta mereka untuk di pulangkan karena harus menjalani hukuman dan tentunya akan lebih berat karena melarikan diri. Jika pihak kalian tidak akan menuntut kami akan memulangkan mereka. Tapi jika kalian menuntut prosesnya akan di lanjutkan." kata polisi itu lagi.


__ADS_2