PADA DUA HATI

PADA DUA HATI
Kejutan Sang Pengantin Pria


__ADS_3

Bagi Danu dan Wilma Diona adalah harta berharga mereka. Orangtua tetaplah orangtua, tidak ada batasannya dalam membimbing anak mereka. Tidak ada istilah cuti atau pensiun. Hingga akhirnya tidak berdaya nanti dan hidup dalam pengasuhan anak. Itulah yang akan dilakukan Danu dan Wilma sebagai pengganti orangtua Diona. Selesai acara tanda tangan, acara foto bersama. Keluarga inti berfoto terlebih dahulu setelah itu keluarga besar, teman dan undangan. Ucapan selamat pun mengalir pada pasangan itu. Tidak lupa mereka mendoakan agar pernikahan itu terus bertahan dan cepat memiliki anak. Diona senang acara pernikahannya tidak formal, dimana dia harus berdiri dalam waktu lama. Di sini dia bebas untuk duduk, berfoto atau bercengkerama dengan yang lain. Banyak yang memuji bunga tangannya yang cantik. Diona semakin bersemangat memamerkannya. Aran tersenyum melihat tingkah istrinya.


"Di, kita foto di luar yuk." ajak Aran menggandeng tangan Diona. Dengan patuh Diona mengikuti Aran. Dia juga penasaran foto seperti apa yang akan mereka buat. Foto di dalam ruangan dengan dekor cantik tentu sudah biasa. Tapi foto dengan latar belakang lautan di malam hari tentu tidak biasa. Ternyata telah di sediakan tempat untuk mereka berfoto. Foto yang mereka buat adalah perpaduan antara gelap dan terang. Gelapnya lautan dan terangnya lampu kapal. Mereka di pandu sang fotografer Diksan. Pria ini hasil browsing Aran di malam hari. Sudah lama Aran mendengar dari relasinya jika Diksan sang fotografer yang berdarah Hongkong ini sangat jago. Aran ingin membuktikannya. Dan hari ini dia baru berhadapan langsung dengan Diksan.


"Sudah ya ?" tanya Diona setelah diambil gambarnya.


"Belum Di, masih ada yang lebih seru lagi." kata Aran bersemangat. Aran menarik Diona ke arah sekoci. Kapal pesiar itu di lengkapi sekoci.


"Ayo aku bantu naik." kata Aran pada Diona. Gadis itu langsung pucat. Diona benar takut.


"Jangan takut , tidak apa-apa." bujuk Diksan. Rustam dan Danu yang ikut sesi foto di luar mendekat. Mereka ikut mengawasi karena pengambilan foto yang berbahaya. Mereka tidak mengatakannya pada istri-istri mereka, khawatir jadi ramai. Selain mereka ada James kapten kapal pesiar yang ikut mengawasi, karena penumpang kapal adalah tanggung jawabnya. Diona menyerahkan bunga tangannya pada Danu. Bunga tangan itu bagai harta baginya. Diona tidak mau membawanya. Di bantu Aran Diona masuk ke dalam sekoci. Di susul Aran. Perlahan sekoci di turunkan setengah badan kapal. Lampu di arahkan pada sekoci itu, Aran dan Diona di minta melihat ke atas, pada kamera yang di gunakan Diksan. Wajah takut Diona justru membuat foto itu lebih hidup. James berdecak kagum dengan ide Diksan. Walau begitu dia sudah menyiapkan beberapa awak kapal jika terjadi sesuatu. Selesai di foto sekoci di turunkan lagi hingga di atas air.


"Aran, aku takut." kata Diona melihat gelapnya air laut.


"Tenang Di, ada aku." Aran menenangkan sambil mengayuh sekoci perlahan. Sekoci berhenti pada titik yang diinginkan Diksan. Dari atas kapal Diksan mengambil beberapa foto. Lalu Diksan menaiki sekoci yang lain bersama satu awak kapal. Sekoci itupun di turunkan hingga ke atas air. Awak kapal mendayung sekoci hingga melewati sekoci Aran. Tidak jauh kemudian sekoci berhenti. Dengan sinar lampu yang tidak terlalu terang Diksan mengambil foto Aran dan Diona.


"Benar-benar tampak sepasang pengantin yang melarikan diri." komentar Rustam.

__ADS_1


"Ya mereka tidak mau bayar biaya pesta jadi melarikan diri." tambah Danu. James tertawa mendengarnya. Puas mengambil foto Diksan pun meminta mereka untuk merapat kembali ke kapal. Perlahan lahan sekoci di naikan kembali ke atas.


"Tuan Aran bagaimana jika anda berfoto menggunakan seragamku?" tanya James ketika Aran turun dari sekoci.


"Wah boleh juga ide anda." sambut Diksan senang.


"Boleh juga." kata Aran, sesi fotonya jadi tambah menarik.


"Tolong ambilkan seragam kapten yang baru di kamarku." kata James pada anak buahnya. Segera hal itu di laksanakan. Tidak lama Aran menerima seragam itu.


"Sebentar ya Di, aku ganti baju." kata Aran pada Diona yang mulai menikmati kegiatan itu. Untung ukuran tubuh James dan Aran sama. Seragam itu pas di tubuh Aran. Segera dia kembali menghampiri Diona. Pemotretan pun berlanjut.


"Harusnya di balik, kapten James menggunakan tuxedo, jadi seperti pengantin pria yang kehilangan pengantin wanita." usul Rustam.


"Tidak, tidak. Saya tidak mau jadi pihak yang kalah." kata James menolak. Dia khawatir hasil foto akan kurang bagus jika dia ikut Serta.


"Selasai, pengantin boleh kembali ke tempat perjamuan." kata Diksan menyudahi pemotretan di luar.

__ADS_1


"Kamu sama ayah dulu ya Di. Aku ganti baju." Aran berkata sambil membantu Diona keluar dari sekoci.


"Terima kasih kapten untuk seragamnya. Pemotretan jadi lebih seru." ucap Aran sambil menepuk bahu James.


"Saya yang terima kasih. Anda pasangan pertama yang membuat kegiatan menarik. Lihat para awak kapal jadi terhibur." kapten James menunjuk para awak kapal yang melihat pemotretan itu sambil tersenyum. Aran pun berlalu untuk mengganti bajunya.


"Apa yang anda lakukan mengejutkan. Luar biasa, baru pertama kali saya melihatnya. Mungkin kita bisa bekerjasama. Akan saya promosikan pada customer yang lain." kata James yang menghampiri Diksan.


"Boleh saja, ini kartu nama saya." Diksan tentu saja senang dan menyerahkan beberapa kartu namanya. Danu memberikan kembali bunga tangan pada Diona dan membantu gadis itu merapihkan gaunnya. Rustam memuji menantunya yang berani.


"Sudah rapihkan?" tanya Aran yang keluar setelah berganti baju.


"Ya sudah rapih, ayo masuk lagi ke dalam di luar dingin." jawab Rustam sambil menepuk bahu putranya. Dia lega acara pemotretan sudah selesai. Mereka kembali ke acara perjamuan. Diksan masih mengambil foto yang dianggapnya menarik. Hingga acara pun selesai. Aran menggandeng Diona menuju kamar mereka. Tiba di kamar Aran memeluk Diona erat.


"Kalau tadi aku meluknya hanya bisa sebentar. Sekarang akan aku peluk sampai pagi." kata Aran penuh tekad.


"Sudah kita kan cuma berdua, kau bisa melakukannya lagi nanti. Mau ganti baju atau mandi?" tanya Diona sambil melepas pelukan Aran. Dia ingin mengganti gaunnya yang mulai terasa berat.

__ADS_1


"Aku mau mandi biar terasa segar." dengan malas Aran melepas pelukannya. Di ciumnya pipi Diona lalu masuk ke dalam kamar mandi. Di tinggal Aran Diona memasukan bunga tangannya ke dalam box. Benda itu sangat berharga baginya. Diona menuju meja rias, lalu duduk di sana. Perlahan dia melepas hiasan rambutnya. Memasukkannya ke dalam satu kotak yang memang tempatnya.


__ADS_2