PADA DUA HATI

PADA DUA HATI
Kejutan Manis


__ADS_3

"Segeralah tidur Di, aku akan tetap di dalam kamar untuk bekerja." kata Bayu pada Diona. Mereka masih ada di dalam lift. Diona memonyongkan bibirnya. Bukan Bayu namanya kalau bisa betul-betul bersantai. Bayu tertawa melihat Diona. Mereka menuju kamar masing-masing. Diona mengikuti apa yang Bayu katakan. Dia lelah saat ini maka dia pun langsung tertidur. Bayu masih berkutat dengan laporan yang di berikan asistennya. Termasuk tentang sekolah Diona. Masih ada waktu bagi gadis itu sebelum sekolahnya di mulai. Mereka masih bisa bersantai dan wisata. Laporan yang di dapatnya tentang Diona di sampaikan Bayu pada Danu. Tidak lama kemudian Danu menghubungi Bayu. Mereka terlibat percakapan beberapa waktu. Entah apa yang di bicarakan yang jelas tentang Diona. Setelah selesai Bayu pun memutuskan untuk tidur. Keesokan paginya Bayu mengetuk pintu kamar Diona. Gadis itu agak malas bangun. Tapi kalau harus di dalam kamar Diona juga tidak mau. Dengan wajah mengantuknya Diona membuka pintu. Bayu tertawa melihat Diona yang masih berantakan.


"Mandilah, kita sarapan di luar." kata Bayu sambil melangkah masuk. Diona menutup pintu, lalu menuju kamar mandi. Bayu duduk di sofa, sambil menunggu Diona dia menonton berita. Tidak terasa tau-tau Diona sudah selesai. Mereka pun pergi sarapan di luar hotel. Bayu membawa Diona sarapan ke tempat yang nyaman. Mereka bisa bersantai di sana.


"Om Danu dan Tante Wilma akan menyusul ke sini." kata Bayu sambil mengaduk makanannya. "Benarkah? senangnya bisa ketemu Tante Wilma." Diona gembira. Bayu hanya tersenyum. Mereka hanya bersantai hari itu. Menunggu kedatangan Danu dan Wilma. Karena liburan yang sebenarnya baru akan di mulai jika pasangan itu datang. Mereka jalan-jalan di sekitar hotel, lalu kembali. Diona menunggu di kamar Bayu. Sementara Bayu bekerja Diona menonton film. Ada banyak pilihan film yang dapat Diona pilih. Sampai kemudian Danu memberi kabar. Jika mereka sudah tiba di hotel. Mereka memutuskan untuk makan malam di hotel, lalu beristirahat. Karena besok mereka akan menuju negara impian Diona. Italia. Diona tidak tau mereka akan ke mana, yang jelas ke Italia. Ternyata Danu membawa mereka ke Grand Hotel Exelcior Vittoria di Sorrento. , kejutan besar bagi Diona. Hotel mewah dengan pemandangannya yang luar biasa.


"Ini hadiah untuk kelulusanmu." kata Danu pada Diona yang masih tidak percaya.


"Ini pasti mahal kan?" kata Diona penuh haru.


"Kau pantas mendapatkannya. Nilaimu bagus." Danu menghargai kerja keras Diona. Walau itu bukan pilihan gadis itu. Diona sangat senang. Ini bukan saja hadiah liburan untuk Diona tapi juga untuk Wilma. Danu merasa waktunya habis untuk bekerja. Kali ini dia juga ingin menyenangkan istrinya. Mereka mengunjungi dua pantai yang berbeda. Pemandangannya yang indah membuat Diona terlena. Mereka juga mengunjungi tempat kerajinan tangan. Diona bukan gadis yang suka shoping, tapi dia membeli barang yang akan dia butuhkan nanti. Tidak lupa mereka mencoba makanan di sana. Danu mengajak mereka ke club' karena Diona ingin tau. Tapi dia berpesan Diona tidak boleh boleh pergi lagi. Diona berjanji, lagi pula sekolahnya bukan di sini. Setelah puas, mereka pun menuju tempat Diona menuntut ilmu. Florence. Kota yang banyak tempat wisatanya. Bayu membawa mereka ke sebuah apartemen milik temannya. Apartemen itu kosong karena Paul teman Bayu dapat kontrak kerja di Paris. Apartemen itu tidak jauh dari Florence Classical Arts Academy. Di mana Diona akan belajar melukis selama satu tahun.

__ADS_1


"Betul kamu bisa sendiri di sini?" tanya Danu sangsi.


"Bisa om." jawab Diona yakin. Ini impiannya. Sudah di depan mata, Diona tidak mau melewatkannya. Danu menghela napas berat. Meninggalkan keponakannya di negara yang jauh selama satu tahun.


"Apa mau Tante temani di sini?" tanya Wilma. Tentu saja Diona mau kalau bisa.


"Eit tidak bisa. Nanti aku sama siapa, kamu tinggal aku sendiri." protes Danu. Dia tidak mau berpisah dari istrinya.


"Kamu tega sama keponakan kamu?" tanya Wilma pada Danu.


"Guling di rumah banyak." Wilma tidak mau kalah. Tapi Wilma sadar Danu tidak akan mungkin melepaskannya.

__ADS_1


"Jangan ya sayang. Guling tidak enak di peluk. Tidak ada hangat-hangatnya." kata Danu lagi.


"Untuk sementara Bayu akan temani Di di sini. Sampai Di terbiasa." Bayu menengahi.


"Tuh ada Bayu yang temani Di, kamu tidak perlu khawatir." Danu lega dengar perkataan Bayu. Sebenarnya Bayu juga tidak dapat lama-lama meninggalkan perusahaannya. Tapi demi menenangkan Danu dan Wilma Bayu berkata demikian. Soal Diona itu urusan nanti. Bayu bisa saja membayar pengawal untuk menjaga Diona. Apartemen itu ada dua kamar. Diona boleh menempati kamar manapun. Satu lagi untuk sementara di tempati Danu dan Wilma. Bayu merelakan diri tidur di sofa. Hari ini Diona menata barang-barangnya di kamar. Wilma membantunya. Setelah itu mereka keluar. Bayu membawa mereka ke Loggia Del Mercato Nuovo. Di sana banyak di jual tas dan syal. Wilma mengacungkan ibu jarinya pada Bayu. Di sana Wilma bisa menodong Danu untuk membelikannya tas agar dia mau ikut pulang nanti. Danu tentu saja menuruti Wilma. Diona tertarik pada syal, ada beberapa yang dia suka. Tapi dia hanya memilih satu. Bayu pun membelikannya satu. Walau Bayu ingin membelikan lima tapi Diona pasti menolak. Wilma membelikan Diona tas tangan kecil yang manis. Setelah puas melihat-lihat Bayu mengajak mereka ke tempat yang penting bagi masa depan Diona. Uffizi Gallery, musium yang menyimpan lukisan-lukisan berharga dari para pelukis terkenal. Bayu berharap Danu tidak mengecilkan lagi arti seniman. Dan Danu ternyata terkesan. Dia membayangkan jika Diona nanti bisa membuat lukisan yang indah, dia pasti bangga. Bayu lalu mengajak mereka kembali. Besoknya Bayu membawa mereka ke Fiesole, kota kecil di sebelah kota Florence di mana ada Roman Amphiteater dan Archeological. Mereka melihat amfiteater Romawi yang masih berfungsi dan terawat. Dan terakhir Bayu membawa mereka ke jembatan tua.


"Sudah ya jalan-jalannya, biar penasaran dan menengok Di di sini." kata Bayu dengan licik.


"Ya kalau aku rindu pada Di, aku boleh ke sini ya." Wilma berkata pada Danu.


"Boleh tapi perginya sama aku." jawab Danu tegas.

__ADS_1


"Ah nunggu kamu sempat rasanya tidak mungkin." Wilma merajuk, sudah hapal gayanya Danu.


"Aku janji, aku kan juga mau nengok Diona." Danu kali ini bersungguh-sunghuh. Karena keponakan tersayang berada jauh dari mereka.


__ADS_2