
Paul sedih tapi juga senang melihat Diona tampak bahagia. Diona pantas mendapatkannya. Perlahan Aran mengenakan cincin di jari Diona. Cincin yang berbeda dengan cincin tunangannya. Kalau bisa setiap tahun Aran akan menghadiahi cincin pada Diona.
"Lalu, kapan menikahnya?" tanya Rustam ingin tau apa yang di rencanakan putranya. Dia yakin pasti Aran sudah punya rencana.
"Kalau boleh dua Minggu setelah Di tiba di Indonesia." jawab Aran sambil menatap Danu.
"Jadi Di hanya dua Minggu di Surabaya?" tanya Danu agak marah.
"Saya bilang kalau boleh." Aran memberi Dilema pada Danu. Bilang tidak Diona akan kecewa, bilang iya dia yang akan kehilangan.
"Pernikahan di lakukan di Surabaya." kata Aran lagi. Hal itu meredakan amarah Danu. Aran masih menghargai keluarganya.
"Dia Minggu setelah Di kembali kalian datang melamar." Danu tidak hilang akal. Situasi menjadi ajang tarik ulur. Bayu menatap ini dengan tersenyum. Perjuangan Aran mendapatkan Diona.
"Baiklah, setelah itu kita atur pesta pernikahan." Rustam mengalah. Dia mengisyaratkan Aran untuk bersabar. Sesuatu yang baik memang tidak mudah di dapatkan. Jangan menempatkan Diona sebagai wanita yang mudah di dapat. Rustam juga ingin menghargai Danu dan Wilma sebagai pengganti orangtua Diona yang telah merawat gadis itu dengan baik.
"Terima kasih om, atas pengertiannya." Aran mengikuti Ayahnya.
"Jangan kecewakan kami." Danu mengingatkan Aran. Dengan berat hati dia harus melepaskan Diona. Mereka pun pergi makan bersama. Tempat yang juga sudah di siapkan Aran.
"Kapan kau pulang Didi?" tanya Paul yang duduk di sebelah Diona.
"Belum tau, mau jalan-jalan sebentar " jawab Diona sambil tersenyum.
"Makan di restaurantku ya, terakhir kali " pinta Paul sendu.
"Iya, aku akan ke sana." janji Diona.
"Di, nanti pulang langsung ke Surabaya ya." kata Danu tegas.
"Aku ko seperti pria nakal ya, di khawatirkan bawa lari anak orang." keluh Aran.
__ADS_1
"Tapi om Danu benar." Bayu memanas-manasi.
"Memang sih, milikku itu sering di peluk-peluk Di." kata Aran santai. Rustam dan Danu segera menjatuhkan sendok mereka serentak. Mata kedua pria itu menatap tajam pada Aran. Diona pucat.
"Sayang, mantelku masih sama kamu kan?" tanya Aran mesra pada Diona. Rustam dan Danu lega. Kalau mantel Aran yang di peluk Diona sih aman. Wajah Diona yang pucat berubah karena malu.
"Didi, benar kamu menyimpan mantel Aran?" tanya Paul tak percaya. Diona bisa sekonyol itu.
"Sst." Diona menempatkan jari di bibirnya, minta Paul untuk tidak bicara.
"Pasti Aran tau dari Leana." komentar Dewanti. Leana tersenyum malu.
"Dia sudah menjalankan tugasnya dengan baik bunda " bela Aran untuk Leana.
"Sampai sekecil itu?" tanya Dewanti geli.
"Itu jadi bikin aku makin sayang pada Di " Aran berkata sambil meremas jemari Diona yang duduk di sebelahnya. Diona semakin malu. Danu melihat keduanya memang sudah tidak dapat di pisahkan.
"Tenang om, kami sudah belajar bersabar. Menunggu beberapa waktu lagi tidak masalah." Aran menenangkan semua. Dalam hal kesabaran pada pernikahan dia jagonya. Selesai dengan acara makan semua kembali pulang. Danu, Wilma dan Leana kembali ke rumah Diona. Rustam dan Dewanti kembali ke hotel. Paul kembali ke pekerjaannya. Bayu, Mitsi, Aran dan Diona memutuskan untuk jalan-jalan.
"Sayang nanti cincin pernikahan kita yang ini juga kan?" tanya Diona manis pada Aran. Tangannya meraba cincin yang baru di pasangkan Aran.
"Tentu saja berbeda." jawab Aran geli, melihat calon istrinya yang manja.
"Cincinku jadi banyak dong." dahi Diona berlipat.
"Di, jarimu kan ada sepuluh. Pakai sepuluh cincin tidak masalah kan." goda Aran sambil tersenyum.
"Antara dua jika begitu, Di jualan cincin atau Di pamer cincin." komentar Bayu yang di protes Diona dengan menendang kaki Bayu pelan.
"Kamu jangan begitu ya sayang." Bayu berkata pada Mitsi, di tendang kakinya membuat Bayu semakin menjadi.
__ADS_1
"Aku sih delapan saja, ibu jariku tidak perlu pakai cincin." jawab Mitsi iseng. Aran dan Diona tertawa. Ternyata Mitsi bisa juga menggoda suaminya. Terpaksa Bayu tersenyum kecil. Di cubitnya hidung Mitsi.
"Apa rencananya Aran?" tanya Bayu serius.
"Pulanglah, semakin cepat pulang semakin cepat menikah." Aran tersenyum dengan senang. Membayangkan pernikahan yang sebentar lagi di alaminya.
"Kalian tidak pulang?" tanya Diona yang tidak bisa menutupi wajah bahagianya.
"Aku mau mengajak Mitsi jalan-jalan dulu, baru pulang." jelas Bayu.
"Kalau begitu ayo kita jalan sayang, mumpung kita masih punya waktu." Ajak Aran pada Diona. Tangannya terulur pada gadis pujaannya itu. Aran bangkit berdiri di susul Diona. Bayu dan Mitsi pun melakukan hal yang sama. Mereka menelusuri Florence, melihat-lihat toko dan cafe-cafe kecil yang banyak terdapat di sana. Wajah Mitsi berseri. Diona menggandeng tangan Mitsi menyusuri jalan kecil sambil melihat-lihat. Para pria berjalan di belakang mereka sambil mengobrol santai. Ternyata di bandingkan melihat baju atau aksesoris, Mitsi lebih suka melihat kerajinan tangan. Seperti saat mereka memasuki sebuah toko. Mata Mitsi tidak lepas dari barang-barang yang menurutnya bagus dan menarik.
"Beli saja jika suka." kata Bayu pada istrinya.
"Tapi nanti bawaan kita jadi banyak " jawab Mitsi sungkan.
"Beli saja, nanti kau menyesal." tegas Bayu. Tidak membantah lagi Mitsi pun sibuk memilih beberapa barang yang di sukainya.
"Sepertinya seru juga jika belajar membuat kerajinan tangan seperti ini." komentar Diona.
"Ingat studio kecilmu di rumah " bisik Aran yang ingin membuyarkan keinginan Diona untuk sekolah lagi. Diona tersenyum, dia ingin cepat pulang dan menggunakan studionya. Diona memilih tea set untuk di bawa pulang. Sebenarnya bentuk tea set itu biasa tapi gambarnya sangat indah, menggambarkan pemandangan Italy. Bayu lebih suka gelas pasangan untuk dia bersama Mitsi. Aran hanya memilih beberapa gantungan kunci. Setelah puas mereka pun keluar dan berjalan lagi. Mereka berhenti di cafe kecil karena khawatir Mitsi terlalu lelah. Padahal Mitsi sendiri lupa jika dia sedang hamil karena senangnya.
"Ternyata Italy benar-benar indah." Mitsi berkata kagum.
"Ini belum seberapa, masih banyak tempat yang belum kau lihat." kata Diona membuat Mitsi semakin penasaran.
"Semoga kau sudah puas melihat-lihat pada saat Aran dan Di menikah nanti." kata Bayu menggoda istrinya.
"Tentu kita harus hadir." tekad Mitsi untuk Aran dan Diona.
"Ayo kita pulang, kau harus istirahat." ajak Bayu mengakhiri jalan-jalan mereka. Bayu dan Mitsi kembali ke apartemen Paul. Aran mengantar Diona kembali ke rumah. Di sana dia berbincang sebentar dengan Danu. Diona masuk ke dalam kamarnya dan menemukan Wilma tengah mengepak pakaian miliknya.
__ADS_1