PADA DUA HATI

PADA DUA HATI
Hari Bahagia


__ADS_3

"Tapi aku yakin Justin pintar, dia pasti bisa menilai bisnis yang bagus untuknya. Aku kira kau akan segera pulang ke Dakota." Diona yakin pada pengetahuan Justin. Lagi pula sudah waktunya Justin punya kegiatan tetap.


"Aku harap kalian tetap di sini. Aku jadi tidak kesepian. Jika saja Di menikah dengan Paul, dia pasti menetap di sini." Lucca berharap.


"Kami memang belum memutuskan untuk kembali ke Dakota. Aku rasa Justin ingin aku melahirkan di sini." Elis tersenyum pada Lucca, berharap kata-katanya membuat Lucca terhibur. Dan memang itu membuat Lucca senang.


"Maaf Luc, cintaku tidak bisa di rubah. Tapi seandainya aku jadian dengan Paul kurasa akan lebih rumit lagi. Keluargaku berharap aku kembali." Diona mematahkan perkataan Lucca. Dari situ Lucca juga berpikir akan lebih mudah jika Diona jatuh cinta dengan dirinya, dia rela mengikuti Diona pulang ke negaranya. Lucca jadi tersenyum sendiri. Tapi kedua sahabatnya jadi salah paham. Berpikir Lucca puas dan senang dengan penjelasan mereka. Leana datang dan duduk di bangku yang lain. Diona memintanya untuk memesan makanan. Leana jadi tidak perlu memasak lagi di rumah. Karena hari Wisuda Diona tiba, keluarga mulai berdatangan. Danu dan Wilma jelas menempati rumah Diona. Bayu dan Mitsi mulai menampakan diri. Aran datang bersama orangtuanya dan menginap di hotel. Diona merasa sangat istimewa. Apa lagi sebelum wisuda Diona di panggil dan di ajak bicara pemilik sekolah. Diona di nilai berbakat. Dia di tawarkan melanjutkan sekolahnya untuk tiga tahun. Dengan pengurangan biaya sekolah.


"Benar Di kau dapat penawaran itu?" tanya Bayu penasaran.


"Benar, Mr Black pemilik Sekolah sendiri yang menawarkan padaku. Istrinya sangat menyukai lukisanku. Menurutnya dua tahun lagi bakatku benar-benar terasah dan aku bisa jadi pelukis terkenal. Itu sebabnya dia bicara pada suaminya." jawab Diona bangga.


"Kalau dia menawarkan beasiswa bagaimana? Kau tidak perlu bayar." tanya Bayu memancing Diona.


"Beasiswa benaran atau bohongan?" Diona menyindir Bayu. Dia sudah tau kalau ternyata sekolahnya di biayai om Danu.

__ADS_1


"Serius Di." Bayu jujur kali ini.


"Tidak mau, aku kan sudah janji pada kalian satu tahun saja." walau Diona bangga dan senang dengan tawaran itu dia tetap menolak. Alasannya pada Bayu bukan alasan utama. Diona tidak mau terpisah lagi dari Aran. Bayu tampaknya percaya pada jawaban Diona, dia pikir Diona bukan gadis ambisius. Paul datang dengan penampilan yang menawan, walau menurut Diona Aran lah yang paling tampan.


"Didi, ayo kita masuk. Sebentar lagi acaranya di mulai. Ini terakhir kali aku mengantarnu sekolah." Paul mengulurkan tangannya pada Diona. Dengan ragu Diona menatap Aran, meminta ijin. Aran mengangguk tanda setuju. Dia paham ini moment terakhir Paul dengan Diona. Setelah hari ini Diona akan jadi miliknya. Merasa Aran mengijinkan, Diona menyambut tangan Paul. Mereka bergandengan menuju aula sekolah. Undangan yang Diona dapat hanya untuk dua orang. Tentu saja Danu dan Wilma yang hadir di dalam. Aran dan yang lain menunggu dan duduk di luar aula. Ada banyak kursi yang di sediakan. Batu memperhatikan Mitsi agar duduk dengan nyaman. Paul pun menyusul dan duduk bersama mereka. Perasaan mereka yang menunggu di luar bermacam-macam. Ada yang tidak sabar menanti acara selesai, ada yang santai dengan sabar menanti. Di dalam perasaan Danu dan Wilma lebih seru, ada perasaan senang dan bangga yang Danu rasakan. Ternyata bakat Diona tidak memalukan. Ada lukisannya yang di pajang dan di puji. Sedangkan Wilma merasa haru, keponakannya dapat meraih mimpinya belajar melukis. Nilai yang Diona raih juga tidak main-main. Namun dia kalah oleh siswa dari kelas sebelah. Bagi Danu nilai Diona tidak penting, yang penting Diona bahagia dengan apa yang di lakukannya. Walaupun penyesalannya terlambat tapi Danu puas sudah memenuhi keinginan keponakannya. Ketika nama Diona di panggil dan dia naik ke atas panggung, rasa haru dalam hati Wilma memuncak. Air mata menetes di pipinya.


"Sayang kamu kenapa?" tanya Danu heran. Dia khawatir istrinya tiba-tiba sakit atau apa.


"Aku terharu mas, Di sangat cantik dan dia sangat senang di atas sana." suara Wilma bergetar.


"Oh aku kira kenapa Aku juga bangga melihatnya demikian. Di benar-benar berbakat. Kita sudah mengabaikan bakatnya selama ini." Danu merasa bersalah.


"Ya aku janji, Di keponakanku satu-satunya sudah tugasku membuatnya bahagia " Danu mengakui pikiran dan perasaannya. Diona yang menerima salam dari gurunya dan pemilik sekolah lebih bahagia lagi perasaannya.


"Benar kau tidak berminat melanjutkan sekolahmu?" tanya Mr Black sekali lagi.

__ADS_1


"Tidak Mr Black. Ini sudah cukup untukku. Terima kasih banyak." jawab Diona sambil tersenyum.


"Baiklah semoga kau sukses nona Diona. Jangan ragu untuk kembali ke sini jika kau ingin nanti." Black masih berbaik hati. Dia menyayangkan bakat Diona yang bisa menjadi pelukis besar. Betapa bangga sekolahnya nanti jika Diona berhasil. Setelah meluapkan kegembiraan dan berfoto bersama teman-temannya Diona pun beranjak untuk berkumpul bersama yang lain. Ada banyak hadiah yang Diona dapat padahal dia hanya lulus sekolah. Perhatian yang di limpahkan padanya membuat Diona bahagia. Sekarang tiba hadiah dari Aran.


"Di ini hadiah dariku." Aran menyerahkan sebuah amplop coklat besar. Diona dengan tidak sabar menerima dan membukanya. Tampak foto-foto sebuah ruangan yang merupakan sebuah studio kukis.


"Astaga Aran ini di mana?* tanya Diona penasaran, matanya berbinar.


"Itu di rumahku. Di ruangan yang kita lihat dulu. Aku sudah merubahnya dan menambahkan jendela agar lebih terang." jawab Aran sambil tersenyum manis.


"Ini indah sekali, benar aku boleh menggunakannya?" Diona tak percaya.


"Tentu saja boleh, asal kau jadi pemilik rumahnya." jawab Aran penuh arti.


"Menjadi pemilik rumah?" tanya Diona bingung.

__ADS_1


"Diona Azalea, maukah kau jadi istriku?" Aran berkata lembut sambil menyodorkan sebuah cincin. Di hadapan semua orang Aran meminang Diona, tunangannya. Diona menatap tidak percaya, hampir-hampir menangis. Sudah tersentuh dengan hadiah Aran pada studio lukisnya kini dia di lamar. Semua yang melihat juga terharu. Kecuali Danu. Dia geram tapi juga senang melihat Diona tampak bahagia. Tapi itu berarti dia harus melepas keponakannya. Jika Diona mengatakan ya, maka Danu harus bisa menerima keputusan Diona. Apa lagi janjinya pada Wilma untuk membuat Diona bahagia. Semua menunggu jawaban Diona.


"Aku mau " jawab Diona senang. Aran lega, dia memeluk Diona. Danu lemas.


__ADS_2