PADA DUA HATI

PADA DUA HATI
Salah Paham


__ADS_3

Bayu tersenyum. Semakin mantap hatinya untuk menyatukan dua insan ini. Bayu pun keluar dari kamar. Tanpa bertemu Aran dia sudah tau hati Aran. Seperti janjinya Bayu makan siang di rumah itu. Di ruang makan mbok Yem duduk di hadapan Bayu yang menikmati makanannya. Sumi berdiri sambil terus bercerita tentang keburukan Mhina. Mbok Yem diam saja. Pantang baginya bercerita tentang keburukan mantan majikannya jika tidak betul-betul perlu. Bayu jadi semakin paham kehidupan Aran belakangan ini. Aran cukup tersiksa dengan pilihannya yang salah. Selesai makan Bayu mengamati sekali lagi rumah itu. Rumah yang sempurna. Hanya kurang seorang istri. Yang akan menyambut Aran ketika pulang. Mengurusnya sepanjang hidup mereka. Bayu keluar dari rumah. Dilihatnya Parjo yang sedang merapihkan halaman depan. Supir keluarga yang berganti profesi karena nyonya rumah menghilang. Bayu betul-betul meninggalkan rumah Aran ketika dia mendapat pesan dari ayahnya. Dia harus ke Jepang menghadiri pameran di sana.


Del memperhatikan Miguel yang tengah makan. Tampaknya suaminya tidak berselera makan.


"Apakah tidak enak?" tanya Del penasaran. Biasanya Miguel menyukai makanan Betsy.


"Bukan begitu. Sejak sakit aku memang tidak berselera makan." jawab Miguel, dia tidak mau Del jadi khawatir.


"Kalau begitu besok aku akan masak untukmu lagi." kata Del dengan sepenuh hati.


"Benarkah?" Miguel senang jika Del mau memasak lagi. Del betul-betul mengurus Miguel sebagai penebusan rasa bersalahnya meninggalkan pria itu. Harusnya dia lebih sabar dulu. Tapi dia senang Paul mencarinya. Sejak dia kembali, Del tidak melihat Paul datang lagi.


"Kemana anak itu ya? Tidak pernah datang lagi." kata Del bertanya-tanya.


"Paul memang jarang datang. Dia sibuk bekerja." Miguel tau apa yang di lakukan putranya dari pegawai yang menengoknya. Dia lega putranya benar-benar bekerja keras.


"Aku dengar dia juga sudah punya pacar. Waktunya tidak ada untuk kita." Miguel tertawa kecil.


"Punya pacar?" Del terkejut. Sungguh kemajuan Paul punya kekasih. Selama ini fokusnya hanya memasak saja dan bekerja.


"Aku dengar juga gadis itu cantik. Sama sepertimu dari Asia." Miguel belum melihatnya, tapi dia percaya dengan penilaian karyawannya. Del jadi penasaran. Dia memutuskan untuk mendatangi apartemen Paul. Dia ingin melihat bagaimana kehidupan putranya sekarang. Del memencet bel pintu apartemen Paul. Tidak lama kemudian pintu terbuka, tampaklah seorang gadis menyapanya.


"Anda mencari siapa?" tanya Diona. Del menatapnya. Cantik, wanita Asia. Ini pasti yang di maksud Miguel.


"Aku mencari Paul. Apa dia ada?" tanya Del dengan lembut. Matanya terus menilai Diona.

__ADS_1


"Ada, mari masuk. Akan kupanggilkan." Meski tidak tau siapa yang datang Diona bersikap ramah.


"Didi habiskan sarapanmu." Paul berkata ketika Diona dan Del masuk. Dia sibuk merapikan dapurnya.


"Paul ada yang mencarimu." kata Diona sambil menghampiri meja makan. Mengikuti apa yang Paul bilang, menghabiskan sarapannya. Paul menoleh.


"Ibu." Seru Paul terkejut. Bukan hanya Paul yang terkejut, Diona juga. Del tersenyum.


"Ada apa ibu ke sini? Apa ada sesuatu yang terjadi pada ayah?" Paul khawatir, dia menghampiri Del lalu menggandeng ibunya untuk duduk di sofa.


"Aku hanya ingin menengokmu. Kau tidak mampir lagi ke rumah." kata Del menjelaskan.


"Oh begitu. Aki sibuk bekerja." Paul lega. Di sebutkan bekerja dia jadi ingat kegiatan hari ini.


"Didi ayo aku antar sekolah. Kau sudah siap?" tanya Paul pada Diona.


"Dasar anak nakal. Kau tinggal bersama pacarmu rupanya. Ibu tidak pernah mengajarkanmu seperti ini." Del memukul-mukul lengan Paul.


"Ibu kenapa marah. Kami memang tinggal bersama. Memang ada apa?" Paul bingung melihat ibunya marah.


"Ada apa? kau tinggal bersama pacarmu masih tanya ada apa?" Del tidak bisa memukul Paul lagi karena tangannya di tahan oleh Paul.


"Ibu salah paham. Didi itu teman Bayu, dia bukan pacarku. Didi sekolah di Italy untuk satu tahun. Aku sudah meminjamkan apartemen ini pada Didi, tapi ternyata aku tidak jadi kerja di Paris karena ayah sakit. Jadi sekarang aku dan Bayu menjaga Didi karena dia sendirian." Paul cepat-cepat menjelaskan. Mendengar itu kemarahan Del menghilang. Dia jadi tenang.


"Maaf ya nak, karena ibu kamu jadi gagal menggapai mimpimu. Jadi dia bukan kekasihmu." Del kecewa. Walau lega. Diona keluar dari kamarnya dengan tas dan mantelnya.

__ADS_1


"Biar aku kenalkan, ini Diona dari Indonesia. Didi ini ibuku Deliana." kata Paul sambil menarik Diona mendekati ibunya.


"Saya Diona Tante." Diona memberi salam, dia tau Del sudah kembali. Hanya saja dia bingung harus bagaimana menghadapi ibu Paul. Karena itu dia diam saja sejak tadi.


"Jadi kamu dari Indonesia?" tanya Del ramah. Dia dan Diona saling menilai.


"Betul Tante." Diona mengagumi kecantikan Del. Pantas saja Miguel jatuh sakit di tinggal istrinya. Walau Diona belum pernah bertemu Miguel tapi dia yakin Miguel juga tampan. Karena Paul tidak mirip dengan ibunya. Pasti Paul mirip ayahnya dan Paul tampan. Walau Paul tidak tampak seperti pria Italy tulen, karena ada darah Asia tercampur di sana.


"Ibu, aku akan mengantar Didi ke sekolah lalu ke restauran. Apa ibu mau ikut aku ke restauran? aku harus bekerja." kata Paul kemudian. Kedatangan Del tidak tepat waktunya.


"Antar ibu pulang saja. Ibu hanya ingin menengokmu." kata Del memutuskan. Dia memilih mengurus Miguel di rumah.


"Baiklah, ayo kita berangkat. Nanti Didi terlambat." kata Paul yang meraih kunci mobilnya. Di mobil tidak ada percakapan. Tapi Del bisa melihat Paul perhatian pada Diona.


"Paul nanti siang boleh tidak aku pulang bersama Lucca. Kami akan makan siang bersama Elis dan Justin." tanya Diona pada Paul.


"Hah sejak Justin datang kalian kumpul-kumpul terus." kata Paul mengomel.


"Mumpung masih sekolah. Nanti sudah lulus tidak bisa kumpul lagi." kata Diona berkilah. Mendengar itu dada Paul jadi sesak. Kalau sudah lulus Diona akan pulang ke Indonesia.


"Baiklah, biar Lucca yang mengantarmu pulang." Paul rasa ada baiknya Diona kumpul dengan temannya. Di apartemen Diona sendirian. Mereka mengantar Diona lebih dulu karena itu yang terdekat. Di sana dua teman Diona sudah menunggu.


"Thank's Paul. Tante Diona pamit." kata Diona sambil turun dari mobil.


"Ya nak hati-hati." balas Del. Diona segera menghampiri dua temannya dengan ceria. Paul masih memperhatikan sebentar lalu menjalankan mobilnya.

__ADS_1


"Diona gadis yang cantik. Mengapa para karyawan mengatakan dia kekasihmu?" tanya Del pada Paul.


"Mereka menyukai Didi dan ingin Didi jadi pacarku." jawab Paul sambil tersenyum.


__ADS_2