
Del bertanya pada Betsy, pelayan di rumahnya. Bagaimana keadaan Miguel. Betsy melihat Paul yang mengedipkan mata padanya jadi ikut main sandiwara. Betsy mengatakan Miguel jatuh sakit dan tidak \*\*\*\*\* makan.
"Tuan terus menanti nyonya pulang." kata Betsy dengan wajah memelas. Paul tersenyum melihat itu. Betsy pandai juga menggunakan kesempatan. Del jadi semakin kasihan pada Miguel. Del menyiapkan makanan untuk Miguel, dia kembali ke kamar. Di letakkannya makanan itu di meja. Wangi makanan membangunkan Miguel. Perlahan dia membuka matanya. Dilihatnya wanita cantik yang di rindukannya tampak di depannya.
"Cinta, kau sudah pulang?" tanya Miguel pelan, dia seolah tidak percaya. Del menoleh dan menghampirinya.
"Benar, aku sudah kembali. Mengapa kau begitu kurus?" jawab Del sedih melihat suaminya.
"Aku merindukanmu sayang." Miguel berusaha duduk tubuhnya masih lemas karena baru bangun. Del membantunya. Del duduk di tepi tempat tidur, di hadapan Miguel. Perlahan Miguel menyentuh wajah Del.
"Maaf aku sudah menyakitimu. Jangan pergi lagi, aku tidak dapat hidup tanpamu." kata Miguel bersungguh-sungguh.
"Aku tidak akan pergi kalau kau tidak macam-macam." Del memberi syarat.
"Apa pun yang kau mau akan aku lakukan. Apakah kau tidak sadar semua yang ku lakukan hanya untuk dirimu cinta." Miguel menarik Del ke dalam pelukannya. Del memang tau, Miguel dulu tidak punya apa-apa. Dia bekerja keras mencari uang untuk membahagiakan Del.
"Janji ya, tidak akan membuat aku kecewa lagi." kata Del yang bersandar dalam pelukan Miguel.
"Ya cinta, aku tidak mau kehilanganmu lagi." janji Miguel. Paul melihat itu sambil tersenyum. Sepertinya dia tidak di butuhkan lagi. Paul akan pulang ke apartemennya. Dia rindu pada Diona. Paul pun pulang.
__ADS_1
Bayu kembali ke Jakarta, setelah sandiwara Paul berhasil. Seperti rencananya dia ingin bertemu Aran. Tapi ternyata sekarang bertemu Aran yang sulit. Di kantornya tidak ada. Bayu baru tau jika Aran sudah pindah rumah. Rupanya rumah lama sudah di jual. Bayu jadi ingat jika beberapa waktu yang lalu dia juga begitu. Tidak mau di temui Aran. Apakah sekarang Aran membalasnya? Dengan terpaksa Bayu bertemu Rianto. Ingin mencari tau tentang di mana sepupunya berada. Tapi orang ini tidak mudah juga. Rianto tidak mengatakan di mana Aran saat itu. Tapi menjelaskan dengan rinci masalah perceraian Aran dengan Mhina, karena Bayu berhak tau. Bayu terkejut dengan tindakan gila Mhina. Tapi dia bersyukur Aran terbebas dari Mhina. Selamanya dia tidak suka pada Mhina. Berarti rencananya mempertemukan Aran dan Diona ada harapan. Memang "milik" tidak akan salah. Kalau tidak berhak tidak akan mendapatkannya. Bayu rasa Aran milik Diona. Mhina tidak berhak atas Aran. Rianto juga menyebutkan alamat rumah Aran yang baru. Bayu putuskan untuk berkunjung ke sana. Walau Bayu yakin Aran tidak ada di rumah. Bayu menatap bangunan rumah Aran. Berbeda jauh bentuknya dengan rumah yang lama. Bayu penasaran, dia pun menuju gerbang pintu rumah itu. Pihak keamanan menaruh hormat pada Bayu, mereka kenal dengan sepupu majikannya.
"Den Bayu." mbok Yem menyapa Bayu.
"Mbok apa kabar?" tanya Bayu mengenali pekerja di rumah Aran.
"Baik den, sudah lama tidak mampir. Tapi tau ya den Aran pindah rumah." mbok Yem tidak tau ada masalah antara Bayu dan Aran.
"Tau mbok, makanya main ke sini. Aran ke mana mbok?" Bayu mencoba peruntungannya.
"Tidak tau den. Den Aran pergi beberapa hari katanya tapi tidak bilang ke mana." sama saja dengan orang di kantor Aran.
"Masih den, ada di belakang." mbok Yem bingung melihat Bayu yang menatap ke sekeliling rumah.
"Mbok foto-foto ke mana semua?" tanya Bayu penasaran.
"Fotonya di bakar sama den Aran, semuanya. Nyonya juga tidak di beri satu pun waktu den Aran mengangkut barang -barang nyonya." mbok Yem tampak sedih. Dia salah satu saksi dari ketidakbahagiaan rumah tangga Aran. Bayu mengerti Aran ingin menghapus semua masa lalunya dengan Mhina.
"Kalau di rumah Aran ngapain mbok?" Bayu duduk di sofa ruang tengah.
__ADS_1
"Den Aran kalau hari kerja pulang malam langsung tidur. Kalau hari libur suka nonton TV dan bangunnya siang. Kadang berenang di belakang." kata mbok Yem menyebut keseharian Aran di rumah. Mendengar itu Bayu jadi ingin tau halaman belakang.
"Den Bayu mau minum apa?" tanya mbok Yem melihat Bayu yang bangkit kembali.
"Tidak perlu mbok, saya mau lihat halaman belakang." jawab Bayu. Mbok Yem menunjukan jalan menuju halaman belakang. Mereka melewati ruangan makan yang cukup besar. Di ruang makan ada sebuah pintu kaca yang besar, pintu menuju halaman belakang. Begitu pintu di buka terasa angin yang mengalir masuk. Tampak teras dengan sofa dan kolam renang. Kolamnya cukup besar tapi pada intinya kolam itu membuat halaman belakang terasa teduh dan nyaman. Terlihat jelas Aran memilih rumah ini dengan penilaian yang tajam. Bayu jadi terpikir untuk juga membeli sebuah rumah. Aran keluar dari rumah orangtuanya karena menikah. Tapi dia tidak berniat untuk kembali tinggal bersama orangtuanya lagi setelah bercerai. Aran menikmati kesendiriannya di rumah ini.
"Mbok saya ingin ke lantai atas." kata Bayu setelah puas menikmati halaman belakang. Mereka pun beranjak masuk. Sebelum ke atas, Bayu sempatkan mengintip ke dapur. Ada Sumi yang sedang memasak.
"Loh, ada den ganteng datang." kata Sumi terkejut.
"Masak yang enak." kata Bayu pada Sumi.
"Memangnya den ganteng mau makan di sini?" tanya Sumi berharap.
"Makan di sini saja den, sekali-kali. Den Aran jarang makan di rumah." kata mbok Yem sedih. Mereka masak hanya untuk mereka makan sendiri. Bayu jadi tidak tega.
"Ya sudah, saya makan di sini." kata Bayu sambil tersenyum. Sambil menunggu Sumi selesai, Bayu dan mbok Yem ke lantai atas. Ada tiga kamar tidur di atas di tambah satu ruang kerja Aran.
"Ini kamar den Aran." kata mbok Yem membuka pintu kamar Aran. Tidak di kunci rupanya. Bayu melangkah masuk sedang mbok Yem tetap berdiri di pintu. Kamar Aran cukup luas dan nyaman. Ada balkon yang mengarah pada kolam renang. Tidak ada lukisan atau foto yang terpajang di dinding. Tapi ada satu yang menarik perhatian Bayu. Foto yang ada di atas nakas, di sebelah tempat tidur. Itu adalah foto Aran dan Diona Azalea. Jadi foto ini yang menemani Aran tidur.
__ADS_1