
Sejak awal Diona sudah membiarkan Aran di dalam hatinya. Begitu tulus dan baik Paul menjaganya tidak menggerakkan hati Diona. Mereka pun pulang. Berbeda dengan Diona yang akan berwisata bersama Aran.
"Kita mau ke mana?" tanya Diona pada Aran ingin tau.
"Nanti juga kau tau." jawab Aran berahasia. Diona terdiam. Aran banyak senyum bersama teman-temannya tadi. Saat ini Aran tampak serius menjalankan mobil. Sedangkan Leana duduk diam di belakang, takut mengganggu.
"Venezia?" tanya Diona ketika mereka sudah sampai.
"Iya, kenapa?" tanya Aran sambil tertawa. Tempat yang Diona tidak mau datangi, itu jawaban yang sebenarnya. Mereka pun menuju hotel yang telah di pesan Aran. Leana membereskan barang-barang mereka. Aran dan Diona tengah makan di cafe dekat hotel.
"Memangnya kau belum pernah ke sini?" Aran ingin tau. Diona menggelengkan kepala.
"Hampir satu tahun kau di Italy, tapi tidak pernah ke sini?" Aran tidak percaya. Venezia memang indah dan punya makna. Sekarang saja Diona sudah terkesan.
"Aku pernah punya keinginan datang ke sini dengan orang yang kucintai." Diona akhirnya jujur.
"Venezia, bukan Paris?" tanya Aran dengan senyum penuh arti. Diona mengangguk.
"Karena kita sudah di sini nikmati liburanmu." kata Aran akhirnya. Diona setuju. Tidak lama lagi dia akan pulang ke Indonesia. Sayang jika dia melewatkan mengunjungi Venezia. Apa lagi perginya bersama Aran. Setelah makan mereka menuju Canale Grande. Melakukan hat deretan gedung-gedung kuno dan menyusuri air yang terkenal di Venezia. Mereka juga melihat gondola yang berlalu lalang. Berbeda dengan Florence, Venezia punya pesona sendiri untuk Diona. Selama mereka melihat-lihat tangan Aran selalu menggandeng tangan Diona. Aran meluapkan rasa rindunya dengan cara demikian. Diona tidak keberatan, dia pun rindu pada pria ini. Hampir satu tahun mereka terpisah dan terakhir bertemu terasa canggung. Namun hari ini semua sirna. Venezia merubah hari mereka menjadi indah.
"Kita kembali ke hotel." kata Aran menarik tangan Diona.
"Tapi Aran, aku ingin ke Ponte Di Rialto." protes Diona.
"Besok saja. Kita masih punya banyak waktu." Aran tetap tidak mau.
"Sebentar saja." rengek Diona. Dia penasaran dengan tempat itu.
"Ke sana tidak bisa sebentar. Istirahat dulu." Aran dengan lembut berkata. Hari akan gelap, lebih baik kembali ke hotel.
"Aku kan sudah tidur di perjalanan tadi." Diona berdalih.
__ADS_1
"Ternyata masih keras kepala seperti dulu ya." kata Aran sambil menatap lekat Diona, hampir saja dia meluluskan permintaan gadis itu. Di tatap lekat begitu Diona menyerah. Dia pun mengikuti Aran kembali ke hotel. Di kamar Diona membersihkan diri. Aran menyewa dua kamar. Satu untuk dirinya, satu lagi untuk Diona dan Leana. Harusnya aku bersama Aran, Leana sendiri. Pikiran Diona nakal. Diona jadi tersenyum sendiri.
"Nona mau makan di kamar atau di restauran hotel?" tanya Leana memecah lamunan Diona.
"Di resto hotel saja." Diona tidak mau terkurung di kamar.
"Baik, saya beritahu tuan Aran " Leana berlalu.
"Dia kan bisa tanya langsung padaku, dasar pria tidak romantis." Diona menggerutu sendiri. Tidak lama Aran menjemput Diona. Mereka ke resto hotel. Keadaannya cukup ramai karena sudah masuk masa liburan.
"Mau makan apa?" tanya Aran sambil menatap ke sekitar, karena Diona melakukan itu.
"Aku mau mencoba pasta di sini." karena tadi siang Diona sudah makan makanan berat, dia ingin yang ringan.
"Tinggal di Italy kau jadi suka pasta ya?" tebak Aran.
"Betul, dan ini makanan yang mudah di buat." Diona mengakui. Aran jadi ingat Diona tidak bisa masak.
"Paul mengajarkanku berbagai masakan Italy, tapi pasta yang paling cepat kukuasai." Diona mengakui kelemahannya.
"Kau ke Paris bersama Paul rupanya." Aran jadi teringat, dan berkata dengan nada cemburu.
"Saat itu Paul mengantar temannya untuk bekerja di sana. Aku ikut karena libur." Diona ingin meluruskan kesalahpahaman.
"Kau sendiri sedang apa?" kini Diona yang penasaran.
"Tidak jauh dari soal kerjaan " jawab Aran cepat.
"Kau rindu dengan masakan Indonesia?" Aran mengubah topik pembicaraan. Tidak nyaman rasanya menyinggung tentang Paul.
"Aku sangat rindu. Tapi tidak lama lagi aku pulang." kata Diona senang.
__ADS_1
"Iya, dan sebentar lagi om Danu akan mengurungmu di ruang kerjamu " Aran mengutarakan fakta.
"Benar juga." Diona langsung lemas.
"Tapi om Danu sayang padamu." Aran merasa Diona tidak perlu khawatir.
"Cuma om Danu nih, yang sayang sama aku." Diona menyindir. Aran menatap Diona dalam sambil tersenyum. Wisatanya kali ini bersama Diona untuk menyelami perasaan dan hati Diona. Selain perasaan dan hatinya sendiri. Seperti yang di inginkan Diona, besoknya mereka menuju Ponte Di Rialto. Jembatan yang membentang di atas Grand Canal. Mereka melihat-lihat toko suvenir dan perhiasan.
"Mana yang kau suka?" tanya Aran pada Diona.
"Aku tidak tau, begitu banyak pilihan " Diona bukan pemborong perhiasan. Aran memilihkan kalung dengan hiasan yang hampir sama dengan Bros Diona.
"Nanti akan kucarikan yang lebih cantik dari ini." Aran berkata sambil memasangkan kalung itu pada Diona. Sekarang Diona sudah punya Bros dan kalung. Kali ini dia ingin punya yang berbeda. Diona menatap pada deretan gelang di sana. Aran menangkap tatapan Diona.
"Gelang-gelang itu juga cantik. Kau tidak mau coba yang itu?" Aran menunjuk sebuah gelang dengan hiasan hati. Diona menurut. Sepertinya apa yang di minta pria itu akan di turutinya semua.
"Kau tidak mau membeli untuk tantemu?" tanya Aran. Diona pun memilih gelang untuk Wilma.
"Kau tidak mau membeli untuk bunda?" Diona balik bertanya. Aran tersenyum.
"Pilihkan " kata Aran kemudian.
"Memilih h gelang untukku kau bisa, memilih untuk bunda tidak bisa." gerutu Diona.
"Terlihat jelas ya, di mana hatiku berada." kata Aran penuh arti. Diona tersipu, dia lalu memilih gelang untuk Dewanti. Diona meminta kedua gelang tadi di bungkus dengan cantik. Mereka lalu melihat-lihat suvenir. Melihat-lihat ternyata memakan waktu lama. Aran pun mengajak Diona untuk makan. Mereka makan berdua dengan pemandangan air dan gondola yang lewat.
"Mau naik?" tanya Aran, melihat tatapan Diona pada gondola yang lewat. Diona mengangguk dengan senang.
"Makan dulu, nanti kita naik gondola." Aran tersenyum. Dia ingin menebus waktu yang telah mereka lewatkan tanpa kebersamaan. Bersama Diona, Aran merasa harinya terasa manis. Mereka menaiki gondola seperti yang di inginkan Diona. Awalnya kesunyian melingkupi mereka. Terasa mendebarkan duduk berdua bersebelahan.
"Di, kamu tidak mau mengganti mantel di kamarmu?" tanya Aran mulai bicara. Diona mencoba mencerna pertanyaan dari Aran.
__ADS_1