
Hari lamaran pun tiba. Leana hari ini pulang. Rustam dan Dewanti menjemputnya di rumah sakit. Leana duduk di kursi roda dengan tenang hingga tiba di mobil yang akan membawanya. Rustam membantu Leana untuk masuk ke dalam mobil, sebelah kakinya masih bisa menopang tubuhnya.
"Terima kasih." ucap Leana pada Rustam.
"Sama-sama Leana. Memang tidak nyaman, tapi ini hanya sementara." ujar Rustam sambil tersenyum. Rian melipat kursi roda milik Leana dan memasukannya ke dalam bagasi mobil. Rustam masuk dan duduk pada kursi penumpang di depan. Sedang Dewanti duduk di sebelah Leana. Rian pun masuk dan mulai menjalankan mobil menuju hotel.
"Kamu satu kamar dengan Diona, karena sekarang kamar hotel penuh." kata Dewanti meminta pengertian Leana.
"Tidak apa-apa, Lea suka bersama nona. Lea jadi bisa perhatikan nona." walaupun Leana belum bisa membayangkan bagaimana nantinya tapi hatinya sudah senang.
"Sepertinya Di yang akan perhatikan kamu." Dewanti tertawa. Jika dulu Leana yang selalu memperhatikan Diona sekarang sebaliknya. Rustam sedang sibuk bercakap dengan Rian, tentang cuaca dan keadaan di Singapore saat ini. Hingga tiba di hotel Rian mengantar Leana ke kamar Diona. Segera gadis itu membuka pintu ketika terdengar bel berbunyi.
"Hai Lea kau sudah datang, ayo masuk." Diona membuka pintu dengan lebar. Rian mendorong kursi roda Leana dengan perasaan sungkan. Ini kan kamar wanita pikirnya.
"Rian, tolong pindahkan Leana ke tempat tidur ya." kata Diona jail. Wajah Rian langsung memerah, tapi dia melakukan juga. Mengangkat Leana dan memindahkannya ke tempat tidur. Belum pernah Rian berurusan dengan wanita sedekat ini.
"Saya permisi." kata Rian cepat-cepat berlalu. Kesulitan menyembunyikan rasa malunya. Ketika Rian menutup pintu Diona tertawa.
__ADS_1
"Nona kau sungguh iseng. Aku bisa ko pindah sendiri, kakiku yang sebelah kuat." Leana menegur Diona.
"Biar saja, Rian jadi latihan jika dia punya pacar nanti " Diona masih tertawa. Dia lalu memindahkan kursi roda Leana ke sudut kamar.
"Nona itu gaunmu untuk nanti malam?" tanya Leana menunjuk gaun yang tergantung.
"Iya, bagus tidak?" Diona balik bertanya.
"Cantik." jawab Leana jujur.
"Dan ini gaunmu." Diona menarik gaun yang ada di belakang gaunnya. Leana terkejut.
"Ya sudah, aku setuju." Leana mengalah.
"Nah begitu. Lea semua bajumu kan celana panjang. Akan repot mengenakannya selama kakimu sakit. Untuk sementara kau pakai bajuku saja." Diona mengerti keadaan Leana.
"Jangan nona, baju nona bagus-bagus loh. Aku sungkan menerimanya." Leana merasa dia sudah banyak merepotkan.
__ADS_1
"Tapi kamu membutuhkannya saat ini. Kita tidak punya waktu untuk membeli pakaian untukmu. Jadi pakai saja bajuku ya." Diona dengan lembut membujuk Leana. Akhirnya Leana mengangguk setuju. Diona mulai memilih bajunya yang mudah di kenakan Leana. Dia jadi merasa memiliki saudara. Leana memperhatikan Diona sambil tersenyum.
"Nah sudah kupisahkan baju yang mudah kau gunakan." Diona merapikan kembali pakaiannya setelah mengeluarkan beberapa baju untuk Leana.
"Terima kasih nona." ujar Leana yang tersentuh akan perhatian Diona.
"Sekarang istirahatlah, nanti sore kau bisa hadir dengan segar dan cantik." Diona mengedipkan sebelah matanya menggoda Leana. Harusnya tokoh utama yang di goda, ini justru sebaliknya. Sore hari para keluarga sudah menuju ballroom hotel. Ruang itu sudah di hias dengan cantik. Dua belah pihak keluarga sudah siap. Tinggal menunggu tokoh utamanya. Aran datang lebih dulu. Wajahnya sudah berseri dan tidak sabar menunggu acara di mulai. Diona datang kemudian bersama Leana di kursi roda. Rianto membantu mendorong kursi rodanya. Aran menatap Diona yang tersenyum malu. Segera gadis cantik itu akan di minta oleh orangtuanya untuk menjadi miliknya. Peristiwa ini bukan hal baru bagi Aran. Namun kali ini karena dia mencintai gadis yang akan di lamar dadanya jadi berdebar. Sedikit gugup walau dia tau jawabannya pasti iya. Apa lagi Diona yang baru pertama kali mengalaminya, tentu saja gugup setengah mati. Wajahnya merona tersipu karena tatapan para keluarga dan terutama Aran yang di arahkan padanya. Karena semua sudah siap acara pun di mulai. Rustam sendiri yang menyampaikan niat baik dari keluarga Wiraguna meminta Diona Azalea Wirya untuk menjadi istri dari Arandra Caisar Wiraguna. Dari pihak Diona Danu Sapta Wirya menjawab pinangan dari keluarga Wiraguna dengan bertanya pada keponakannya Diona.
"Saya menerima." jawab Diona dengan tersipu. Semua menjadi lega. Acara sakral itu di lanjut dengan pesan Danu yang menitipkan dan meminta agar keluarga Wiraguna khususnya Aran menjaga keponakannya dengan baik, karena sebentar lagi Diona akan menjadi bagian dari keluarga itu. Aran dan Diona berdiri berhadapan untuk saling memakaikan cincin.
"Kamu hobi sekali ya membelikan cincin untuk Di." komentar Bayu yang menghampiri dengan membawa cincinnya.
"Aku jadi punya banyak cincin dari Aran." balas Diona sambil tersenyum.
"Itu tandanya aku mengikatmu berlapis-lapis, tapi maknanya tetap satu kamu miliku." jawab Aran dengan manis. Semua yang datang dapat menyaksikan kebahagiaan Aran pada lamaran kali ini. Pemberian tanda mata pun di lakukan oleh keluarga Wiraguna pada Diona. Dewanti meminta Aran mengenakan satu set perhiasan berlian pada Diona. Hanya sebagai simbol keluarga Wiraguna sudah mengikat Diona menjadi calon menantu mereka. Jadi Diona bukan hanya memiliki janji dan tanggung jawab pada Aran sebagai calon istrinya tapi juga pada keluarga Wiraguna. Acara di tutup dengan makan malam. Banyak yang ingin berfoto dengan Aran dan Diona sehingga mereka menunda makan malam. Aran sendiri menggunakan kesempatan itu untuk membuat foto mesra dengan Diona. Para keluarga banyak yang menggoda mereka tapi Aran tidak perduli. Setelah puas Aran pun menggandeng Diona untuk makan malam. Giliran yang hadir berfoto dengan dekor yang cantik. Aran dan Diona mengambil hidangan lalu mengambil tempat yang sudah di sediakan bagi mereka. Di meja itu sudah ada Rustam, Dewanti, Danu dan Wilma.
"Untung saja kita menambah porsi hidangan ya mas. Yang datang lebih dari perkiraan." seru Danu pada Rustam.
__ADS_1
"Ya dek, untung masih sempat. Kita bisa malu jika kurang." jawab Rustam kompak dengan besannya.
"Terima kasih ya ayah, bunda, om dan Tante. Acaranya netiah dan khitmat. Di senang sekali." kata Diona tulus. Siapa yang tidak sayang pada menantu seperti ini. Aran merangkul dan mengusap lengan Diona dengan rasa sayang.