
Lucca memesan steak untuk mereka bertiga. Para gadis setuju saja karena mereka sudah lapar. Tidak lama pesanan mereka datang. Paul keluar ketika Ron mengatakan Diona dan temannya datang dan makan di situ.
"Lucca, kau dapat di mana dua bidadari ini?" tanya Paul menyapa mereka.
"Lucunya aku dapat di apartemenmu." jawab Lucca apa adanya.
"Kau sudah makan Paul?" tanya Diona, dia baru akan memotong dagingnya.
"Aku sudah makan." Paul meraih piring Diona dan memotong daging itu, lalu mengembalikannya pada Diona. Lucca melakukan hal yang sama pada Elis ketika dilihatnya gadis itu tidak bersemangat.
"Elis kau sudah cantik begitu mengapa lesu?" tanya Lucca heran. Elis sedang mempertimbangkan untuk bercerita atau tidak. Yang lain jadi memperhatikan Elis, baru menyadari jika gadis itu berbeda. Lebih diam.
"Aku bertemu Justin Filmore" kata Elis jujur.
"Siapa itu Justin Filmore?" tanya Lucca heran.
"Teman masa kecilku, pria yang kusukai." jawab Elis jujur.
"Pria yang kau ceritakan, di mana?" Diona terkejut.
"Tadi ketika aku baru keluar dari toilet. Aku terkejut tiba-tiba melihatnya." kata Elis lesu. Dia tidak sadar pria yang di ceritakan ya ada di sana. Justin sejak tadi memperhatikan Elis. Tidak sengaja kliennya mengundang makan malam di tempat yang sama dengan Elis makan malam. Tapi Justin hanya memperhatikannya dari jauh.
"Pria yang tadi bersamamu? maaf aku tidak tau jika aku mengganggumu." Lucca menyesal.
"Tidak kau sudah benar. Dia sudah bertunangan. Tidak bagus jika aku bersamanya." kata Elis sedih.
"Bertunangan, kau tau tunangannya?" tanya Lucca.
"Tidak. Aku sudah sangat lama tidak bertemu dengannya. Harusnya aku sudah melupakannya. Aku heran dia ada di sini." kata Elis sambil menikmati hidangannya. Walau dia sedih tapi perutnya lapar.
"Mungkin dia ada bisnis di sini." kata Lucca. Dia berusaha menghibur Elis. Diona sendiri diam, karena dia teringat pertemuannya dengan Aran.
__ADS_1
"Habis ini kalian mau kemana?" tanya Paul.
"Terserah mereka." kata Lucca menunjuk para gadis.
"Aku ingin pulang saja." Elis tidak bersemangat.
"Baiklah kita pulang setelah makan." kata Diona iba pada Elis.
"Aku juga pulang kalau begitu. Mereka bisa pulang bersamaku." Paul berkata pada Lucca.
"Terserah mereka saja." Lucca tidak keberatan mengantar Diona dan Elis pulang.
"Paul, kau kan masih bekerja." Diona tidak ingin mengganggu Paul.
"Tidak apa aku siap-siap dulu." Paul bangkit untuk keruangannya.
"Aku ikut mobil Lucca saja, tidak apa kan?" Elis tidak enak pada Lucca.
"Kami duluan ya Di." Lucca pun bangkit dan membantu Elis untuk bangkit. Mereka keluar setelah Lucca memberi uang pada pelayan untuk membayar makan malam mereka. Diona menunggu Paul di luar. Elis bercerita pada Lucca, siapa Justin dalam perjalanan pulang. Dari situ Lucca tau bagaimana sedihnya Elis.
Justin Filmore ternyata menemui Lucca. Untung saja Lucca sudah tau dari Elis siapa pria ini. Mereka duduk di sebuah cafe berhadapan. Lucca sedang menebak-nebak maksud pria ini.
"Maaf aku menyita waktumu. Ada yang ingin aku tanyakan. Apa kau memiliki hubungan dengan Elis?" tanya Justin menatap tajam Lucca.
"Mengapa aku harus menjawabnya?" jadi ini tentang Elis. Lucca tidak mau menjawabnya dulu.
"Karena aku ingin tau. Aku teman masa kecilnya." Justin tampak kesal. Dia ingin tau tentang Elis.
"Cuma itu? ya aku punya hubungan dengan Elis. Lalu kenapa?" maksud Lucca hubungan pertemanan. Justin membuang napas kesal.
"Aku ingin bertemu dengan Elis. Aku tidak tau dia tinggal di mana. Aku lupa minta nomernya kemarin. Itu sebabnya aku ingin bertemu denganmu." Justin mengatakan maksud dan tujuannya. Tapi Lucca curiga padanya.
__ADS_1
"Untuk apa kau bertemu dengan Elis?" Lucca berharap Justin berterus terang.
"Hanya ingin menyapa. Aku juga ingin tau mengapa dia ada di sini. Sudah berapa lama kalian berhubungan?" tampak Justin penasaran.
"Elis di sini sedang sekolah. Kami bertemu beberapa bulan yang lalu. Aku harus bertanya dulu pada Elis, apa dia mau bertemu denganmu." Lucca masih tetap menutupi, dia ingin melinndungi Elis. Menurut Elis pria ini sudah bertunangan.
"Boleh aku minta nomer Elis?" Justin merasa tidak leluasa bicara dengan Lucca.
"Tidak. Berikan nomermu, nanti aku hubungi jika Elis mau bertemu denganmu." Lucca tidak mau Justin bertemu Elis sebelum tau apa maksudnya. Menyapa katanya. Sedangkan Justin walau memberikan nomernya tapi dia merasa jengkel. Dia yakin Lucca memang pacar Elis.
"Aku harap kau segera memberi kabar. Aku tidak lama di sini." Justin berharap bisa bertemu Elis, maka dia tetap sopan pada Lucca.
"Nanti aku beri kabar." kata Lucca.
"Terima kasih waktumu." Justin berlalu meninggalkan Lucca. Tadi ketika datang ke kantor, temannya mengatakan ada yang mencarinya dan sedang menunggunya di ruangannya. Lucca tidak punya bayangan siapa orangnya, ternyata Justin. Tujuan Justin ingin bertemu Elis masih teka-teki. Ada sesuatu yang Lucca rasa masih di simpan Justin. Tapi Lucca menyampaikan pada Elis. Mereka berdebat siang itu di cafe.
"Dia kan sudah punya tunangan. Untuk apa bertemu denganku?" kata Elis yang merasa tidak perlu bertemu.
"Elis apa dulu kalian berpacaran? tidak kan. Jadi pantas saja dia ingin bertemu denganmu, kalian dulu tetangga. Temui saja agar kita tau maksudnya." Diona berbeda pendapat.
"Aku sih terserah padamu, tapi Diona benar. Dia bilang hanya menyapamu, berarti dia datang sebagai teman. Kau jangan berpikir terlalu berat." Lucca sama dengan Diona, dia penasaran pada Justin.
"Jadi menurut kalian aku temui saja dia?" tanya Elis ragu.
"Kami mendukungmu, apa pun keputusanmu." Diona tidak mau memaksa Elis.
"Aku akan mengantarmu dan menunggumu di luar, kalau kau merasa tidak nyaman aku ada di luar." Lucca sebenarnya mengerti Elis masih menaruh perasaan pada Justin, hingga gadis itu ragu untuk bertemu. Apalagi Justin sudah bertunangan. Tapi tidak baik juga jika Elis bersembunyi.
"Baiklah, aku temui dia. Ingin tau apa maksudnya." Elis memutuskan. Lucca menghubungi Justin, memberi informasi tempat dan waktu bertemu Elis.
"Ayo kita ke tempatku. Aku akan merias dirimu." kata Diona pada Elis. Dia ingin Elis tampil cantik. Elis setuju. Dia ingin tampil cantik di hadapan Justin.
__ADS_1
"Aku akan menjemputmu nanti malam." kata Lucca. Diona pun membawa Elis pulang. Diona memilihkan gaun pas badan warna soft pink untuk Elis dari koleksinya. Gaun itu berpotongan Sabrina membuat Elis tampak menawan. Rambut Elis di ikat kebelakang dengan pita satin putih. Kalung kristal putih pas leher di kenakan Elis beserta anting kristal berbentuk bunga mawar mempercantik penampilan Elis.