
"Istriku sudah ku serahkan pada rumah sakit gangguan mental. Aku sedang mengurus perceraian kami. Aku akan menikahi Claire setelah ini selesai." kata Dann dengan emosi. Lucca terdiam. Jadi begitu ceritanya. Tapi Lucca tidak mau percaya begitu saja.
"Baiklah jika nanti aku bertemu Claire akan aku sampaikan.Tapi aku tidak berjanji padamu. Aku juga tidak tau Claire mau bertemu denganku atau tidak." Lucca mengulur waktu. Dia rasa Claire harus memikirkan masak-masak keputusan untuk bersama Dann. Pria itu juga harus membuktikan kesungguhannya. Lucca juga tidak yakin apa Dann betul-betul mencintai Claire. Lucca baru mengenal pria itu. Dann tidak mungkin memaksa Lucca lagi. Pria itu tidak bergeming walau Dann sudah bicara panjang lebar. Tapi paling tidak Dann sudah mengatakan keadaan yang sebenarnya. Dann berharap Lucca membantunya. Dann pun meninggalkan Lucca, dia harus mengurus putranya yang sedang di rawat karena ulah istrinya. Lucca menghubungi Claire, memberi tau perkataan Dann, Lucca ingin Claire mempertimbangkan janji Dann.
"Maaf kau jadi susah karena aku." kata Claire menyesal.
"Tidak juga, hanya ini kabar baik untukmu menurutku." kata Lucca jujur.
"Dann memang pernah bilang dia mencintaiku. Tapi aku juga baru tau kalau dia belum bisa menceraikan istrinya karena wanita itu mengancamnya. Aku kira Dann menyayanginya dan tidak mau melepaskannya." kata Claire sedih.
"Jadi kau juga tidak tau alasan Dann belum bercerai." Lucca jadi menyadari, dia dan Claire salah paham.
"Iya, Dann tidak pernah bilang padaku. Dia tidak pernah menjanjikan pernikahan sebelumnya. Jadi aku pikir dia tidak akan pernah menikahiku." Claire terharu jika benar Dann serius. Lucca juga berharap demikian.
"Tapi tunggulah sebentar lagi. Biar dia bercerai dulu dengan istrinya. Kita lihat apakah kata-katanya benar." Lucca tidak mau percaya begitu saja.
"Ku rasa kau benar. Aku akan tetap di sini menunggu perkembangan berikutnya." Claire mengerti maksud Lucca.
__ADS_1
"Baik nanti aku hubungi lagi. Kau tenang saja di sana." kata Lucca, dia akan mencari tau. Lucca menutup teleponnya.
Mhina menyuruh mbok Yem dan Sumi untuk berbelanja agar dia dapat bersenang-senang bersama Luthan. Ini salah satu cara yang di gunakannya dari pada dia harus diam-diam keluar rumah.
"Cepat ya Luthan, nanti mereka segera kembali." kata Mhina pada Luthan.
"Iya sayang." Luthan sudah tidak sabar. Sejak dulu dia sudah sangat ingin mendapatkan Mhina. Dulu hanya Mhina yang mau berlaku baik padanya. Karena miskin tidak ada teman yang mau bermain dengannya. Tapi Mhina memperhatikannya. Mungkin karena Mhina kesepian dan juga tidak punya teman. Luthan pun mendapat apa yang di inginkannya dari gadis itu. Demikian juga Mhina, Luthan menurutinya tanpa bantahan. Tapi sekarang Mhina yang menuruti Luthan dan melakukan segala yang di inginkannya. Walaupun sudah menguasai Mhina tapi Luthan tidak pernah kasar padanya. Di luar sana banyak gadis yang bisa di dapat Luthan. Karena sekarang dia memiliki uang dan kedudukan. Tapi tidak ada yang ingin Luthan miliki. Mereka hanya di permainannya saja. Mhina obsesi terbesar Luthan. Dia sangat marah ketika pulang dulu Mhina telah di tunangkan. Tapi ketika dia tau Mhina yang suka pada Aran, Luthan pun bersabar dan mengatur siasat. Agar Mhina bisa menjadi miliknya. Walaupun Mhina mengatakan mencintai Aran, tapi selama Mhina bisa menjadi miliknya Luthan tidak keberatan. Luthan bisa dekat dengan Mhina kapan saja dia mau. Luthan menyudahi kegiatannya. Mhina tampak lelah dan tertidur. Luthan lalu mengenakan bajunya. Perlahan di ciumnya pipi Mhina.
"Tidur ya sayang. Aku pergi." Luthan lalu pergi meninggalkan rumah Aran.
"Aku datang untuk menunjukan ini." Dann menyerahkan sebuah map pada Lucca. Pria itu membukanya dan membacanya. Surat perceraian. Astaga, secepat ini. Lucca menatap Dann tajam. Yang di tatap balas menantangnya.
"Bagaimana mungkin kau bisa melakukannya?" tanya Lucca heran. Dann tersenyum sinis.
"Kau meragukan kata-kataku?" Lucca tau pria ini punya banyak kuasa. Lucca lalu berpikir, sekarang Dann sudah membuktikan niatannya. Dia tetap menginginkan Claire. Lucca jadi bimbang.
"Apa lagi yang kau pikirkan? Aku sudah jujur padamu dan melaksanakan niatku. Bagaimana denganmu?" tuntut Dann. Dia semakin yakin Lucca tau di mana Claire. Lucca menghela napas. Sepertinya memang tidak bisa mengelak lagi.
__ADS_1
"Baiklah aku juga harus jujur padamu. Sebenarnya ini urusan kalian berdua. Aku tidak seharusnya ada di tengah kalian. Akan kuberikan alamat Claire. Kau bujuklah sendiri. Kalian harus bicara." Lucca menuliskan alamat tempat ayah Elis. Lalu menyerahkan pada Dann. Pria itu menerimanya lalu membacanya.
"Jadi dia tidak di sini. Begitu jauh dia pergi." kata Dann kesal. Dia pikir Claire masih di Italy.
"Kau lihat kan dia bisa terbang jauh jika dia mau. Maka jangan buat dia kecewa." kata Lucca sambil tersenyum. Kali ini dia merasa menang dari Dann.
"Harus ku akui, kau pria yang baik. Kau mau menolong Claire walau kau tidak dekat dengannya. Bisa di bilang kau cukup melindunginya. Kau juga tidak mengambil keuntungan dari itu. Claire tepat bertemu denganmu." Dann memuji. Lucca tertawa. Kalau saja Dann tau Claire pernah mengincarnya, pasti Dann tidak akan seramah itu padanya.
"Aku hanya sekedar membantu. Tugasku selesai di sini. Pergi dan bujuklah gadis itu. Ke dengar di sana banyak yang mengejarnya." kata Lucca memanas-manasi Dann.
"Tidak akan kubiarkan." wajah Dann mengeras. Dia lalu memutuskan untuk segera pergi. Dann akan menemui Claire. Perjuangan Dann tidak sampai di situ. Dia datang untuk menjemput Claire. Awalnya Claire tidak mau menemuinya. Tapi karena kegigihan Dann, Claire akhirnya mau bertemu dan mendengar perkataan pria itu. Claire tidak langsung mengiyakan ajakan Dann untuk kembali bersamanya. Tapi Claire melihat Dann bersungguh-sungguh. Maka dia pun luruh dan ikut bersama Dann kembali ke Italy.
Mhina tengah bersantai ketika tiba-tiba dia merasa pusing. Tau-tau dia jatuh pingsan. Para pekerja menjadi panik dan menghubungi Aran. Mhina pun di bawa ke rumah sakit. Aran meminta Parjo untuk membawanya, sedangkan Aran segera menuju ke rumah sakit dari kantornya. Seperti biasa dokter Arfan Adisaka yang menangani Mhina. Aran menunggu di depan dengan cemas. Dia belum memberi tau yang lain. Aran ingin tau dulu apa masalah Mhina kali ini. Arfan pun keluar.
"Bisa kita bicara?" Arfan berkata sambil tersenyum. Aran hanya mengangguk, lalu mengikuti Arfan keruangannya.
"Ini sebenarnya kabar baik. Tapi bukankah kamu mau menundanya?" tanya Arfan ketika mereka telah duduk berhadapan di ruangannya.
__ADS_1