
"Baiklah jika seperti itu mungkin Di tau orangnya. Sepertinya kita mulai bisa meraba benang merahnya." Aran jadi punya gambaran.
"Kabari aku lebih lanjut atau jika butuh bantuan, aku akan ke sana." Paul jadi tidak tenang.
"Tenang saja, mereka sudah di tangkap. Nanti aku kabari lebih lanjut. Terima kasih untuk keteranganmu." Aran menutup pembicaraan. Dokter sudah keluar dan menghampiri mereka.
"Bagaimana dokter keadaan mereka berdua?" tanya Luthan yang tadi sempat bertemu sang dokter.
"Untuk nona Diona, dia tidak apa-apa dan sudah sadar. Dia akan kami pindahkan ke ruang rawat. Jika sudah merasa lebih baik hati ini juga boleh pulang. Tapi untuk nona Leana, dia mengalami keretakan pada tulang pahanya dan beberapa memar pada tubuhnya. Dugaan saya dia menerima pukulan benda tumpul atau mungkin tendangan pada pahanya. Nona Leana harus menjalani perawatan. Sebentar juga akan di pindah ke ruang rawat." dokter menjelaskan dengan nada prihatin.
"Pasti sakit sekali rasanya." kata Aran sedih.
"Kurang ajar sekali dua berandal itu, menyakiti wanita." kata Agam kesal. Sedangkan Luthan terdiam, dia mengenang bagaimana Leana menyeret kakinya demi menyelematkan Diona. Dalam hatinya dia memuji dan kagum pada Leana.
"Baiklah dok terima kasih untuk keterangannya. Biar mereka di pindahkan pada satu kamar saja. Saya akan urus semuanya." Aran menepuk bahu dokter yang masih muda itu tapi terlihat pintar.
"Sama-sama, saya tinggal dulu. Kalian bisa bertemu mereka sebentar lagi." dokter itu pun berlalu. Banyak tugas yang harus dia lakukan. Aran pun mengurus kepindahan Diona dan Leana ke ruang rawat. Sedang Luthan dan Agam tetap menunggu Diona dan Leana di pindahkan. Aran menghubungi Rianto asistennya, memintanya untuk menyusulnya ke Singapure. Banyak yang harus di lakukan. Diona dan Leana pun di tempatkan di ruang yang sama. Hal ini memudahkan Aran untuk menjaga mereka.
"Di sayang, kamu merasa lebih baik?" tanya Aran yang baru bisa bertemu Diona.
"Aran aku kenapa?" tanya Diona lemah. Dia belum lama sadar dan merasa bingung ada di rumah sakit.
"Ada yang berupaya membawamu dari bandara. Mereka membuat Leana cedera. Luthan dan Agam yang menolong kalian." Aran menunjuk pada Luthan dan Agam. Mereka belum meninggalkan rumah sakit karena kejadian yang sebenarnya belum jelas.
"Luthan?" tanya Diona heran.
__ADS_1
"Ya, kamu kenapa? Apa kamu tau mereka?" tanya Luthan ramah.
"Aku tidak tau mereka siapa, yang aku ingat pergi ke toilet bersama Leana. Aku masuk ke dalam bilik lalu ketika keluar ada yang memukul belakangku dan aku tidak tau lagi." Diona berkata jujur.
"Bajumu di pukul hingga memar. Untuk sementara dokter memberi obat penghilang rasa sakit. Kalau kau merasa lebih baik kau bisa keluar rumah sakit hati ini. Tapi jangan di paksakan ya Di." Aran berkata lembut.
"Leana bagaimana?" tanya Diona cemas.
"Dia cedera pada kakinya dan harus di rawat." Aran menggeser tubuhnya sehingga Diona bisa melihat gadis yang terbaring di belakang Aran adalah Leana.
"Apakah parah?" Diona bertambah cemas. Dilihatnya Leana yang sedang tidur.
"Tulang kakinya retak karena pukulan. Dokter membuatnya tidur agar dia bisa beristirahat." jelas Aran.
"Dia menyeret kakinya yang cedera untuk mengikutimu." kata Luthan yang masih kagum dengan tindakan Leana.
"Ya Di, Leana sekarang butuh perawatan hingga kakinya sembuh dan pulih." Aran berkata sambil mengusap kepala Diona lembut. Diona masih menatap Leana dengan haru. Dalam hatinya berjanji, sekarang dia yang akan menjaga Leana. Mereka di kejutkan dengan kedatangan dua orang polisi. Tujuan kedatangan polisi adalah untuk minta keterangan Diona dan Leana. Tapi karena Leana tengah tertidur hanya Diona yang di minta keterangan.
"Anda mengenal orang ini?" tanya salah seorang polisi sambil menyerahkan foto Rick pada Diona. Tentu saja Diona tidak mengenalnya. Dengan tegas Diona menggeleng.
"Bagaimana dengan yang ini?" sang polisi menyodorkan foto yang satunya.
"Sean, jadi dia yang menculik saya?" Diona terkejut. Tentu dia mengenali orang tersebut.
"Jadi anda tau pria ini?" sang polisi merasa mendapat titik terang.
__ADS_1
"Ya, dulu dia tinggal di sebelah apartemen kami di Italy. Dia di tangkap karena memukuli istrinya. Pernah dia melarikan diri dan berusaha mencelakai saya tapi untung ada teman saya yang membantu. Dia lalu di bawa kembali ke kantor polisi. Tapi mengapa dia ada di sini?" Diona merasa heran bertemu Sean di Singapure.
"Itu juga yang menjadi pertanyaan kami. Tapi keterangan anda sangat membantu kami, karena mereka tutup mulut. Boleh tau alamat anda di Italy, dari situ kami bisa menghubungi kantor polisi yang terkait dengan kasus ini." polisi itu dengan ramah menyodorkan buku catatan untuk Diona menulis alamatnya di Italy. Ada beberapa hal yang mereka tanyakan sebelum akhirnya pamit karena tidak mau mengganggu waktu istirahat Diona.
"Jadi itu kuncinya." kata Agam jadi mengerti. Luthan diam saja, dia pun pernah akan mencelakai Diona dulu.
"Pantas Leana tidak mengenali mereka kejadiannya sudah lama ya Di." Aran berkata sambil mengepalkan kedua tangannya. Ternyata ada hal-hal di luar jangkauan Paul dalam menjaga Diona. Tapi di dampingi Leana pun masih saja terjadi hal buruk pada tunangannya itu.
"Sebaiknya Diona tetap di sini dulu. Biar istirahat, kau jadi mudah mengawasi mereka berdua Aran." usul Luthan pada Aran.
"Benar kita tidak tau apa mereka hanya berdua saja atau ada yang lainnya. Kami sih tidak keberatan untuk membantumu menjaga mereka." Agam menimpali.
"Aku sudah menghubungi asistenku untuk datang ke sini. Tapi aku hargai kebaikan kalian. Aku rasa juga Di lebih baik di sini dulu." Aran setuju, dia terharu Luthan dan Agam perhatian pada masalahnya.
"Kalau begitu kita pindah saja menginap dekat sini, rumahku terlalu jauh dari sini." kata Agam pada Luthan.
"Aku setuju, kita pindah sekarang saja. Aran bisa menjaga mereka saat ini." Luthan antusias.
"Kami tinggal dulu sebentar, nanti kami kembali lagi." Agam pamit pada Aran dan Diona. Mereka lalu keluar dari ruang rawat.
"Sebentar ya Di." Aran berkata pada Diona sambil keluar menyusul Luthan dan Agam.
"Luthan." panggil Aran yang membuat dua pria itu berhenti dan berbalik. Dengan tanda tanya mereka menatap Aran.
"Terima kasih kau sudah mau membantu kami." kata Aran tulus.
__ADS_1
"Aku berusaha menebus kesalahanku dulu. Aku seperti memiliki hutang. Biarlah aku membayar hutangku agar hatiku lega. Selagi kesempatan ini datang." Luthan berkata serius dan tulus. Agam mengernyitkan dahinya tanda bingung. Tapi dia diam saja.