
Dada Diona berdebar menerima kotak dari Aran. Perlahan di letakan ya kotak itu di atas meja dan di bukanya. Bunga tangan, Diona mengeluarkannya. Melihat bunga tangan yang cantik dan berkilau Diona dan Astrid terpukau.
"Di sengaja aku memberikan bunga tangan ini agar kau menyimpannya dan mengenangnya. Aku harap kau akan terus tersenyum jika melihatnya. Bunga ini tidak akan pernah layu seperti cintaku yang akan terus ada untukmu." Aran berkata dengan lembut. Mata Diona berkaca-kaca menatap bunga itu.
"Jangan menangis, nanti riasanmu rusak." pinta Aran melihat reaksi Diona.
"Tapi ini memang indah." kata Diona penuh haru. Bukan hanya Diona Astrid pun terharu.
"Aku tau apa pun yang aku berikan kau akan menerima dengan senang hati. Tapi melihatmu menerima bunga ini membuatku bahagia." Aran jujur akan perasaannya.
"Di harusnya memang aku yang membawamu ke tempat acara. Tapi aku ingin memberi kesempatan pada om Danu untuk mengantarkanmu padaku. Ini merupakan peristiwa yang bahagia untuknya. Kamu mengerti kan sayang." pinta Aran lagi pada gadis pujaannya. Diona mengangguk lebih terharu lagi mendengar perkataan Aran. Sedemikian ya Aran menghargai omnya.
"Aku tunggu di sana ya." Aran mengecup kening Diona sekilas, takut merusak riasan gadis itu. Aran pun keluar walau enggan.
"Ayo kita pasang riasan rambutnya." kata Astrid mengalihkan perhatian. Diona melangkah kembali ke meja rias. Tangannya masih tetap memegang bunga tangan pengantinnya. Astrid memasang hiasan rambut berbentuk bunga dengan hiasan mutiara dan kristal di sekeliling sanggul kecil pada kepala Diona. Ya Diona tidak mau memakai mahkota. Karena gaunnya sudah mewah Diona memilih hiasan rambut yang lebih sederhana. Setelah hiasan rambut selesai Astrid membantu Diona mengenakan perhiasan yang di berikan Aran. Tangan Astrid sedikit gemetar. Dia bisa membayangkan berapa harga perhiasan itu. Selesai dengan perhiasan tinggal slayer yang Astrid pasangkan pada rambut Diona. Slayer yang di pilih Diona tidak panjang.
"Kau mau di tutup wajahmu?" tanya Astrid sambil memegang slayer Diona.
"Tidak, tidak. Aku tidak mau di tutup. Ini pernikahanku, aku ingin menikmatinya. Aku ingin melihat semuanya dengan jelas." Diona menolak.
"Baiklah, begitu juga bagus. Kau cantik bagai bidadari. Biar semua bisa melihatnya." kata Astrid setuju.
__ADS_1
"Semua pengantin juga pasti seperti bidadari." ucap Diona sambil berdiri. Dia mengamati penampilannya di kaca.
"Sekarang sepatunya di pakai." Astrid menyiapkan sepatu Diona. Gadis itu mengangkat gaunnya agar bisa memakai sepatunya. Pintu di ketuk, Astrid segera membukakan pintu. Tampak Danu dan Wilma datang.
"Sayang kamu cantik sekali." Wilma menghambur masuk menghampiri keponakannya. Matanya meneliti penampilan Diona.
"Benar ini keponakanku?" tanya Danu penuh haru. Danu dan Wilma masih berbincang dengan Diona. Astrid segera membereskan peralatannya, sambil sesekali memperhatikan interaksi keluarga itu. Pekerjaannya kali ini menyenangkan. Apalagi dia ikut berlayar ke Indonesia. Setelah Astrid selesai dia keluar bersama Wilma yang memuji pekerjaannya. Tinggallah Danu dan Diona.
"Sudah siap? Rasanya berat om mengantarmu ke sana." kata Danu sambil menatap Diona penuh sayang. Belum puas rasanya mengurus dan menjaga keponakannya sudah akan di bawa orang. Walau pria itu sosok yang di cintai Diona.
"Om jangan sedih ya, nanti Di ikut sedih. Di tau belum sempat membalas semua perhatian dan kasih sayang yang om dan Tante beri. Tapi tampaknya jalannya sudah seperti ini. Doakan Di sehat dan bahagia, satu hari nanti bisa menjaga om dan Tante." kata Diona lembut. Tidak mudah baginya mengatakan itu. Ada rasa haru yang membuncah dalam dadanya.
"Jangan, jangan sedih. Om makin berat melepasmu. Ayo kita siap-siap keluar ya." Danu meraih tangan Diona untuk membawanya keluar. Sementara itu Aran telah tiba di ruangan tempat acara. Di depan pintu tampak Bayu sudah menanti.
"Sangat gugup." jawab Aran.
"Mau ku peluk?" tanya Bayu perhatian.
"Kalau bisa sih di peluk Di, kau yang peluk tidak hilang gugupku." Aran menolak. Bayu memukul lengan Aran sambil tertawa. Dia pun memutuskan untuk masuk karena sepupunya menolak di beri perhatian. Bayu melangkah di depan di ikuti Aran. Mereka berdiri berdampingan menunggu Diona datang. Tidak lama tampak Danu dan Diona di pintu masuk ruangan.
"Pengantinmu tampak berkilauan." kata Bayu pada Aran sambil melihat Danu dan Diona yang berjalan menuju ke tempat mereka.
__ADS_1
"Benar. Menyesal aku sudah mengabaikannya. Harusnya dulu aku berkeras untuk mempersuntingnya dalam hidupku." balas Aran jujur.
"Aku sudah menyimpannya untukmu." Bayu ingin menyenangkan sepupunya.
"Menyimpan apanya, kau mengenalkannya pada cowok-cowok itu." ujar Aran kesal sambil melirik pada Paul dan Lucca yang ada di ruangan itu.
"Sudah, sana sambut pengantinmu itu." Bayu menyudahi debat mereka.
"Di sangat cantik bukan." Aran terpaku pada penampilan Diona. Semakin dekat rasanya semakin cantik. Aran melangkah maju untuk menerima pengantinnya. Danu pun menyatukan tangan Diona dan Aran. Namun dia tidak melepaskan tangan keduanya.
"Aran kuserahkan keponakanku tercinta padamu. Jaga dan bahagiakan dia. Sebenarnya saya masih berat untuk melepasnya, tapi kamu sudah tidak sabar untuk membawanya. Saya hanya berpesan kadang orang bisa berjanji dengan lantang tapi pada akhirnya tetap menyakiti. Jika itu terjadi sayalah yang akan membalasmu." Danu berkata dari lembut berubah galak. Bayu tidak bisa menahan tawanya.
"Memangnya saya akan di apakan om?" tanya Aran penasaran sambil tersenyum.
"Kalau rambut di belah tujuh, kamu lebih dari itu." Danu menjawab sambil menaikan kedua alisnya.
"Iya om, saya akan melaksanakan amanat om." karena Aran berkata dengan sungguh-sungguh Danu bisa melihat keseriusan pria itu.
"Di kamu tidak berubah pikiran, ini masih bisa kita batalkan." kini Danu berkata pada Diona. Nadanya penuh tekanan. Aran langsung pucat.
"Tidak akan." jawab Diona yakin, dia tau Danu tidak serius.
__ADS_1
"Ya sudah, bawa pengantinmu Aran." Danu tersenyum dan melepas tangannya. Aran lega, dia menggenggam tangan Diona lebih erat. Di bimbingnya Diona untuk maju kedepan, melakukan ikrar pernikahan. Aran jadi teringat perkataan Danu tadi. Berikrar tapi tidak di laksanakan percuma. Banyak pasangan melakukan ikrar hanya formalitas atau prosesi saja. Karena memang harus di lakukan. Tapi Aran melakukannya dengan di sertai tanggung jawab, pada pencipta dan pada Diona. Jika pada pencipta saja bisa ingkar apalagi pada manusia. Aran tidak ingin menjadi pria yang seperti itu. Dulu jika Mhina tidak selingkuh dia masih punya tanggung jawab untuk menjaga istrinya. Namun tampaknya jodohnya adalah Diona. Setelah ikrar di laksanakan mereka menandatangani surat pernikahan. Bayu menjadi saksi dari Aran dan Danu saksi dari Diona. Tidak hanya menjadi saksi tapi Danu akan terus mengiringi pernikahan Diona.