PADA DUA HATI

PADA DUA HATI
Masalah


__ADS_3

Ketika berjalan menuju apartemen mereka di kejutkan dengan suara pertengkaran. Rupanya apartemen yang berada tepat di sebelah apartemen Paul telah terisi. Sebelumnya apartemen itu kosong. Pintu apartemen itu terbuka sehingga pertengkaran di dalamnya terdengar ke luar. Ketika mereka lewat tampak seorang pria keluar dari apartemen tersebut. Mereka bertiga terkejut. Pria itu tinggi, berkulit putih tapi memiliki tato pada tubuhnya. Diona langsung tidak menyukai pria tersebut. Pria itu juga mengamati mereka, tapi khususnya dia mengamati Diona.


"Maaf, aku tetangga baru kalian. Aku Sean." kata pria itu menyapa mereka, terlihat basa-basinya.


'Aku Paul, maaf kami mau liwat." Paul membalasnya dengan setengah hati. Dia merasa pria itu bukan pria baik-baik. Masih terdengar suara marah seorang wanita dari dalam apartemennya. Tapi pria itu tidak perduli.


"Namamu siapa?" tanya Sean pada Diona. Terlihat niatnya yang ingin berkenalan dengan Diona. Paul semakin tidak suka.


"Aku Diona." jawab Diona cepat lalu berusaha pergi dari situ. Paul menggandengnya, tau Diona merasa tidak nyaman. Sean masih terus mengawasi mereka. Sampai dia tau di mana tempat tinggal mereka.


"Aku tidak suka padanya." kata Diona berkomentar.


"Dia tampak bukan pria baik-baik. Jangan keluar ya Didi. Aku akan minta Tom untuk membantu mengawasimu." Paul jadi khawatir. Padahal dia akan segera meninggalkan Diona sediri di apartemen.


"Tenang, aku tidak akan keluar. Selama ini kan aku baik-baik saja." Diona ingin Paul tidak khawatir.


"Baiklah kalau begitu. Jangan bukakan pintu sembarangan ya." pesan Paul. Diona menukar bajunya di kamar, lalu bersantai menonton tv. Paul sedang membuatkan makan malam untuk Diona. Sesekali Diona tertawa melihat adegan lucu di tv. Sejak Danu dan Wilma kembali ke Indonesia apartemen itu sepi kembali. Amalfi liburan terakhir mereka sebelum Paul dan Diona kembali pada rutinitas biasa.


Aran baru pulang dari kantor. Dia lelah dan ini lebih larut dari biasanya dia pulang.

__ADS_1


"Aran kamu sudah pulang?" tanya Mhina dengan manis.


"Kenapa belum tidur?" tanya Aran heran. Dia pikir Mhina sudah tidur, tapi malah menunggunya.


"Suamiku belum pulang, aku belum bisa tidur." Mhina merayu. Aran diam saja. Mengetahui kebohongan Mhina membuat hati Aran kesal. Dia berjalan menuju kamarnya.


"Kamu sudah makan? Biar aku minta memanaskan makanan untukmu." kata Mhina sambil mengikuti Aran.


"Tidak perlu, aku sudah makan. Tidurlah, aku juga mau istirahat." Aran menolak niat baik Mhina.


"Aran, kapan kamu kembali ke kamar kita?" tanya Mhina sedih. Entah mengapa Aran tidak berniat untuk melakukan itu. Dia masih kesal dengan kebohongan Mhina.


"Kalau kamu mau jujur padaku mungkin aku akan mempertimbangkannya. Sudahlah, jadilah istri yang baik." kata Aran dingin. Yang dia butuhkan kejujuran dari Mhina.


"Dari dulu aku seperti ini. Jangan ganggu aku." Aran masuk ke kamarnya dan mengunci pintu. Dia semakin muak dengan sikap Mhina yang tidak merasa bersalah. Mhina kesal di tinggal Aran seperti itu. Dia pun masuk ke dalam kamarnya. Tapi pikiran Mhina tidak tenang. Dia merasa Aran tidak perduli dan acuh padanya. Hatinya jadi cemas. Apa Aran kenal dengan wanita lain? Dia harus minta Luthan mencari tau. Tanpa menyadari kesalahannya, Mhina terus berpikir buruk tentang Aran. Tapi setelah Luthan mengikuti Aran tidak ada hal mencurigakan pada diri Aran. Kegiatannya hanya seputar pekerjaan. Orang yang di temui ya hanya koleganya. Tidak ada wanita. Mhina lega mendengarnya. Dia pun mengatakan pada Luthan tidak perlu mengawasi Aran lagi. Mhina tidak tau hati Aran telah berpindah jauh darinya. Apalagi dengan apa yang di perbuatnya. Hati Aran semakin tidak nyaman bersamanya. Mhina berusaha bangun pagi untuk menemani Aran sarapan. Hari ini Sumi yang memasak. Aran sudah duduk di meja makan ketika Mhina keluar.


"Pagi sayang." sapa Mhina. Sumi mencebirkan bibirnya tanpa di ketahui Mhina.


"Hm." jawab Aran singkat. Sumi sudah mengambilkan makanan di piring Aran. Sumi kasihan pada majikannya itu yang sudah sibuk bekerja tapi istrinya sibuk dengan pria lain.

__ADS_1


"Aran kapan kau akan meluangkan waktumu?" tanya Mhina dengan manis.


"Hari Minggu kita akan mengunjungi orangtuamu." jawab Aran malas. Minggu-minggu kemarin dia sengaja membiarkan Mhina di rumah. Agar menyesali perbuatannya.


"Bukan itu maksudku. Kita pergi berdua saja makan malam atau apa." Walau Mhina bersikap manis tapi Aran tetap kesal.


"Aku sibuk. Kamu kan tau pekerjaanku banyak." jawab Aran acuh. Diam-diam Sumi mengacungkan ibu jarinya. Tanda setuju dengan Aran. Pria itu bukan tidak tau tingkah pembantunya. Tapi kalau dia tersenyum nanti Mhina salah paham.


"Sudah aku berangkat dulu. Diamlah di rumah, lakukan kegiatan yang berguna." kata Aran yang segera bangkit dan berlalu. Mhina terdiam melihat Aran meninggalkannya. Sungguh, andai saja Mhina mengakui perbuatannya dan meminta maaf, Aran tidak akan begitu. Sedangkan Sumi, dia melonjak girang melihat majikannya meninggalkan istrinya yang bermuka dua. Tiba di kantor Aran di sambut Rianto asistennya.


"Pagi tuan. Saya sudah mendapat laporan tentang orang yang bernama Luthandio tuan." Rian menyerahkan laporannya.


"Terima kasih, akan aku lihat." jawab Aran yang lalu duduk di kursinya. Rian pun meninggalkan Aran yang segera sibuk dengan laporan tersebut. Luthandio Aransyah merupakan anak yatim piatu yang masih kerabat dengan keluarga Mhina. Dia diangkat anak oleh ayah Mhina Datar Aransyah dan di sekolahkan keluar negeri. Karena kondisi kesehatan Mhina yang kurang baik, Fatar ingin Luthan yang menggantikannya satu saat nanti. Luthan bekerja di perusahaan milik Fatar. Tapi kerjanya sesuka hatinya. Pantas dia selalu punya waktu untuk Mhina, pikir Aran. Jadi dia dekat dengan Mhina karena ayah Mhina yang baik padanya, atau ada sesuatu yang lain. Aran akan mencari tau. Laporan itu memuat data Luthan secara lengkap. Aran menyimpannya di laci mejanya. Dia puas dengan pekerjaan anak buahnya.


Wilma sedang memposting foto liburannya. Lalu dia membaca komentar teman-temannya.


"Ingat ya, jangan yang ada foto Di." Danu mengingatkan.


"Aku ngerti mas." Wilma tau Danu menutup semua akses tentang Diona. Memang Diona sudah tidak aktif di media sosial. Nomer handphonenya saja sudah ganti.

__ADS_1


"Tapi mas atas pertimbangan apa kamu ijinin Di tinggal bersama Paul?" tanya Wilma penasaran. Danu mengajak pulang tanpa membahas itu lagi.


"Aku lihat dia bertanggung jawab pada Di layaknya seorang kakak pada adiknya. Dia juga membaktikan diri pada ayahnya. Bekerja siang malam seperti itu. Paul juga tidak mesum." kata Danu sambil tersenyum senang.


__ADS_2