
"Itu konser besar Florence pasti ramai. Restauran akan ramai. Maaf, kau bisa menonton bersama temanmu." Paul menyesal, tapi pekerjaannya lebih penting.
"Ya sudah, kami pergi bertiga saja." kata Diona kecewa. Dia senang jika bisa pergi dengan Paul. Tapi apa boleh buat. Diona segera melupakan rasa kecewanya, karena ini konser pertamanya. Selama ini dia tidak pernah nonton konser karena berhemat. Dia tidak mau merepotkan Danu dengan meminta uang saku lebih. Nonton konser itu kan tidak murah. Jika Danu tau, dia pasti akan merasa bersalah. Keponakannya begitu berhemat, padahal uangnya berlimpah. Tanpa Diona sadari dia gadis kaya raya. Gadis kaya yang menolak belanja dan hidup mewah. Diona bersemangat untuk menonton konser, dia ingin mempersiapkan bajunya. Ketika dia membuka lemarinya Diona tertegun. Ada gaun-gaun cantik di dalamnya. Tas, sepatu dan asesoris. Darimana ini semua?
"Paul." Diona memanggil Paul. Pria itu yang mengira Diona membutuhkan sesuatu mendatanginya.
"Ada apa?" tanya Paul ingin tau.
'Dari mana ini semua?" tanya Diona menuntut penjelasan. Hanya dia dan Paul di apartemen itu. Tidak mungkin Paul tidak tau.
"Itu hasil perburuan kami di Milan kemarin." jawab Paul sambil tersenyum.
"Jadi kalian sibuk-sibuk membelanjakan aku?" Mata Diona membesar. Dia mau protes tapi Paul menghentikannya.
"Sudahlah Didi, kau terima saja. Nanti kalau kami sudah punya istri, jangan harap kami punya perhatian lebih untukmu." ancam Paul pada Diona. Pria itu lalu pergi meninggalkan kamar Diona. Paul malas berdebat. Diona yang mendengar ancaman Paul jadi berpikir. Benarkah jika mereka punya istri akan meninggalkanku? Diona sedih membayangkan tidak bisa bertemu Bayu dan Paul lagi. Dengan terpaksa Diona menerima barang-barang dua pria itu. Diona pun memilih baju yang akan di pakainya. Paul tengah menyiapkan roti untuk Diona bawa ketika bel berbunyi. Paul penasaran dia pun membuka pintu. Tampak Lucca berdiri dengan terkejut.
"Lucca, kau pasti menjemput Diona. Ayo masuk ." kata Paul yang berjalan menuju kamar Diona. Paul mengetuk pintunya
__ADS_1
"Didi, Lucca datang menjemputmu." kata Paul lantang. Dia kembali lagi ke dapur untuk membereskan rotinya. Lucca masuk masih dengan rasa terkejutnya. Dia tidak menyangka Diona tinggal bersama Paul. Selama ini dia mengira Diona tinggal seorang diri. Tapi mungkin Paul hanya mampir, pikirnya. Lucca duduk di sofa dengan diam mengamati. Diona keluar dari kamarnya. Dia tampak manis dengan gaun pemberian Bayu. Tapi karena gaun itu sangat pendek Diona mengenakan celana panjang ketat agar dia tidak repot dengan roknya. Tas selempang yang di gunakannya pemberian Paul. Pria itu menatap Diona dengan terpana. Begitu pun Lucca.
"Wah selera Bayu boleh juga ya. Tapi ada yang lupa." Paul berjalan ke kamar Diona. Dia membuka lemari mencari mantel. Ternyata Diona hanya punya dua. Ini pr untuknya, membelikan Diona mantel baru. Paul mengambil satu.
"Bawa ini kau akan pulang malam. Juga ini kau kan mudah lapar." Paul mengambil kantong berisi roti dan menyerahkannya pada Diona.
"Wah roti, terima kasih. Paul kau akan pergi kerja?" tanya Diona.
"Tentu saja, aku harus bekerja. Jika tidak nanti kita makan apa?" kata Paul dengan memelas.
"Aku juga akan berangkat, kunci mobilku di mana ya?" Paul melihat ke sekitar ruangan.
"Di kamarmu lah, kau kan tidak pernah menaruhnya sembarangan." kata Diona melihat Paul dengan lucu. Karena terpesona dengan penampilan Diona Paul jadi ling lung.
"Ya sudah, kalian berangkat saja. Ini konser besar pasti ramai nanti tidak dapat parkir. Aku titip gadis tukang lapar ini ya Lucca." kata Paul mengusir mereka.
"Jangan khawatir, aku akan menjaganya." kata Lucca sopan. Diona menarik Lucca untuk pergi. Dia sudah tidak sabar ingin melihat konser. Mereka masuk ke dalam mobil.
__ADS_1
"Kita akan menjemput Elis?" tanya Diona pada Lucca. Pria itu hanya mengangguk. Pikirannya masih terpaku pada kenyataan yang di lihatnya tadi.
"Di, kau tinggal bersama Paul?" tanya Lucca hati-hati.
"Paul yang punya apartemen, aku menumpang. Kau tau kan aku gadis miskin. Sekolah saja beasiswa." kata Diona dengan riang. Tidak ada nada sedih di dalamnya. Lucca jadi santai.
"Apa keluargamu tau?" tanya Lucca lagi.
"Tidak. Awalnya sahabatku Bayu mengatur aku tinggal di apartemen Paul sendirian. Tapi ternyata Paul batal bekerja di Paris dan dia pulang. Jadi Paul yang menemaniku karena Bayu sibuk tidak bisa sering menengokku. Aku tidak bilang pada keluargaku, untuk apa? toh kami baik-baik saja. Jujur tanpa Paul aku akan merasa sendirian. Di sini berbeda dengan aku kuliah dulu. Kata Bayu aku jadi gadis manja sekarang." Baru kali ini Diona bercerita dengan panjang. Tapi Lucca jadi tau. Ada dua pria yang menjaga Diona. Apakah dua pria itu tidak punya cinta untuk Diona? Lucca harus mencari tau. Elis sudah siap di depan rumah bibinya. Mereka tidak perlu menunggu. Karena Diona duduk di depan bersama Lucca, maka Elis duduk di kursi belakang. Bagi Elis ini bukan konser pertamanya. Di negaranya dia sering menonton konser bersama teman-temannya. Mereka tiba di tempat konser, tapi pintu belum di buka. Mereka pun berdiri menunggu.
"Di, tasmu cantik sekali." kata Elis melihat tas Diona.
"Aku tidak tau ini pemberian Bayu atau Paul. Minggu lalu kami ke Milan, aku juga heran mengapa mereka sibuk-sibuk di toko busana wanita. Ternyata isi lemariku bertambah." kata Diona jujur. Elis jadi memperhatikan penampilan Diona secara keseluruhan. Penampilan Diona memang keren. Terlihat apa yang di pakainya bukan produk murah. Diona beruntung, pikir Elis. Sedangkan Lucca jadi teringat perkataan Diona jika dia gadis miskin. Apa dua pria itu yang menanggung hidup Diona dan memenuhi kebutuhannya? Ah, Lucca jadi semakin penasaran dengan Diona.
"Di bolehkah aku pinjam tasmu untuk pergi ke pesta?" tanya Elis kemudian.
"Tentu saja boleh." Diona mengangguk. Elis jadi tau Diona bukan gadis yang pelit. Untuk Diona, dia mencatat untuk membeli tas sebagai hadiah bagi Elis satu hari nanti. Mereka pun menonton konser. seorang pemain Celo yang masih muda asal Rusia. Pantas saja Lucca menyukainya. Namanya saja hampir sama. Penampilannya di barengi dengan permainan piano yang juga hebat. Kolaborasi mereka menjadikan lagu yang mereka mainkan terdengar indah. Diona terkesan. Dia mengungkapkan kesan manisnya pada Paul dengan bercerita dan mengirimkannya pada Paul. Membaca pesan Diona Paul tersenyum manis. Dia ikut senang Diona suka konser itu. Dia juga jadi tau jika Diona saat ini baik-baik saja. Paul bisa percaya pada Lucca.
__ADS_1