
Justin baru tersadar.
"Sebenarnya Elis juga tidak mau bertemu denganmu karena itu. Tapi kami memintanya untuk bertemu denganmu. Aku juga jujur padamu, kami sangat ingin tau tujuanmu bertemu Elis." kedudukan satu sama antara Lucca dan Justin.
"Aku sudah memutuskan pertunanganku." Justin berkata yakin.
"Kau memutuskan tunanganmu melalui pesan? Bagaimana tanggapannya?" Lucca merasa pria ini luar biasa...............menjengkelkan.
"Tidak. Aku menelponnya. Dia marah tapi kesombongannya mengatakan dia bisa mencari pria yang lebih baik dariku." jawab Justin kesal.
"Lalu sekarang apa yang kau mau, Elis?" Lucca mengejek. Dia tidak yakin Justin serius.
"Baiklah, mungkin aku harus bicara panjang lebar agar kau tidak salah paham. Sejak dulu aku tidak pernah punya keinginan mengurus peternakan. Aku meninggalkan Elis teman masa kecilku pergi ke New York untuk menimba ilmu dan menjadi pengacara. Aku berhasil, lalu aku mendapat tawaran pekerjaan di London. Aku sukses dan mulai merubah gaya hidupku. Aku kemudian bertemu dengan seorang gadis yang menarik hatiku. Cantik dan berkelas, aku rasa hidupku lengkap bersamanya. Kami pun bertunangan. Aku tidak punya keinginan untuk kembali ke rumah. Sampai aku bertemu Elis di pameran kemarin. Ternyata Elis bisa berubah secantik itu. Tapi walau berubah dia tetap Elis yang sederhana. Aku jadi sadar, aku merindukannya. Aku ternyata merindukan kesederhanaan yang dulu kami rasakan. Dulu aku merasa Elis tidak cocok untukku. Untuk gaya hidupku yang baru, itu sebabnya walau teringat aku tidak pernah menghubungi Elis. Tapi gadis yang bersamaku cocok untuk itu, meskipun aku tidak mencintainya. Aku jadi sadar ternyata selama ini yang kudapat kehampaan. Aku sukses dan punya uang banyak tapi aku tidak bahagia. Aku ingin bersama Elis, mungkin aku mencintainya. Aku ingin menata hidupku lagi bersamanya." perkataan Justin membuat Lucca terdiam. Lucca terkejut. Benar, kalau Justin tidak bicara dia akan salah paham.
"Lalu apa yang akan kau lakukan sekarang? Mendapatkannya lalu meninggalkannya ke London. Aku masih belum mengeri dengan maksudmu yang ingin menata hidupmu." Lucca tetap punya tanggung jawab melindungi Elis.
"Aku tidak akan menemuinya dulu. Aku akan kembali ke London dan membereskan pekerjaanku lalu berhenti. Aku akan kembali ke Amerika dan memulai dari awal lagi. Itu pun nanti akan ku bicarakan dengan Elis, apa yang di inginkannya." jelas Justin.
"Kalau Elis menolakmu?" tanya Lucca menguji Justin.
"Aku tetap akan kembali ke Amerika dan mengejar cintanya. Aku butuh Elis dalam hidupku. Dan Elis butuh diriku agar dia tidak bosan." Justin tertawa.
"Baiklah sementara kau pergi aku akan menjaganya " Lucca tau Elis punya perasaan pada Justin, tapi dia tidak mau mengatakannya. Biar Justin membuktikan perkataannya, mengejar cinta Elis.
__ADS_1
"Aku tau kau akan menjaganya. Selama ini itu kan yang kau lakukan. Tolong sampaikan suratmu untuk Elis. Aku akan kembali malam ini. Mungkin kita tidak bertemu lagi." Justin menyerahkan sebuah amplop surat pada Lucca.
"Akan ku sampaikan pada Elis." Lucca menyimpan surat itu. Justin pun pamit, dia akan beristirahat dan membereskan barangnya karena nanti malam dia pulang. Lucca langsung menuju rumah bibi Elis. Dia akan menyampaikan surat dari Justin. Elis menerima surat itu dengan terkejut.
"Bukalah, pasti itu penting bagimu." kata Lucca dengan yakin. Perlahan Elis membuka surat itu dengan berdebar. Lucca diam memperhatikannya. Dia juga sebenarnya penasaran.
Elisabeth Morgan ku tersayang.
Aku minta maaf karena telah mengabaikan perasaanku padamu karena ambisiku. Aku pulang untuk membereskan urusanku. Aku juga sudah memutuskan pertunanganku, karena aku tidak mencintainya. Aku akan kembali menjadi pria sederhana yang dulu kau kenal. Sungguh, aku merindukan kebersamaan kita yang dulu. Aku akan datang kembali padamu, jadi tunggulah aku. Semoga kau memiliki perasaan yang sama denganku. Jika tidak, aku akan tetap mengejar cintamu dengan segenap pesona yang kumiliki. Tolong sampaikan rasa terima kasihku pada temanmu Lucca, karena sudah merepotkannya. Aku minta dia untuk menjagamu untukku. Sekali lagi, untukku. Jaga dirimu baik-baik.
Justin Filmore milikmu.
Elis pun menangis setelah membaca surat itu, membuat Lucca binggung.
"Pria bodoh." kata Lucca sambil tersenyum. Justin sudah mengungkapkan perasaannya.
"Apakah dia sudah pergi?" tanya Elis sedih.
"Nanti malam." jawab Lucca singkat.
"Aku ingin bertemu dengannya." kata Elis memohon.
"Tunggu. Bagaimana perasaanmu? kita harus pastikan itu dulu." Lucca menatap Elis, butuh jawaban.
__ADS_1
"Tentu saja aku senang dia kembali untukku." kata Elis dengan terharu. Lucca lega. Akhirnya wajah Elis berubah cerah sekarang.
"Ayo aku antar kalau kau ingin bertemu." Lucca menawarkan jasanya. Elis tentu saja tidak menolak. Dengan celana jeans dan blus birunya Elis tampak manis. Lucca mengantarnya ke hotel tempat Justin menginap. Menurut petugas hotel Justin masih ada di kamarnya. Pria itu heran ketika di beri tau ada tamu menunggunya di lobby. Justin pun turun ke lobby. Di sana dia melihat seorang gadis masa lalunya. Elisabeth Morgan. Sekaligus gadis yang akan menjadi masa depannya. Mereka saling bertatapan. Justin menghentikan langkahnya. Tatapannya masih mencari jawaban. Untuk apa Elis datang. Elis yang menatap Justin dalam diam, bersyukur dalam hati. Pria itu belum pergi.
"Aku akan menunggumu." kata Elis sambil tersenyum. Justin mendengar itu sangat bahagia. Dia segera berlari dan memeluk Elis.
"Terima kasih untuk tidak berubah. Terima kasih untuk mau menungguku. Dan terima kasih untuk mau menemuiku. Aku jadi tidak perlu menunggu lama untuk tau jawabanmu." bisik Justin pada Elis. Justin melepas pelukannya dan mencium kening Elis. Lucca menatap mereka dengan senang.
"Tinggalkan dia. Aku akan mengantarnya pulang, sebelum berangkat." kata Justin pada Lucca. Justin ingin menghabiskan waktunya bersama Elis. Karena tidak tau berapa lama mereka akan berpisah. Lucca mengangguk. Dia pun pergi. Kata orang jika sedang jatuh cinta dunia milik berdua. Dari pada jadi nyamuk di tepuk sakit lebih baik pergi saja.
Aran harus ke Surabaya. Dia pun memberi tau Dewanti.
"Bun, Aran akan ke Surabaya. Bunda mau ikut?" tanya Aran di telpon. Dewanti tengah menemani Rustam makan siang.
"Mau dong bunda pasti ikut." kata Dewanti dengan senang hati. Dia punya misi rahasia.
"Ya sudah. Nanti Aran kasih tau kapan kita berangkat." Aran puas sudah memberi tau bundanya.
"Ya sayang. Bunda tunggu." Dewanti memutus panggilan.
"Kamu mau ke mana sayang?" tanya Rustam curiga.
"Aku mau ikut Aran ke Surabaya." jawab Dewanti yang kembali makan.
__ADS_1
"Apa? Ga bisa dong sayang. Nanti aku bagaimana?" Rustam tidak setuju.