
"Tolong siapkan makan siang ya mbok, kami mau makan." kata Aran pada mbok Yem. Dia lalu mengajak Diona melihat-lihat rumahnya. Mereka naik ke lantai dua, melihat-lihat kamar dan balkon.
"Ini kamarku, jika kau masuk tidak keluar lagi." kata Aran menggoda Diona. Tapi Diona tidak takut , dia malah penasaran dengan kamar Aran. Dia pun masuk. Aran tersenyum senang. Dia jadi salah paham. Sama seperti yang di lihat Bayu, begitulah kamar Aran. Diona tersenyum melihat foto dirinya dan Aran. Hanya itu, tidak ada foto lagi.
"Nanti kita pasang foto pernikahan kita di sana." Aran menunjuk dinding di atas kepala tempat tidur. Diona merona. Untuk menutupi rasa malunya dia berjalan ke balkon, memandang kolam renang di bawah. Aran menyusulnya. Di peluknya Diona dari belakang.
"Kau suka rumahku? kau akan jadi nyonya di sini." kata Aran lembut. Di ciumnya pipi Diona.
"Aku suka." jawab Diona jujur. Dia memang suka rumah Aran.
"Tadinya jika kau tidak suka kita akan cari rumah baru." Aran menjelaskan niatnya. Dia ingin Diona merasa nyaman di rumah mereka.
"Aku suka ko." kata Diona cepat.
"Kalau begitu kapan kita menikah? Aku ingin kau segera tinggal bersamaku di sini." Aran semakin erat memeluk Diona. Di perlakukan begitu Diona berdebar dan semakin merona.
"Kita harus bicara dulu dengan om Danu. Aku punya janji untuk pulang lagi ke Surabaya." Diona mengingatkan Aran bahwa keputusan itu bukan bergantung pada Diona saja.
"Nanti kita bicara dengan om Danu. Aku sudah tidak sabar membawamu bersamaku." Aran jujur dengan perasaannya. Sumi di bawah melihat apa yang di lakukan Aran dan Diona di balkon kamar.
"Mbok sepertinya tuan Aran cinta ya sama tunangannya." kata Sumi lapor pada mbok Yem di dapur.
"Ya jelas dong. Lihat tidak calon den Aran ini beda dengan nyonya Mhina. Cantik, lembut dan baik pada kita " kata mbok Yem memuji.
"Memangnya nyonya Mhina tidak cantik mbok?" tanya Sumi heran.
"Bukan begitu. Cantik itu bukan hanya wajah, tapi juga hati. Si non sudah terlihat cantiknya luar dalam." jelas mbok Yem. Sumi mengangguk- ngangguk tanda mengerti.
"Pantas perlakuan tuan beda ya mbok." Sumi melihat perbedaannya.
__ADS_1
"Mungkin yang dulu di jodohkan, yang sekarang pilihan hati den Aran." mbok Yem benar-benar mengenal majikannya. Mereka pun sibuk menyiapkan hidangan di meja makan.
"Ayo kita turun, aku tidak jamin jika kau terus di sini bersamaku." kata Aran melepaskan pelukannya. Diona tersipu. Dia memang belum pernah berduaan saja dengan Aran seperti ini. Aran menggandengnya turun. Mbok Yem melihat mereka dengan tersenyum. Benar dugaannya. Kali ini benar pilihan hati majikannya. Aran membantu Diona untuk duduk, lalu dia duduk di hadapan Diona.
"Silahkan non, ini masakan Sumi." mbok Yem mempersilahkan makan sambil menuangkan air minum.
"Mbok tidak makan sekalian?" tanya Diona ramah, dia bisa merasakan mbok Yem pasti sudah lama bekerja pada Aran.
"Mbok di belakang non, sama yang lain. Non di sini sama den Aran, kasihan kalau makan sendirian." mbok Yem punya maksud lain dari kata-katanya. Diona paham, mbok Yem ingin Diona cepat-cepat menjadi istri Aran.
"Terima kasih mbok." Diona cuma bisa menjawab itu, tidak bisa berjanji. Aran melihat interaksi itu sambil tersenyum. Tampaknya para pekerjanya menyukai Diona. Mbok Yem pun berjalan ke belakang.
"Mau kuambilkan?" tanya Diona manis pada Aran. Alis Aran terangkat tanda setuju. Diona mulai mengambilkan menu makan siang lalu menyerahkan pada Aran.
"Calon istri yang baik." puji Aran. Mhina tidak pernah melakukan untuknya. Walau Aran juga tidak pernah minta di perlakukan manis pada Mhina.
"Nanti sudah jadi istri beda lagi " seru Diona iseng.
"Salah, lebih galak. Aku yang harus di siapin." jawab Diona dengan senyum nakal. Aran jadi gemas.
"Kalau mau di siapin sekarang saja, aku mau ko siapin kamu." jawab Aran mesra. Diona jadi tersipu. Niat mengerjai Aran malah dia yang terjebak.
"Ayo pindah sini." Aran akan membuktikan kata-katanya.
"Nanti kalau sudah jadi istri." Diona berkilah. Aran tersenyum merasa menang. Mereka pun makan dalam diam, tapi sambil saling melirik.
"Enak rasanya?" tanya Aran ingin tau pendapat Diona tentang masakan Sumi.
"Enak " jawab Diona singkat.
__ADS_1
"Padahal kalau di siapin lebih enak loh." Aran menggoda, dia suka melihat Diona tersipu. Tidak suka di goda Diona menendang kaki Aran di bawah meja.
"Berani ya tendang kaki aku. Mau nginap di sini rupanya." Aran protes sambil mengancam. Tatapannya penuh makna. Diona menunduk sambil menggigit bibirnya. Dia sudah salah langkah. Ini kan rumah Aran, tentu saja dia yang berkuasa di sini.Aran senang, dia jadi punya alasan untuk menahan Diona di sini. Sumi yang diam-diam mengintip terkikik geli melihat kelicikan majikannya. Mbok Yem diam-diam menghampiri. Di pukulnya pantat Sumi pakai gagang sapu.
"Di suruh makan , bukannya makan malah ngintip ke dalam." seru mbok Yem kesal. Sumi terkejut. Di pegang ya pantatnya yang sakit. Tapi dia tidak berani membantah mbok Yem. Sumi pun beranjak menuju dapur kotor di belakang. Di sana tampak Parjo sedang menikmati makan siangnya.
"Sumi, boleh tambah lagi?" tanya Parjo yang masih belum kenyang.
"Habis gali kuburan, makanya tambah?" Sumi menumpahkan kekesalannya pada Parjo.
"Iya , buat kamu." balas Parjo kesal. Tanpa memperdulikan Sumi dia pun mengambil lauk kembali. Aran mengajak Diona duduk-duduk di tepi kolam renang setelah makan.
"Di , duduknya dekat aku dong." pinta Aran melihat Diona duduknya agak jatuh.
"Tidak mau, ada yang lihat." kata Diona, dia merasa di awasi.
"Sumi, beli kerupuk sana di Bandung." seru Aran kencang. Sumi di dapur yang tengah mengintip membanting sebelah kakinya.
"Tuan Aran tau sih aku ngintip." kata Sumi marah. Lalu dilihatnya mbok Yem tampak menghampirinya sambil memegang gagang sapu. Sumi pun ambil langkah seribu. Dia tidak mau pantatnya menjadi sasaran gagang sapu mbok Yem.
"Tuh sudah pergi." kata Aran yakin, walau dia tidak lihat. Diona tersenyum geli. Rupanya Aran tau siapa pelayannya yang paling iseng.
"Ayo dong Di, dekat sini." bujuk Aran. Diona pun bergeser.
"Sekarang katakan padaku apa rencanamu setelah wisuda?" tanya Aran berharap semoga keinginannya menjadi prioritas Diona.
"Aku harus mencari tempat dulu untuk lukusan-lukisanku." kata Diona berbeda dengan harapan Aran.
"Lukisan?" tanya Aran heran.
__ADS_1
"Selama setahun ini tidak terasa aku banyak melukis. Aku butuh tempat untuk menampungnya." keluh Diona.