PADA DUA HATI

PADA DUA HATI
Suka Pada Paul


__ADS_3

"Kau mabuk ya." kata Diona marah.


"Aku kan baru turun dari pesawat." Lucca membela diri. Banyak yang mereka bicarakan sebelum pulang. Misalnya tentang Becky. Betapa muaknya Lucca melihat Becky. Lalu baiknya Brad, Lucca jadi ingat belum mengabari temannya itu. Sambil mengantar Diona pulang Lucca bicara pada Brad.


Bayu datang untuk bertemu dengan Paul. Tapi karena Paul masih bekerja Bayu putuskan untuk langsung ke apartemen. Diona membukakan pintu.


"Hai cantik, apa kabarmu?" tanya Bayu ketika melihat wajah Diona.


"Astaga, baru datang langsung merayu." balas Diona, dia senang Bayu datang.


"Tidak rindu aku nih?" Bayu masuk dan duduk di sofa.


"Aku justru bingung kau tidak datang-datang. Aku pikir kau sudah lupa padaku." Diona ikut duduk dekat Bayu.


"Mana mungkin aku lupa. Hanya sibuk saja. Bagaimana sekolahmu? Tidak terasa sudah setengah tahun lebih ya. Sudah bisa melukis apa saja?" tanya Bayu sambil mengamati Diona. Gadis itu membuka ponselnya, memperlihatkan beberapa foto hasil lukisannya. Bayu tersenyum melihatnya.


"Lumayan bagus, kau simpan di mana lukisan-lukisan ini?" Bayu bisa melihat bakat seni Diona.


"Ada di sekolah." Diona meraih kembali ponselnya.


"Kau akan kesulitan untuk membawanya pulang nanti. Biar sebagian aku bawa."kata Bayu menyadarkan Diona. Betul juga, pikir Diona.


"Baik besok aku bawa pulang." Diona mulai memilih lukisan yang akan di bawanya pulang ke apartemen. Sementara Bayu tertidur merebahkan dirinya dan tertidur. Diona yang melihat Bayu tertidur jadi merasa mengantuk juga. Dia pun pergi ke kamarnya dan tidur. Paul sudah mendapat kabar tentang kedatangan Bayu. Dia putuskan untuk pulang tidak terlalu malam.


"Paul, gadis itu datang lagi." kata Ron tiba-tiba di ruangan Paul.


"Aku tidak punya waktu mengurusi hal seperti itu." jawab Paul kesal.


"Kenapa? Dia cukup cantik, sopan." Ron tersenyum pada bosnya.


"Apa peduliku." Paul tidak acuh meneruskan pekerjaannya. Beberapa waktu yang lalu, Paul menolong seorang gadis yang jatuh pingsan. Saat itu Paul akan ke restauran. Karena tidak tega Paul menolongnya. Tapi sejak saat itu sang gadis selaku datang ke restauran.


"Ternyata nasibmu sama dengan ayahmu." kata Ron kemudian.

__ADS_1


"Jangan samakan aku dengan ayahku." Paul teringat ulah ayahnya.


"Yah bedanya kalau ayahmu di datangi wanita tidak tau malu. Tapi kalau dirimu di datangi wanita baik-baik." kesimpulan Ron.


"Dari mana kau tau dia wanita baik-baik?" tanya Paul curiga.


"Semua juga tau dan bisa melihat, kalau itu wanita baik-baik." jawab Ron yakin.


"Jadi kalian membicarakan diriku?" Paul tambah kesal.


"Hanya kalau dia datang." Ron tersenyum. Paul memang tampan dan baik hati. Pantas jika ada wanita yang suka.


"Apa karena kau sudah punya Diona, jadi kau menolaknya." Ron memancing.


"Jangan bawa-bawa Diona." Paul menegur, tidak suka.


"Kemana Diona? Sudah lama tidak datang." Ron tulus bertanya.


"Kami merindukan Diona, dia ramah dan ringan tangan." Ron maksud jika Paul benar berpacaran dengan Diona, mereka semua setuju. Paul hanya memalingkan wajahnya. Berpacaran, pikirnya. Ibunya saja belum dia temukan. Pekerjaannya menumpuk seakan tidak ada habisnya. Ayahnya masih perlu di perhatikan dan di hibur, walau Paul kesal juga pada ayahnya. Ron pergi meninggalkan Paul. Dia kasihan melihat seorang gadis yang sedang duduk seorang diri. Matanya terus mencari Paul. Alicia namanya, Ron tau dari pelayan yang lain. Kadang gadis itu kecewa ketika tau Paul tidak di sana. Paul kan harus berkeliling mengunjungi cabang lain. Yang jelas Alicia tetap menanti kesempatan untuk bertemu Paul lagi. Paul pulang ketika Diona sudah tidur. Bayu tengah menonton tv sambil menghabiskan sisa pizza. Dia dan Diona memesan pizza untuk makan malam mereka berdua.


"Kenapa kau beli makanan tidak sehat ini?" tanya Paul protes.


"Diona merindukannya." jawab Bayu sambil tersenyum.


"Memangnya aku tidak tau, dia suka membelinya bersama teman-temannya." kata Paul sambil menuju kamar Diona. Di lihatnya gadis itu memang sudah tidur.


"Sudah jangan mengomel saja. Memang ada apa di restauran?" Bayu curiga Paul kesal pada pekerjaannya.


"Jadi bagaimana, sudah ada hasilnya?" tanya Paul sambil duduk dengan minuman dingin di tangannya.


"Tentu saja. Mana mungkin aku berani bertemu denganmu jika belum." Bayu tersenyum jail.


"Memangnya aku sekejam itu. Kau bertemu dengan ibuku?" Paul jadi penasaran.

__ADS_1


"Tidak, tapi sudah pasti dia ada di rumah itu. Nanti aku antar ke sana. Kau akan kesulitan mencarinya sendirian." Bayu kali ini bicara serius.


"Syukurlah, biar aku pikir dulu baiknya bagaimana. Apa ibuku mau bertemu ayahku?" Paul mulai berpikir.


"Aku ragukan itu. Tapi ayahmu tetap harus mencoba kan." Bayu sendiri merasa jika itu dia, maka dia akan berusaha mendapatkan kembali istrinya.


"Nanti sajalah, aku bicara dulu dengan ayahku. Aku mau tidur. Lelah rasanya." Paul lega ibunya sudah di temukan. Tinggal memikirkan langkah selanjutnya. Pagi hari Diona sudah duduk manis menanti sarapan yang sedang Paul buat. Bayu masih tidur di sofa. Tampaknya dia tidur larut malam karena menonton tv.


"Jangan makan pizza lagi. Nanti gendut." kata Paul sambil menyodorkan sepiring salad sayur dan kentang kukus. Diona tersenyum sambil mengaduk saladnya. Di dalam salad sayurnya ada daging asap yang dia suka.


"Aku akan mengantarmu, lalu aku akan pergi bersama Bayu." kata Paul lagi. Diona hanya mengangguk karena dia sibuk dengan sarapannya. Selesai sarapan Paul mengantar Diona ke sekolah. Di sana Lucca sudah menunggunya.


"Hai Di." sapa Lucca ketika Diona baru turun dari mobil.


"Hai Luc." Diona melambai pada Paul, lalu menghampiri Lucca.


"Kau sudah dengar kabar dari Elis? Mereka sudah menikah." kata Lucca sambil tersenyum.


"Astaga secepat itu." Diona segera mencari handphonenya.


"Ah ternyata Elis menghubungiku, tapi aku sudah tidur." Diona melihat ada panggilan tidak terjawab semalam.


"Mereka akan segera kembali." kata Lucca menghibur.


"Kira-kira mereka akan tinggal di mana ya?" Diona dan Lucca berjalan menuju kelas.


"Aku sudah mencarikan apartemen untuk mereka. Tidak jauh dari sini." Lucca benar-benar sigap. Diona menatap pria itu. Bagaimana nasib mereka tanpa pria ini.


"Kenapa? kau menatapku seperti baru kenal saja?" tanya Lucca heran melihat Diona menatapnya.


"Lucca, di sekolah ini tidak ada gadis yang kau suka?" tanya Diona ingin tau. Betapa beruntungnya wanita yang menjadi pacar Lucca kelak.


"Ada sih, tapi dia menganggap ku sahabat. Nanti aku cari obat untuk merubahnya."

__ADS_1


__ADS_2