PADA DUA HATI

PADA DUA HATI
Moment Haru


__ADS_3

Perkataan Aran mengejutkan keluarga. Hanya Danu dan Rustam yang tidak terkejut, karena mereka yang mewujudkan ide dari pasangan calon pengantin tersebut. Keluarga yang sudah hadir tidak lagi menerima undangan karena mereka sudah hadir di sana. Aran menatap Bayu sambil tersenyum. Ide itu muncul karena ucapan Bayu, Ingin pulang bersama. Bayu mengerti tatapan Aran dan balas tersenyum pula.


"Saya dan Di berharap acara kami berjalan lancar. Kami minta doanya dan besar harapan kami untuk bisa menempuh hidup baru dengan awal yang bahagia." tentu saja Aran dan Diona berharap pesta pernikahan mereka tanpa kendala. Semua yang hadir menanggapi Aran dengan positif. Mendoakan agar semua lancar. Esoknya para undangan mulai berdatangan. Ada yang ingin menghadiri acara lamaran. Ada juga yang ingin berjalan- jalan dulu di sana sebelum ikut menghadiri acara pernikahan. Danu dan Rustam terkejut mengetahui hadirin untuk acara lamaran bertambah banyak. Mereka pun menambah porsi hidangan.


Rustam dan Dewanti mengurus kepulangan Leana. Gadis itu sudah bisa keluar dari rumah sakit walau masih harus duduk di kursi roda. Leana akan melanjutkan pengobatannya di Indonesia. Sementara itu Danu dan Wilma mengantar Diona mencari gaun pengantin. Sudah sedari tadi Diona bingung memilih gaun yang dia inginkan. Diona bingung memilih yang mana, sudah sedari dulu dia tidak pandai memilih busana. Selama ini Wilma dan bahkan Bayu yang sering memilihkan busananya.


"Ayo Di, kamu suka yang mana?" tanya Wilma meminta Diona bergegas. Gadis itu terus terpaku di depan banyaknya gaun yang tergantung.


"Ada tiga sih yang aku suka." jawab Diona ragu.


"Di coba saja ketiganya, nanti kita lihat mana yang cocok." Wilma memberi solusi. Diona setuju. Ditariknya satu gaun pengantin dan di bawanya untuk di coba. Wilma menghampiri Danu yang sedang duduk menunggu.


"Sudah?" tanya Danu ingin tau.


"Dia bingung mas, tapi ada tiga yang Di suka. Aku minta di coba ketiganya."jelas Wilma.


"Ya pelan-pelan saja. Jangan terburu-buru. Itu kan hari bahagianya." Danu sabar, dia mengerti kebingungan keponakannya. Tidak lama kemudian Diona keluar memperlihatkan gaun pengantin yang di cobanya. Mata Danu berkaca-kaca, dia hampir menangis.


"Bagus Di, cantik." kata Danu penuh haru.


"Ya cantik." Wilma suka melihat Diona dengan gaun pengantin dengan rok yang lebar. Danu mengambil foto Diona.


"Benar bagus?" Diona melihat tampilan dirinya pada kaca besar yang tersedia. Dia masih ragu.


"Aku coba yang lain ya." Diona kembali masuk untuk menukar gaunnya. Danu dan Wilma kembali menanti. Diona melepas gaun pengantinnya di bantu karyawan toko gaun itu. Dia mengenakan gaun kedua dari pilihannya. Setelah siap Diona pun keluar.

__ADS_1


"Kalau yang ini walaupun bagus om tidak suka, terlalu pas di badan." protes Danu dengan gaun pengantin itu. Diona juga tidak mengira gaun pengantin itu akan pas mencetak bentuk tubuhnya. Walau tidak suka Danu tetap mengambil foto Diona.


"Kalau begitu aku tukar lagi ya." Diona kembali masuk tanpa melihat bayangannya di cermin. Danu mengirim foto Diona tadi pada Aran, dia ingin tau pendapat pemuda itu. Aran terpesona melihat foto kiriman Danu. Dia mengetikan pendapatnya.


"Apa tidak ada yang lain om?" Aran tidak suka Diona memperlihatkan keindahan tubuhnya.


"Bukannya bagus?" Danu balas menggoda.


"Bagus sih, tapi aku tidak suka." jawab Aran.


"Ok." Danu hanya menjawab demikian. Dia puas karena pemikirannya sama dengan Aran. Setelah itu Danu tidak mengirim lagi foto Diona. Aran penasaran setengah mati tapi tidak ada kiriman lagi. Sayangnya dia dan ayahnya sedang meninjau fasilitas kapal pesiar yang sudah di sewa Rustam dan Danu. Jika tidak tentu Aran akan menemani Diona mencoba gaun pengantin. Diona sudah siap dengan gaun ketiga. Dia pun keluar.


"Di kamu seperti putri. Tapi om suka melihatnya, cantik." puji Danu. Melihat Diona dengan gaun pengantin dengan rok yang menggembung lebar dan berkilauan.


"Kalian suka dengan yang ini?" tanya Diona senang. Gaun ketiganya ini di sambut antusias.


"Om paling suka yang ini." kata Danu kemudian.


"Baiklah aku pilih yang ini." Diona memutuskan. Toh ketiganya adalah pilihannya. Tidak ada salahnya membuat om dan tantenya senang. Selama ini mereka sudah merawatnya dengan tulus dan sayang. Pencarian gaun pengantin pun selesai.


"Terima kasih ya Di, om dan Tante punya kesempatan mengantarmu memilih gaun pengantin. Kesempatan sekali seumur hidup." kata Danu penuh haru. Danu memeluk Diona dengan sayang. Wilma mengusap kepala Diona penuh cinta. Sebentar lagi keponakannya akan menikah dan menempuh hidup baru. Punya suami dan keluarga sendiri.


"Di yang terima kasih pada kalian. Sudah menjadi orangtua pengganti untuk Di." balas Diona tulus.


"Kamu tetap kesayangan kami. Janji ya ada apa-apa tetap harus cerita pada kami." kata Danu tegas. Dalam hati kecilnya belum rela melepas Diona pada tambatan hatinya. Tapi Danu mengerti selama satu tahun Diona sudah merana di paksa untuk melupakan cintanya walau tidak mampu. Biarlah keponakannya sekarang bahagia.

__ADS_1


Aran kembali ke hotel. Sambil menunggu Diona dia mengobrol dengan Bayu.


"Cepat juga kau tiba di sini, tidak ada kendala kan?" kata Aran berbasa-basi.


"Ada sih. Di bandara Mitsi melihat orang yang di jodohkan oleh ayahnya. Padahal tiket yang ku beli masih satu jam lagi." kata Bayu dengan kesal.


"Lalu bagaimana?" tanya Aran terkejut. Baru mengetahui sepupunya mengalami hal yang tidak enak.


"Terpaksa aku pinjam pesawat pribadi om Bim." jelas Bayu.


"Oh syukurlah. Berarti kau harus mengundangnya di acara pernikahanku." kata Aran lega.


"Kalau kau tidak keberatan aku akan melakukannya." Bayu ingin menegaskan apa yang dia dengar.


"Tentu saja aku tidak keberatan. Dia sudah membantumu." jawab Aran yakin. Bayu akan segera mengirimkan undangan. Diona datang dan segera duduk di sebelah Aran.


"Sudah pilih gaunnya?" tanya Aran dengan tersenyum manis. Dia ingin Diona menunjukan gaun yang di pilihnya.


"Sudah." jawab Diona singkat. Ternyata Diona tidak melakukan seperti yang Aran harapkan. Ya sudahlah, mungkin akan jadi kejutan nanti.


"Di kamu undang siapa saja?" tanya Bayu ingin tau.


"Kalau untuk keluarga itu sih om Danu yang urus. Tapi aku undang teman-temanku." jawab Diona pasti.


"Termasuk Paul?" Bayu masih penasaran.

__ADS_1


"Itu pasti." kata Diona yakin. Bayu mengangguk puas. Dia pun bangkit meninggalkan pasangan itu yang pasti ingin bicara. Dia akan mengirim undangan untuk Bim.


__ADS_2