
Aran bergegas ke rumah sakit. Dia bingung mengapa Mhina bisa jatuh pingsan. Padahal Mhina tidak punya kegiatan apa-apa dan hanya diam di rumah. Kondisi tubuh Mhina yang membuat Aran tidak membawanya dalam perjalanan dinasnya. Di rumah pun ada asisten rumah tangga yang melakukan semua pekerjaan. Kondisi terakhir tubuh Mhina setelah pulang dari bulan madu juga baik. Aran menuju ruang perawatan Mhina. Di sana istrinya tampak sedang tertidur sendirian tidak ada yang menemani. Berarti hanya dia yang di hubungi Mhina. Aran memutuskan untuk bicara pada dokter terlebih dahulu. Untuk mengetahui kondisi Mhina.
"Siang dok, bisa bicara sebentar?" Dokter Arfan Adisaka langsung menoleh.
"Hei Aran, masuk. Duduklah. Sudah lama datang?" tanya Arfan. Dia sudah mengenal Aran lama.
"Baru datang. Saya lihat Mhina sedang tidur, maka saya ke sini." jawab Aran sambil duduk.
"Dia di bawa ke sini dalam keadaan pingsan. Tapi saya tidak tau siapa yang membawanya. Mungkin orangnya menghubungimu?" Arfan ingin tau siapa yang mengantarkan pasiennya. Mhina memang dalam perawatan dokter Arfan Adisaka.
"Saya cuma dapat pesan dari ponsel Mhina, kalau dia pingsan dan di rawat di sini." Aran memperlihatkan pesan yang di terimanya.
"Jadi kita tidak tau ya siapa yang mengantarkannya dan Mhina pingsan di mana." Arfan tidak menemukan jawabannya.
"Memangnya Mhina kenapa dok?" Aran tidak sabar.
"Secara keseluruhan tidak ada yang membahayakan. Dia hanya terlalu lelah. Tapi setau saya dia tidak melakukan pekerjaan berat kan." Arfan tau persis keadaan pasiennya.
"Tidak dok, di rumah ada asisten rumah tangga dan mereka tidak kemana-mana. Aneh ya Mhina kelelahan." ucap Aran bingung.
"Ya sudah biar dia di sini dulu. Nanti sudah lebih sehat baru di bawa pulang." dokter Arfan memutuskan.
__ADS_1
"Baik kalau begitu dok. Saya permisi dulu." Aran pamit dan keluar. Di luar Aran menghubungi ibu mertuanya, memberitahu tentang Mhina. Orangtua Mhina terkejut. Mereka akan segera datang. Aran memutuskan untuk menunggu mertuanya datang di depan ruang rawat Mhina. Aran tidak mau mengganggu Mhina. Tidak lama orangtua Mhina datang. Mereka panik.
"Ma Aran mau pulang dulu untuk mengambil baju Mhina. Dia sedang tidur, jangan di bangunkan. Nanti Aran kembali." kata Aran pada Riama, ibu mertuanya.
"Ya sudah kamu hati-hati ya. Biar Mhina kami yang jaga." Riama menepuk bahu Aran. Sebenarnya hal ini sudah biasa baginya, tapi tetap saja dia cemas. Mhina putri satu-satunya. Sedangkan ayah mertuanya tampak mengintip ke dalam ruangan Mhina. Aran malas menyapanya. Dia memilih meninggalkan mereka. Datar Ardiansyah, ayah mertuanya terlalu banyak menekannya. Aran pun pulang ke rumah. Di rumah para penghuni merasa heran Aran sudah pulang. Apa lagi Mhina tidak ada di rumah.
"Bi Yem, istri saya siapa yang mengantar?* tanya Aran pada asisten rumah tangganya. Bi Yem Aran bawa dari rumah orangtuanya. Jadi sudah tau kebiasaan dan kesukaan Aran. Karena Mhina tidak bisa mengurusnya.
"Di antar sama yang biasanya. Bibi tidak tau namanya." jawab bi Yem agak takut melihat Aran kesal.
"Lalu kenapa dia bisa pingsan?" tanya Aran lagi.
"Pingsan? Loh tadi perginya sehat-sehat ko den. Malah seneng gitu ko pingsan?" bi Yem bingung.
"Pergi sama yang biasanya jemput. Perginya ke mana bibi ga tau den." jawab bi Yem jujur. Aran menghela napas, berupaya tenang.
"Laki-laki atau perempuan?" tanya Aran cemas. Ada sesuatu terbersit di pikirannya.
"Laki-laki." jawaban bi Yem membuat Aran geram. Siapa laki-laki itu, apa kamu bermain di belakangku Mhina.
"Jadi Mhina sering pergi?" tanya Aran marah. Melihat Aran marah bi Yem diam. Bilang salah, ga bilang juga salah.
__ADS_1
"Panggil Sumi."perintah Aran pada bi Yem. Datanglah asisten rumah tangga yang lebih muda.
"Sumi, ibu suka pergi? sama siapa?" tanya Aran galak.
"Ibu pergi setiap hari, sama laki-laki yang Sumi ga tau namanya. Tapi ibu sudah kenal. Ibu pergi dari pagi sampai sore, kadang jam tujuh. Pokoknya sebelum bapak pulang ibu sudah di rumah." laporan lengkap Sumi semakin membuat Aran marah. Bi Yem ingin menoyor kepala Sumi. Tapi dia takut den Arabnya semakin marah. Sumi memang tidak suka pada majikan perempuannya itu. Maka jangan harap Sumi mau menutupi apa yang di lakukan Mhina.
"Ya sudah, kembali ke belakang." kata Aran masih marah. Aran pergi ke kamarnya. Dia akan mengambil baju Mhina. Dalam pikirannya dia tengah menebak-nebak, siapa laki-laki yang menjemput Mhina setiap hari. Bisa-bisanya Mhina berbuat begitu. Aran harus mencari tau. Dia yakin Mhina akan mengelak dan tidak mau mengatakan siapa temannya. Aran juga harus tau apa yang mereka lakukan. Aran jadi teringat Diona. Apakah Diona akan seperti ini pada suaminya? Rasanya tidak.
Sudah tiga bulan Diona bersekolah di Florence. Danu dan Wilma merasa sudah waktunya mereka menengok Diona. Tanpa kabar mereka datang ke apartemen. Mereka tiba malam hari. Diona baru selesai makan malam. Dia masak sendiri makan malamnya. Paul sudah mengajarkan Diona berbagai menu makanan. Ketika Danu dan Wilma datang mereka tentu saja belum makan malam. Awalnya Danu minta Diona menghubungi pesan antar, karena mereka lelah dan malas keluar. Tapi Diona membuatkan mereka makan malam.
"Ini enak banget. Tante baru tau kamu bisa masak Di." puji Wilma menikmati makan malamnya. Padahal Diona hanya membuat spaghetti kesukaannya.
"Tidak percuma dia tinggal jauh dari kita." komentar Danu. Di jamin walau masakan Diona tidak enak pasti tetap di puji. Karena Danu senang Diona belajar memasak.
"Tante sama om nih modus ya. Di sini tuh banyak makanan enak. Ini sih bukan apa-apa." kata Diona merendah.
"Tapi ini sudah hebat ko. Om bangga sama kamu." Danu mengusap kepala Diona. Mereka masih mengobrol hingga larut malam. Kemudian Danu dan Wilma masuk ke kamar untuk membersihkan diri. Diona membawa masuk hadiah yang Wilma bawakan untuknya ke dalam kamar. Paul pulang, dia melihat rumah masih terang benderang.
"Didi aku pulang. Kau belum tidur?" tanya Paul lantang. Dia menuju dapur dan meletakan roti yang Diona suka di atas meja. Ketika Paul berbalik, tampak Danu tengah berdiri dan menatapnya tajam.
"Siapa kamu?" tanya Danu galak. Diona mendengar suara Paul yang lantang baru teringat. Dia lupa bilang pada Paul kalau Danu dan Wilma datang. Diona segera keluar kamar. Terlambat. Danu sudah menampakkan taringnya.
__ADS_1
"Aku Paul uncle, teman Diona." jawab Paul dengan suara pelan.