
Mhina menanti kedatangan Aran dengan gelisah. Ketika dia sadar dia telah berada di rumah sakit. Mhina bertanya pada perawat siapa yang membawanya ke rumah sakit. Para perawat mengatakan dia di antar supir, tapi ada suaminya yang ikut datang. Mhina senang Aran mengantarnya ke rumah sakit. Itu berarti suaminya masih perhatian padanya. Ketika Arfan datang memeriksanya, dokter itu mengatakan jika dia tengah hamil. Mhina terkejut.
"Apa Aran tau saya hamil dok?" tanya Mhina pada Arfan.
"Tentu saja suamimu tau. Kami sudah bicara tadi." jelas Arfan. Mhina langsung gelisah. Dia tidak bertanya lagi. Mhina takut akan reaksi Aran. Apa yang akan di katakan atau di lakukan Aran padanya nanti? Mhina sendirian di rumah sakit. Tampaknya Aran tidak memberi tau keluarganya. Tapi Mhina juga bingung harus bagaimana jika orangtuanya tau tentang kehamilannya. Hingga malam hari Aran tidak datang lagi. Mhina juga tidak bisa menghubungi keluarganya karena tidak membawa handphone. Dia hanya bisa menunggu Aran datang kembali. Marah kah Aran hingga tidak melihatnya lagi di rumah sakit? Atau dia banyak pekerjaan? Mhina bertanya-tanya akan sikap Aran. Dia juga cemas. Menurut Arfan Mhina besok sudah bisa pulang. Semoga Aran datang menjemputnya. Esok paginya Aran datang menjemput Mhina. Sikap Aran yang tetap diam dan dingin membuat Mhina lebih santai.
"Aran, kita akan punya anak." kata Mhina dengan manis. Aran menatapnya dalam diam.
"Ayo kita pulang." katanya dengan dingin. Melihat Aran yang sama dengan kesehariannya membuat Mhina hilang kecemasannya. Aran tidak marah, pikir Mhina. Dia pun mengikuti Aran pulang.
"Aran kita mau ke mana?" Mhina bertanya ketika dilihatnya jalan yang mereka lalui berbeda dengan jalan ke rumah mereka.
"Ke rumah orangtuamu. Mereka cemas akan dirimu." kata Aran tetap fokus pada jalan di depannya. Mhina tersenyum, Aran perhatian pada keluarganya. Tiba di rumah orangtua Mhina ada mobil orangtua Aran di sana. Tampaknya dua keluarga tengah berkumpul. Apakah mereka sudah mendengar tentang kehamilannya? Jadi Aran sudah memberi tau mereka. Mhina berpikir Aran diam-diam senang akan kehamilannya. Mhina pun jadi bersemangat. Dia turun dan masuk ke dalam menyusul Aran yang sudah jalan duluan. Dua keluarga menanti dengan cemas di ruang tamu. Riama menyambut Mhina.
__ADS_1
"Kamu kenapa sayang? kamu sampai pingsan dan di bawa ke rumah sakit?" tanya Riama ibu Mhina. Walau Mhina sering harus di bawa ke rumah sakit tapi dia tetap saja cemas.
"Katanya aku hamil ma " jawab Mhina senang. Mereka yang mendengar terkejut, kecuali Aran.
"Bagaimana ini Aran, kamu tidak sesuai dengan perkataanmu?" kata Fatar protes. Aran pernah berjanji untuk menunda memiliki anak.
"Sebelum saya bicara tolong kalian lihat ini dulu." Aran mengeluarkan flashdisk yang di bawanya. Dengan bingung dan heran Fatar pun menyambungkan flashdisk tersebut pada TV. Di bukanya rekaman di sana. Terpampanglah perselingkuhan Mhina dan Luthan. Semua yang melihat terkejut, termasuk Mhina. Dia memeluk ibunya. Wajah Rustam langsung memerah karena marah. Dewanti sakit hati walau diam, putra kesayangannya di khianati. Fatar merasa tertampar wajahnya melihat perbuatan anak ya.
"Mhina." Riama berkata dengan perasaan bercampur. Marah, malu, tidak percaya dan kecewa. Mhina jadi takut. Dia tidak tau Aran tau perbuatannya.
"Tapi Aran kita kan pernah......." Mhina mencoba membela diri.
"Pernah tidur bersama? kamu kira saya bodoh. Kita hanya pernah tidur di tempat yang sama tanpa pernah melakukan apa-apa." Aran lalu memperlihatkan rekaman di mana Mhina merekayasa mereka tidur bersama. Mhina merasa kalah. Dia baru tau Aran memiliki rekaman CCTV. Fatar semakin malu dan marah. Tampak seperti Mhina sudah merencanakan perselingkuhannya.
__ADS_1
"Lalu apa keputusan kamu?" tanya Rustam. Dia tidak mau memperpanjang masalah yang sudah jelas.
"Saya kembalikan Mhina pada kalian, orangtuanya. Saya memintanya dengan baik, saya pulangkan juga dengan baik. Tolong tanda tangani surat perceraian yang akan segera saya kirimkan." kata Aran tegas. Di luar tampak Parjo datang dan menurunkan barang-barang Mhina yang di bawa dari rumah Aran. Ya Aran menyuruh Sumi dan mbok Yem membereskan barang-barang Mhina dan Parjo yang akan mengantarnya ke rumah orangtua Mhina. Semua barang, tidak boleh ada yang tertinggal.
"Permisi tuan, saya mengantar barang-barang nyonya Mhina." kata Parjo sambil membawa masuk barang-barang tersebut. Mhina menangis tersedu. Dia telah di usir dari rumah Aran.
"Bagaimana jika anak itu anakmu?" tanya Fatar pada Aran mencari celah.
"Kita tes DNA saja, tapi saya akan tetap menceraikan Mhina. Jika anak itu memang anak saya, tidak masalah saya akan mengurusnya. Tapi tidak dengan ibunya." Aran tersenyum sinis.
"Kami mendukung keputusan Aran. Cukup sampai di sini, karena ini sangat memalukan. Kami undur diri." Rustam berkata menahan marah. Dia menarik Dewanti yang sejak tadi diam. Fatar paham, sejak hari itu berakhirlah hubungan baik antara dirinya dan Rustam karena perbuatan anaknya.
"Saya juga pamit karena tidak ada lagi yang perlu di perbincangkan. Tolong, penuhi permintaan terakhir saya. Tanda tangani surat cerainya." kata Aran juga beranjak pergi. Fatar tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Mhina menangis protes pada ibunya.
__ADS_1
"Sudah Mhina. Ini salahmu. Kau sendiri yang menghancurkan rumah tanggamu." Riama menyadarkan putrinya. Fatar yang terdiam dan lemas masuk ke ruang kerjanya. Dia tidak mungkin memarahi putri kesayangannya. Putrinya sudah jatuh tersungkur akibat kesalahannya sendiri. Riama menuntun Mhina memasuki kamarnya. Dia menyuruh pelayan untuk memasukan barang-barang Mhina ke kamar tersebut. Kamar yang Mhina tempati dulu sebelum menikah. Mhina masih terus menangis, masih belum bisa menerima keputusan Aran. Sedangkan Aran sudah mengendarai mobilnya menuju kantor. Kemarahannya sudah sebagian reda. Aran berharap persoalannya segera selesai. Lain lagi dengan Rustam. Dia akan mengantar Dewanti pulang. Dia sangat marah setelah tau apa yang di lakukan menantunya. Rustam mendukung Aran, dia tidak Sudi memiliki menantu seperti itu.