PADA DUA HATI

PADA DUA HATI
Amalfi


__ADS_3

"Dia selalu datang ke restauran, tidak berani datang ke rumah karena dia tau ibumu tidak akan suka. Kau harus melihatnya di restauran. Jangan sampai dia tau ibumu tidak ada. Nanti dia datang ke rumah. Kalau melihat ayahmu yang sakit begitu berarti dia tidak tertarik lagi pada wanita itu, tapi benar-benar mencintai ibumu. Hanya saja dia salah telah menerima kunjungan wanita itu selama ini." Irene sedikit lega. Wajah Paul sekarang keruh.


"Uncle, kalau seperti ini apa yang akan uncle lakukan?" tanya Paul pada Danu. Walau terkejut Danu berpikir.


"Kalau saya, pasti saya akan mencari keberadaan istriku. Lalu meyakinkannya untuk kembali bersamaku." jawab Danu.


"Ya ibumu harusnya jangan pergi. Hadapi wanita itu, walau aku akan menimpuk suamiku dengan panggangan roti." kata Wilma gemas.


"Sayang, aku kan tidak begitu." protes Danu.


"Di timpuk panggangan roti, kira-kira di rawat di rumah sakit berapa lama ya?" tanya Paul iseng. Irene tersenyum. Pasangan ini lucu juga, pikirnya. Diona diam saja. Tapi dia melihat sisi lain dari kebodohan wanita. Bukan kebodohan sih tepatnya. Tidak tau malu. Mendatangi mantan kekasih yang sudah berkeluarga. Ah itu bukan urusannya. Lebih baik dia makan saja. Sekali lagi dari setiap wisata yang dilakukannya, hal yang paling di suka Diona adalah makanannya.


"Sayangnya ayah tidak tau keberadaan ibu di mana." kata Paul lesu.


"Coba kau tanyakan pada Betsi, jika ibumu masih perhatian pada ayahmu dia mungkin menghubungi Betsi." usul Irene.


"Bibi benar. Nanti aku tanyakan." Paul mendapat harapan. Setelah makan siang Paul mengajak mereka mengunjungi Amalfi Lemon Tour Experience- Parco Zagare. Mereka duduk-duduk di bawah pohon lemon yang bergelantungan buahnya. Diona gemas ingin memetiknya. Hati Paul yang gundah terobati dengan kegembiraan mereka hari itu. Setelah itu Paul mengajak mereka ke sebuah restauran yang berada di tengah kota. Restauran itu ada di lantai dua. Di lantai satu ada kedai es krim kecil yang menarik mata. Es krimnya sangat lezat. Kedai es krim itu cukup ramai. Mereka menaruh bangku dan meja bagi para pengunjung, walau tidak banyak. Tapi bangku-bangku itu penuh. Paul mengajak mereka naik ke restauran setelah membelikan Diona es krim porsi besar.


"Ini sebenarnya restauran milik ibuku. Ayahku menghadiahkannya sebagai hadiah ulang tahun pernikahan dulu. Tapi ibuku tidak berminat bisnis restauran. Jadi akulah yang mengelolanya." kata Paul menjelaskan.


"Bohong, dia juga tidak perduli." kata seorang pria yang keluar dari dalam. Pria itu bicara bahasa Indonesia terpatah-patah. Belum lancar tampaknya.

__ADS_1


"Kau bisa bahasa Indonesia?" tanya Diona senang.


"Belum lancar, tapi gurunya sudah pergi." jawab pria itu.


"Ibuku yang mengajarinya. Ini sepupuku Raul, dia yang tinggal bersama bibiku Irene."Paul menepuk Raul, tinggi tubuh mereka sama. Wajah mereka tentu saja berbeda. Raul memiliki wajah asli Italia.


"Hai saya Raul." kata pria itu ramah.


"Jadi kamu yang mengelola restauran ini?" Danu berkesimpulan.


"Benar, Paul sibuk dia tidak sempat. Tapi karena aku tidak sepintar dia jadi restauran tidak ramai seperti restauran ayahnya yang lain." kata Raul merendah.


"Tapi kedai es krim di bawah sangat ramai." kata Danu lagi.


"Restauran ini sudah lama. Mungkin sudah harus di renovasi." kata Paul menilai. Dia melihat restauran ibunya tidak secerah dulu.


"Paul, kamu bermimpi bekerja di restauran yang kamu suka di Paris. Bagaimana kalau kamu membuat restauran impian sendiri?" Danu mengusulkan pada Paul.


"Aku rasa itu akan menarik. Dulu restauran ini memang menarik, tapi dengan berkembangnya daerah di sini banyak restauran dan cafe yang lebih menarik." kata Raul menjelaskan. Paul terdiam tapi masih terus mengamati.


"Aku akan pikirkan dulu restauran yang seperti apa yang ku inginkan." kata Paul akhirnya. Mereka pun berjalan-jalan di sekitar restauran.

__ADS_1


"Didi kau mau ke pantai?" tanya Paul pada Diona.


"Untuk apa ke pantai. Kau mungkin yang suka. Di sana kan banyak wanita menggunakan bikini." Diona mengungkap keengganannya ke pantai. Paul tertawa.


"Kau juga bisa menggunakan bikini." kata Paul menggoda. Amalfi kota yang menarik. Sehingga banyak turis yang datang. Tidak usah ke pantai sebenarnya banyak dari antara turis itu yang mengenakan pakaian seksi. Kadang Diona risih. Mungkin Paul sudah terbiasa. Mereka menyusuri gang di mana terdapat toko-toko yang menjual aneka barang. Ada yang menjual pakaian, topi dan sepatu. Diona dengan senang hati membeli sepatu. Penjual kaki lima tapi tetap saja namanya beli sepatu di Italy. Diona memilih sepatu tanpa hak, untuk pergi ke sekolah. Dari situ mereka berjalan lagi. Setelah melewati toko-toko mereka bertemu lagi pedagang kaki lima. Kali ini mereka menjual kerajinan tangan dan lukisan. Para penjual menggantung lukisan-lukisan mereka di dinding.


"Sediakan satu tempat untukku di sini ya." kata Diona pada Paul bercanda.


"Lupakan itu." kata Danu tegas. Tidak mungkin dia membiarkan keponakannya berdagang kaki lima. Diona tertawa, dia tidak yakin lukisannya akan bagus nanti. Wilma tertarik pada sebuah toko pakaian. Dia masuk ke toko tersebut. Danu menunggu di luar sambil bersandar di dinding. Ketika Wilma memperlihatkan baju padanya jika bagus Danu akan mengacungkan ibu jarinya. Tapi jika menurutnya tidak bagus Danu akan membalikan ibu jarinya ke bawah. Diona dan Paul sendiri malah sibuk melihat kerajinan tangan di kaki lima dekat toko tersebut. Hingga akhirnya Wilma keluar dari toko tersebut. Mereka pun berjalan kembali menyusuri jalan kecil itu. Ketika tengah berjalan menuju rumah Irene, ada pasangan muda yang sedang berciuman di tepi jalan.


"Kau juga boleh mencoba itu." kata Paul menggoda Diona. Belum sempat Diona menjawab, Danu sudah berdehem penuh ancaman.


"Uncle, Didi itu gadis yang sopan. Kau jangan khawatir."protes Paul pada Danu.


"Syukurlah, jadi kau jangan mengajarkan yang macam-macam." Danu memperingatkan.


"Paul kau punya pacar?" tanya Wilma ingin tau.


"Pacar? Siapa yang mau dengan pemuda miskin seperti aku?" kata Paul. Miskin? Sebentar lagi dia akan mewarisi enam restauran ayahnya, miskinnya di mana? pikir Diona.


"Apartemenku biasa tidak mewah, mobilku juga mobil murah. Lucca teman Didi, mobilnya lebih keren dan mahal." Paul menjelaskan maksudnya.

__ADS_1


"Kau jangan menganggap semua wanita cinta kemewahan. Contohnya aku ini, uncle Danu itu orangnya sederhana. Untung dia punya perusahaan, jadi aku mau dengannya." bukannya meluruskan keadaan, Wilma malah menyindir Danu.


"Maksudnya apa sih?" tanya Danu dengan sewot.


__ADS_2