PADA DUA HATI

PADA DUA HATI
Melepaskan


__ADS_3

"Akan saya tanyakan pada Diona dan Leana. Mereka yang berhak menentukan." jawab Aran.


"Baiklah, hubungi kami secepatnya. Jika tidak ada tuntutan pun ada berkas yang harus di tandatangani." jelas polisi itu. Mereka pun meninggalkan rumah sakit.


"Aku harus bicara pada Di dan Leana. Apa mereka ingin menuntut dua pria itu." Aran berkata sambil menghela napas kesal. Masalah mereka belum selesai.


"Ya bicarakan dan putuskan dengan baik. Tadi polisi bilang mereka hanya berdua. Kau bisa tenang Aran, Diona dan Leana tidak akan ada yang mengganggu lagi." balas Agam.


"Apapun keputusan kalian kami akan tetap membantu." janji Luthan.


"Aku masuk dulu untuk bertanya." Aran masuk ke dalam kamar rawat. Tampak Diona sedang membantu Leana agar dapat berbaring dengan nyaman.


"Di, Lea tadi polisi bertanya apa kalian akan menuntut dua orang itu. Jika tidak mereka akan segera di kembalikan ke Italy untuk melanjutkan masa hukuman mereka." tanya Aran lembut.


"Aku sih tidak mau berurusan dengan mereka. Tapi tidak tau dengan Leana, karena dia yang paling di rugikan." Diona menatap Leana, menyerahkan segala keputusan. Leana terdiam dulu, menimbang. Dia memang sangat ingin dua pria itu di tuntut. Tapi mengingat majikannya akan melangsungkan pernikahan dia tidak mau itu menjadi kendala. Akan di butuhkan banyak waktu, tenaga dan biaya.


"Saya rasa tidak akan menuntut mereka, biar saja mereka kembali untuk melanjutkan hukumannya. Saya yakin hukuman mereka akan di tambah. Setelah ini Tuan dan nona bisa kembali ke Indonesia." Leana dengan tegas memutuskan.


"Kamu tidak perlu memikirkan kamu Lea. Sembuh saja dulu, kami akan tetap menemanimu." Diona tidak setuju meninggalkan Leana.


"Benar, jangan berpikir terlalu jauh. Kesembuhanmu yang terpenting. Di, besok kita akan ke kantor polisi untuk menyampaikan keputusan kalian." kata Aran kemudian. Aran pun memberi tahu keputusan Diona dan Leana pada Luthan dan Agam.

__ADS_1


"Cukup sudah kalian membantu kami. Keadaan sudah tidak mengkhawatirkan. Di juga sudah sehat, besok kami akan ke kantor polisi." kata Aran dengan senyum penuh ungkapan terima kasih.


"Katakan saja jika butuh bantuan." Agam berkata ramah.


"Kalau begitu kita bereskan pekerjaan kita Agam. Nanti kami kembali untuk melihat situasi." Luthan pamit. Walau sudah aman dia akan tetap membantu Aran. Setelah melepas kepergian Luthan dan Agam Rianto memberi kabar jika dia harus menjemput Rustam dan Dewanti. Mereka sudah tiba di Singapure. Aran senang orangtuanya datang. Ada perasaan nyaman dengan kedatangan mereka. Aran menunggu di kamar rawat sambil mengobrol dengan suara pelan bersama Diona. Leana sudah mulai tertidur karena pengaruh obat yang di minumnya. Dia memang masih harus banyak istirahat.


Rustam dan Dewanti datang ke rumah sakit di antar Rianto. Setelah memeluk Diona dengan sayang Dewanti memperhatikan Leana. Gadis muda yang di asuhnya sejak lama. Aran pun menceritakan kronologi kejadian pada Rustam.


"Besok kami akan ke kantor polisi untuk menyampaikan keputusan." kata Aran mengakhiri penjelasannya.


"Baiklah, kami akan menjaga Leana, kalian pergi saja." Rustam paham. Walaupun sudah boleh pulang oleh rumah sakit Diona tetap tinggal untuk menemani Leana. Aran pun tidur di hotel bersama Rustam dan Dewanti. Besok paginya Aran datang untuk menjemput Diona untuk pergi ke kantor polisi. Rustam dan Dewanti sesuai rencana akan menunggui Leana. Luthan dan Agam datang untuk ikut mengantar ke kantor polisi, sesudah itu mereka akan kembali ke Indonesia. Terlihat Luthan tidak nyaman dengan kehadiran keluarga Aran. Ketika Aran dan Diona akan berangkat, Rustam keluar dari kamar rawat dan menghampiri Luthan.


"Nak terima kasih atas apa yang kalian lakukan." Rustam menepuk bahu Luthan. Matanya bergantian menatap Luthan dan Agam. Luthan terkejut melihat reaksi Rustam, tapi dia tersentuh. Melihat ketulusan yang di tunjukan oleh Rustam.


"Ya betul, kami memang harus melakukannya." tambah Agam.


"Kalian memang baik, berangkatlah. Jangan ragu jika suatu saat ada kesulitan nanti, temui saya." Rustam menyingkir, memberi jalan pada mereka.


"Terima kasih, akan kami ingat." balas Agam. Sedangkan Luthan ragu, apa dia berani meminta bantuan Rustam di kemudian hari.


"Kami berangkat yah." pamit Aran, dia menggandeng Diona melangkah menuju keluar. Rian sudah menanti dengan sebuah mobil. Luthan dan Agam menggunakan mobil mereka sendiri. Tiba di kantor polisi mereka segera membereskan urusannya.

__ADS_1


"Baiklah kalian sudah memenuhi semua prosedurnya. Dalam beberapa hari kami akan memulangkan mereka ke penjara di Italy." kata polisi yang membantu mereka.


"Bisakah kami di beritahu jika mereka sudah di kirim pulang. Untuk ketenangan calon istri saya tentunya." tanya Aran.


"Tentu saja bisa kami lakukan. Kami paham." jawab polisi itu penuh pengertian. Mereka pun keluar dari sana. Luthan dan Agam mohon diri, tinggal Aran dan Diona.


"Kau mau kembali ke rumah sakit atau kita makan dulu?" tanya Aran lembut pada Diona. Gadis itu menatap ke sekeliling mereka.


"Aku mau di luar dulu sebentar. Beberapa hari di rumah sakit bosan rasanya." jawab Diona.


"Baiklah, kita jalan-jalan dulu sebentar sambil menunggu waktu makan." Aran memutuskan membawa Diona ke taman. Mereka duduk di sebuah bangku. Aran meminta Rian untuk pergi membeli makan siang untuk mereka semua, termasuk Rustam dan Dewanti. Diona menatap sekeliling taman dengan senang. Dia jadi teringat ketika datang ke Singapure sebelum akhirnya ke Italy. Dia dan Bayu jalan-jalan ke taman bermain. Kepergiannya untuk menghindari pria di sebelahnya ini. Diona jadi menatap Aran yang baru saja di tinggalkan Rian, untuk mengerjakan tugas yang di beri Aran.


"Kenapa Di?" tanya Aran heran melihat Diona menatapnya. Diona tersenyum dan menggelengkan kepalanya.


"Di, ada apa?" Aran penasaran. Dia tau ada sesuatu di pikiran Diona.


"Aku jadi ingat sebelum ke Italy aku dan Bayu ke sini. Kami ke taman bermain sampai lelah. Setelah itu om Danu dan Tante Wilma menyusul. Baru kemudian kami ke Italy. Mereka ingin menghibur aku yang patah hati karena kamu." Diona mencubit pinggang Aran.


"Lalu sekarang?" tanya Aran menggoda.


"Aku bahagia juga karena kamu." Diona harus mengakui perasaannya. Aran merangkul Diona dan mencium keningnya.

__ADS_1


"Aku sudah curiga kalau Bayu yang bawa kamu pergi. Setelah kamu menghilang duniaku langsung gelap. Aku tidak mau lagi hidup tanpa kamu Di." Aran mengusap lembut bahu Diona yang di rangkulnya.


"Oya, aku belum kasih tau anak brengsek itu kalau kita tertahan di Singapure. Nanti dia langsung kembali ke Indonesia." Aran baru teringat pada Bayu. Dia mengeluarkan ponselnya dan mulai menghubungi sepupunya, Bayu.


__ADS_2