
"Aku rasa aku sama sepertimu, sibuk membangun masa depan." kata Aran setuju dengan Paul.
"Jangan lupakan cita-citamu untuk menjadi Chef handal." Justin menepuk bahu Paul.
"Aku kira setelah ayah sembuh dia akan kembali mengurus restaurannya. Tapi ternyata dia ingin bersenang-senang dengan ibuku." Paul mengeluh.
"Kau bisa menempatkan orang kepercayaan di setiap restauranmu. Lalu kau bangun restauranmu sendiri. Aku bersedia membantumu membuat Restaurant baru dengan konsepmu sendiri." Aran menyemangati Paul.
"Aku juga bersedia, bosan rasanya bekerja pada orang lain." Justin menimpali.
"Kalian bersungguh-sungguh?" tanya Paul tak percaya. Melihat Aran dan Justin mengangguk senyumnya terbit.
"Akan aku buat konsepnya kalau begitu." Hidup Paul bersinar lagi. Dia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan itu. Dia ingin membangun restaurannya sendiri dengan hidangan miliknya.
"Aku senang kalian percaya padaku." kata Paul lagi.
"Tentu saja aku percaya. Lihat Di, dia jadi sehat tambah cantik dan ceria sejak menikmati masakanmu." kata Aran sambil menatap Diona. Paul tidak bisa berkata-kata. Beginilah kalau orang jatuh cinta. Tapi Paul bisa melihat ternyata Aran pria yang baik dan ramah. Justin terkikik geli sendiri. Walau dia bersyukur dalam hati meski lupa ingatan dia tetap memilih Elis. Jika tidak dia pasti kehilangan wanita itu dan bayinya. Lukka pasti akan menikahi Elis demi melindunginya. Acara perpisahan di akhiri dengan pelukan. Elis memeluk Diona haru.
__ADS_1
"Sehat selalu ya Elis, lahirkan anakmu dengan selamat." doa Diona.
"Aku bahagia kamu jadi sahabatku Di." Elis mulai menangis. Ibu hamil lebih peka perasaannya. Ketika Diona melepaskan Elis Justin segera memeluk wanita yang di cintai ya itu. Menghiburnya. Aran merasa sesak ketika Lukka memeluk erat Diona. Menyabarkan dirinya karena ini terakhir kali Diona berkumpul dengan temannya. Setelah ini Diona akan terus di sampingnya.
"Bahagia ya Di, jika tidak kau bisa kembali lagi ke sini." kata Lukka dengan lembut.
"Aku pasti kembali ke sini, walau tidak patah hati. Aran sudah berjanji, ya kan Aran?" Diona menatap Aran menunggu jawaban. Aran mengangguk sambil tersenyum. Lukka bisa melihat janji Aran tulus dan jujur. Bukan sekedar iya namun lain di kemudian hari. Mereka pun bubar. Aran dan Diona duduk di bangku belakang mobil sedang Leana mengemudikannya.
"Nanti kalau bertemu lagi dengan teman priamu itu jangan ada peluk-pelukan ya." kata Aran cemburu.
"Ya nanti aku minta mantel Lukka saja." Diona menggoda.
"Di, sini dong dingin." Aran memohon agar Diona duduk mendekat dengannya. Ingin memeluk gadis itu.
"Ih, biasanya wanita yang kedinginan." protes Diona, tapi dia lakukan juga permintaan Aran. Leana tersenyum. Keduanya memang sudah saling mencintai, Leana maklum. Begitu Diona mendekat Aran segera memeluknya. Semakin tidak sabar rasanya untuk segera menikah. Mereka mengikuti penerbangan pagi. Tidak ada yang mengantar, karena Aran tidak mau Diona jadi sedih nantinya. Mereka sudah menempati kursi mereka.
"Kita nanti transit di Singapure. Ada yang mau kau beli ? Tapi waktunya tidak lama." kata Aran pada Diona.
__ADS_1
"Rasanya tidak ada, barangku sudah cukup banyak." jawab Diona yakin.
"Ya sudah." Aran mengusap kepala Diona dengan sayang.
"Aran, kita ke Jakarta dulu ya." pinta Diona manja.
"Kita memang ke Jakarta, tapi lalu ke Surabaya. Jangan merusak kepercayaan om Danu." Aran berkata lembut. Dia tau Diona sangat ingin melihat studio lukisnya. Tapi Aran khawatir dia juga tidak mau melepas Diona nanti. Lebih baik begini dulu. Diona merengut, tapi tidak membantah. Diona pun memutuskan untuk tidur dan bersandar di bahu Aran. Sedangkan Aran sibuk membaca. Leana asik menonton. Kapan lagi bisa santai seperti ini. Mereka tiba di Singapure dan turun sebentar.
"Di, kau mau kopi?" tanya Aran sambil melangkah ke sebuah cafe.
"Aku mau minuman dingin saja." Diona ingin minuman yang segar di banding kopi hangat. Aran membeli segelas kopi dan dua gelas minuman rasa buah untuk Diona dan Leana. Mereka keluar dari cafe karena tempat itu penuh. Mereka memilih duduk di bangku tunggu sambil menanti keberangkatan lagi.
"Aran aku ke toilet dulu ya." minum minuman dingin membuat Diona ingin buang air kecil.
"Mau ku antar?" tanya Aran perhatian.
"Tidak usah. Kopimu belum habis." Diona menolak.
__ADS_1
"Biar Leana mengantarmu." Aran tidak mau di bantah. Diona pun menurut. Berdua bersama Leana berjalan menuju toilet. Tempat itu sepi, hanya mereka berdua. Diona masuk ke dalam bilik toilet. Tidak lama kemudian Diona mendengar ada sedikit keributan. Dia pun keluar, tepat ketika itu bahunya di pukul seseorang. Diona tak sadarkan diri, dia tidak tau siapa pria yang membawanya keluar dari toilet. Leana yang terjatuh dan cedera pada kakinya dengan terseok berusaha mengikuti dua orang pria yang membawa Diona pergi. Handphonenya terjatuh dan rusak. Salah satu pria yang memukulnya sengaja menginjak ponsel tersebut. Mereka pikir Leana sudah tidak berdaya lagi pula mereka tidak membutuhkan dirinya hingga meninggalkannya. Tapi Leana tidak mau kehilangan jejak Diona, dia berusaha mengikuti mereka walau kalinya cedera. Sepinya tempat itu dan damainya kehidupan mereka membuat Leana lengah. Dia tidak menyangka ada dua pria yang mengincar Diona. Leana tidak mengenal mereka. Tapi dia berusaha untuk mengikuti mereka membawa Diona pergi. Aran tengah duduk menikmati kopinya. Di tunggunya Diona dan Leana. Karena sudah cukup lama Aran menghubungi ponsel Diona. Tidak di respon. Aran menghubungi ponsel Leana tapi tidak tersambung. Aran mulai gelisah. Sebentar lagi mereka harus masuk ke dalam pesawat. Aran pun membuang gelas kopinya pada tempat sampah dan menuju toilet. Tempat itu kosong. Aran berkeliling sebentar dengan harapan Diona dan Leana tengah membeli sesuatu, ternyata tidak di temukan. Bisa di pastikan Diona dan Leana menghilang. Aran kembali pada tempat duduknya tadi. Dia akan menunggu sebentar berharap Diona dan Leana kembali. Perasaannya sungguh tidak enak. Jika Diona dan Leana tidak segera kembali mereka akan tertinggal pesawat. Tapi bukan itu yang di pikirkan okeh Aran. Tapi keselamatan dua wanita itu. Leana mengikuti dua pria yang membawa Diona dengan sebuah taksi. Mereka tidak sadar tengah di ikuti. Tidak jauh dari bandara mereka berhenti dan menurunkan Diona yang tidak sadar pada sebuah tempat. Perlahan Leana menyelinap mengikuti mereka, tempat itu tampak seperti gedung kantor yang tidak terpakai. Lokasinya agak jauh dari jalan raya. Dua pria itu membawa Diona masuk, Leana tidak mungkin mengikuti masuk ke dalam. Tapi dia khawatir dengan keadaan Diona. Leana tampak menimbang untuk masuk atau tidak ketika seseorang menepuk bahunya.