PADA DUA HATI

PADA DUA HATI
Permintaan Diona


__ADS_3

Rencananya Bayi akan ke Italy untuk melihat Diona wisuda. Tapi Bayu merahasiakan itu. Dia ingin mengejutkan Diona. Pesta tidak berlangsung lama. Khawatir Mitsi tidak sanggup. Setelah acara foto bersama Bayu membawa Mitsi ke kamar hotel yang telah di sediakan untuk mereka. Wajah Bayu penuh senyum. Mitsi telah resmi menjadi istrinya. Mitsi tampak lelah. Dia duduk dan membuka hiasan kepalanya. Bayu membantunya, dia tau Mitsi lelah. Untung saja Mitsi bisa makan tadi.


"Setelah ini kau tidur ya, pasti lelah. Apa kakimu tidak merasa sakit?" tanya Bayu lembut.


"Sedikit, tapi kakiku terasa kencang." Mitsi mengakui apa yang dia rasa.


"Nanti aku bantu mengurutnya." Bayu berjanji. Mitsi membersihkan wajahnya sedangkan Bayu menyiapkan air hangat untuk Mitsi mandi. Selesai membersihkan wajahnya Mitsi ke kamar mandi, dia melepas gaun pengantinnya.


"Bayu." Mitsi memanggil Bayu untuk menyerahkan gaun pengantin itu. Sayang jika basah terkena air. Bayu segera mengambil gaun putih itu. Tubuh Mitsi yang bersembunyi di balik pintu membuat Bayu penasaran. Tapi Bayu teringat keadaan Mitsi yang sedang hamil muda. Kali ini dia tidak mau memaksa Mitsi. Bayu harus sabar. Mitsi selesai mandi dia keluar dengan wajah yang lebih segar. Giliran Bayu yang mandi. Mitsi segera naik ke tempat tidur karena merasa pinggangnya pegal. Bayu tidak lama membasuh tubuhnya, dia keluar sudah siap dengan baju tidurnya. Dilihatnya Mitsi yang sudah terbaring di tempat tidur. Bayu merasa iba pada istrinya. Bayu menaiki tempat tidur. Perlahan dia memijat kaki Mitsi.


"Kakimu pasti pegal, karena tadi banyak berdiri." kata Bayu lembut. Mitsi diam saja, dia sudah mengantuk. Tapi Bayu dapat merasakan kaki Mitsi yang tegang. Bayu memijatnya perlahan hingga kaki Mitsi tidak kejang lagi Karena kakinya terasa nyaman Mitsi pun tertidur. Bayu meletakan kaki Mitsi dan mulai menyelimuti istrinya. Malam pertama mereka harusnya dia dan Mitsi memadu kasih. Namun Bayu sadar dia sudah mengambil moment itu duluan. Selain itu Bayu ragu apa Mitsi bisa menerima keinginannya membagi hasrat. Di karenakan dia sudah memaksa Mitsi waktu itu. Bayu memilih untuk membiasakan diri dulu mereka tidur bersama. Bayu masuk ke dalam selimut. Menarik Mitsi ke dalam pelukannya. Di ciumnya kening Mitsi mesra. Bayu tersenyum, setiap malam dia bisa memeluk wanita yang di cintainya. Bayu pun tidur menyambut mimpi bahagianya.


Diona tidak segera kembali ke Italy setelah pesta pernikahan Bayu. Dia meminta sesuatu yang mengejutkan Aran. Diona ingin mendatangi makam Mhina.


"Di apa kau tidak salah?" tanya Aran terkejut.


"Tidak, hanya sekali ini saja." pinta Diona. Aran tidak tau letak makam Mhina. Mau tidak mau dia bertanya pada Luthan. Aran tidak mau bicara pada orangtua Mhina. Lebih baik dia bicara pada Luthan. Aran tidak mau orangtua Mhina berpikir dia punya perhatian pada Mhina. Luthan yang di hubungi Aran awalnya merasa heran. Tiba-tiba Aran bertanya tentang makam Mhina. Tapi Luthan dengan baik hati memberi tau letak makam Mhina. Dia akan mencari tau sendiri apa tujuan Aran bertanya tentang itu. Setelah tau letak makam Mhina, Aran pun memenuhi keinginan Diona. Mereka segera berangkat menuju lokasi makam Mhina. Dengan petunjuk dari Luthan mereka bisa menemukan letak makam Mhina. Diona meletakan bunga yang di bawanya. Di sana sudah ada buket bunga, mereka bisa menebak siapa yang meletakannya. Aran hanya menunggu di belakang Diona. Tidak tertarik memperhatikan makam Mhina. Tiba-tiba seseorang menghampiri mereka. Luthandio. Aran langsung waspada. Diona tidak melihat karena dia menatap makam Mhina.

__ADS_1


"Di." Aran memperingatkan. Diona pun menoleh. Dilihatnya Luthan yang perlahan menghampirinya. Wajah Diona menjadi tegang. Luthan tiba-tiba bersimpuh di depan Diona. Aran dan Diona terkejut.


"Ampuni aku yang sudah menyakitimu. Itu kulakukan karena rasa cintaku pada Mhina. Aku sadar, aku egois bersedia melakukan apa pun yang Mhina minta. Tapi semua sudah berakhir. Aku tidak mau menyakiti siapa pun lagi." kata Luthan yang menunduk sedih. Diona tergerak hatinya. Yang awalnya dia takut, perlahan menjadi iba. Luthan sengaja tidak menunjukan wajahnya agar Diona tidak takut. Tapi karena peristiwa itu susah cukup lama, Diona mulai bisa mengontrol dirinya. Apalagi Luthan dengan menyesal meminta maaf.


"Bangunlah jangan seperti itu." kata Diona lembut.


"Aku akan bangun jika kau memaafkan aku." kata Luthan berkeras.


"Baiklah aku maafkan." Diona menerima niat baik Luthan. Perlahan Luthan bangkit. Aran yang sejak tadi diam menjadi lega. Wajah Luthan menatap Aran dan Diona menampakan ketulusan.


"Terima kasih kalian mau memaafkan aku. Semoga kalian bahagia, tidak seperti aku." Luthan mengakui dia mendapat hukumannya sendiri dari cintanya.


"Aku tidak yakin." jawab Luthan lemah.


"Kau memang harus melupakan Mhina dulu. Dia tidak mencintaimu. Bukalah hatimu untuk cinta yang baru." saran Diona.


"Semoga aku bisa seperti itu." Luthan tidak tau sampai kapan dia akan menyimpan cintanya pada Mhina. Luthan pun berlalu, dia tidak mau mengganggu waktu Aran dan Diona.

__ADS_1


"Sudah puas kan keinginanmu aku turuti." kata Aran pada Diona.


"Ya puas. Terima kasih ya, aku tau ini tidak menyenangkan bagimu." kata Diona bersimpati.


"Kau tau aku tidak suka ini.Maka kau harus membalasnya." Aran mengambil kesempatan.


"Membalasnya dengan apa?" tanya Diona curiga.


"Ikut saja aku. Sekarang giliranku yang kau turuti." Aran membalas Diona. Tanpa membantah Diona mengikuti Aran. Mobil Aran menuju ke suatu tempat. Dengan bertanya-tanya dalam hati Diona sebenarnya ingin tau, Aran membawanya ke mana. Diona melirik Aran yang senyum-senyum sendiri. Aran tau Diona penasaran. Ternyata Aran membawa Diona ke rumahnya. Selama tinggal di Jakarta Diona tinggal di rumah orangtua Aran. Diona tidak tau rumah Aran yang baru. Ketika mereka memasuki halaman rumah Diona sudah bisa menebak, ini rumah Aran.


"Ayo masuk." Aran mengajak Diona dengan riang. Yang di ajak mengikuti Aran dalam diam. Diona mengagumi rumah itu. Rumah itu cukup besar untuk Diona, sejuk dan asri. Tampak dua asisten rumah tangga muncul menyambut mereka.


"Kenalkan ini mbok Yem dan Sumi yang mengurus rumah ini. Nah mbok ini Diona, tunangan saya." Aran memperkenalkan mereka.


"Diona." dengan Ramah Diona mengenalkan diri.


"Oh ini calonnya den Aran, cantik ya." seru mbok Yem kagum melihat Diona. Dia bisa menilai calon nyonya yang baik.

__ADS_1


"Saya Sumi, pelayan paporit di sini dan bisa di andalkan." kata Sumi bangga. Dia kan sering jadi mata-matanya Aran.


"Jus, sembarangan." mbok Yem memarahi Sumi. Diona tertawa.


__ADS_2