
Semula Mhina ingin pergi ke luar, namun Luthan punya maksud lain. Dia merayu Mhina dengan segenap kemampuannya. Hingga Mhina melayani keinginannya. Mhina mendapat sesuatu yang tidak di berikan Aran. Mhina terhanyut. Sejak saat itu Mhina jatuh dalam genggaman Luthan.
Rustam tengah mendengar laporan dari asistennya, Rudy.
"Istriku bertemu dengan Wilma Atmaja. Siapa dia dan untuk apa dia bertemu dengannya?" tanya Rustam heran.
"Masih bagus Dewanti bertemu Wilma. Kalau bertemu dengan suaminya bahaya." kata Rudy yang sudah lama bersahabat dengan Rustam.
"Maksudmu? Memang siapa suami Wilma Atmaja?" Rustam jadi ingin tau.
"Suaminya itu pengusaha hebat Danu Wirya Atmaja. Tinggi, tampan dan masih muda. Kalau Dewanti bertemu dengannya kan repot urusannya." Rudy memanas-manasi Rustam. Dewanti memang cantik dan awet muda. Dia juga pintar.
"Jadi menurutmu aku kalah darinya?" Rustam jadi panas.
"Dari segi usia ya jelas kalah." Rudy tidak undur.
"Kita lihat saja nanti, Dewanti tidak akan bisa berpaling dariku." kata Rustam geram.
"Jadi ada urusan apa mereka bertemu?" Rustam tidak lupa dengan niatnya.
"Itu yang belum di ketahui. Tapi Wilma Atmaja itu Tante dari teman baik Aran semasa kuliah. Diona Azalea." hanya itu yang Rudy tau. Rustam jadi bertanya-tanya, apa sebenarnya yang Dewanti sedang lakukan? Lebih baik dia mendengarnya dari Dewanti sendiri. Dia akan menunggu Dewanti pulang. Sedangkan Dewanti tengah makan malam dengan Aran. Tapi pikirannya jauh melayang.
"Bunda kenapa? Dari tadi diam saja." kata Aran menatap bundanya cemas. Dewanti tersadar dari lamunannya.
"Bunda sedih. Tadi bertemu kenalan baru yang bercerita pada bunda, keponakannya patah hati karena sang pria tidak peka." jawab Dewanti kesal.
"Wah, apa orang itu istimewa bunda sampai ikut sedih begitu?" Aran tau sifat bundanya. Tidak mudah dekat dengan orang baru.
"Sangat spesial. Bunda suka padanya." Dewanti jujur.
"Patah hati kan biasa bunda, tidak semua orang bisa mendapatkan cintanya." kata Aran berkaca pada dirinya.
__ADS_1
"Termasuk kamu. Apa kamu tidak bisa mencintai Mhina karena hatimu sudah mencintai yang lain Aran? jawab bunda dengan jujur." Dewanti menatap tajam Aran. Putranya terdiam dulu. Menimbang apa bijaksana untuk bercerita pada bundanya.
"Sepertinya begitu bunda." jawab Aran yakin. Hati Dewanti bagai di cubit. Sakit.
"Bunda tau siapa yang kamu maksud. Tapi Aran bunda minta bereskan dulu rumah tanggamu. Perbaiki apa yang bisa di perbaiki. Ini pilihanmu ." kata Dewanti tegas.
"Aran tau bunda Aran akan lakukan apa yang Aran harus lakukan. Aran akan bertanggung jawab atas apa yang Aran pilih." Aran menggenggam tangan Dewanti, meyakinkan ibunya. Dewanti semakin sedih. Putranya seorang yang baik, tapi tidak bahagia. Dewanti semakin kecewa dengan suaminya, Rustam.
Kembali ke Florence. Di sekolah Elis terus tersenyum. Membuat Diona gemas.
"Terus saja senyum, jangan pedulikan yang lain." kata Diona pada Elis.
"Di kamu tuh harusnya ikut senang kalau temanmu senang." kata Elis membela diri.
"Sudahlah Di, dia sedang jatuh cinta. Kau kan masih punya aku. Kita bisa ko kalau mau mesra." kata Lucca sambil merangkul Diona.
"Ide bagus, dia tidak bisa rangkulan karena Justin jauh." Diona menyambut candaan Lucca. Elis cemberut karena Diona benar. Justin sudah pulang ke London. Mereka hanya bisa mengobrol melalui telepon.
"Elis, aku mau memberikan gaun-gaun yang kau kenakan pada waktu bertemu Justin." kata Diona pada Elis.
"Iya karena gaun-gaun itu punya makna penting dalam hidupmu " Diona meyakinkan.
"Terima kasih ya Di, aku suka sekali. Mungkin nanti aku bisa menggunakannya untuk pergi bersama Justin." Elis senang sekali, Diona sahabatnya baik padanya.
"Nanti aku bawakan ya." Diona ke,mbali fokus pada tugasnya. Siang seperti biasa Paul menjemputnya untuk pulang. Ketika mereka tiba di apartemen Sean tampak Tom sedang berdiri di depannya.
"Tom apa yang kau lakukan di sini?" tanya Paul ingin tau.
"Hai tuan Paul. Apartemen ini akan di sewakan. Yang menyewa kemarin di tangkap polisi dan istrinya di jemput keluarganya " jelas Tom.
"Sean di tangkap? kenapa dia di tangkap?" Paul dan Diona terkejut.
__ADS_1
"Dia terlibat pemukulan di tempat kerjanya, lalu ternyata dia juga suka memukul istrinya. Untung saja dia segera di tangkap." Tom tamak kesal.
"Pantas istrinya tidak pernah keluar. Aku juga bersyukur dia di tangkap. Aku khawatir pada Diona?" kata Paul lega.
"Baiklah tuan Paul jika ada teman atau kerabat yang ingin menyewa apartemen ini bisa hubungi saya." Tom yang menjaga apartemen tersebut.
"Ok nanti aku hubungi jika ada yang minat." Paul mengajak Diona berlalu. Satu masalah selesai, Paul tidak khawatir lagi meninggalkan Diona di siang hari. Paul membuat makan malam untuk Diona.
"Paul aku rindu makanan Indonesia. kata Diona manja.
"Makanan Indonesia? Bararti aku harus belajar masakan itu ya." Paul mengingat-ingat, rasanya ibunya punya resep masakan Indonesia.
"Coba aku mampir ke rumah ayahku. Nanti aku cari resep ibuku." kata Paul.
"Aku boleh ikut?" Diona penasaran akan rumah ayah Paul.
"Tentu saja kau boleh ikut." Paul senang Diona mau menemaninya ke rumah ayahnya. Tiba-tiba Danu menghubungi. Diona menjawab.
"Halo om,kangen Di ya?" Diona menggoda Danu.
"Iya nih. Sebentar lagi om datang loh. Kamu sudah pikirkan kita mau jalan-jalan ke mana?" tanya Danu. Tidak terasa sudah waktunya Danu datang untuk menengok keponakannya.
"Nanti Di pikirkan ya. Tante mana?" Diona rindu pada Wilma.
"Ko Tante saja yang di cari? Om di cuekin." Danu mengeluh.
"Di mau pesan banyak sama Tante. Di sebenarnya pingin pulang." Diona rindu yang berbau Indonesia.
"Ya sudah kamu ngomong sama Tante ya. Jangan pulang, nanti pesanannya di bawakan." Danu mengalah. Dari pada Diona pulang. Diona pun bicara pada Wilma, mengatakan pesanannya. Wilma senang, Diona sudah lebih terbuka. Tidak menutup diri seperti dulu. Paul tersenyum mendengar percakapan Diona. Dia jadi ingat ibunya. Apa Bayu belum menemukan ibunya?
Dewanti bersikap dingin pada Rustam ketika pulang dari Surabaya. Ini membuat Rustam semakin gelisah. Akhirnya dia tidak tahan lagi. Di tariknya Dewanti untuk bicara.
__ADS_1
"Sayang mas mau menagih janji kamu, janjinya kan setelah pulang dari Surabaya kamu mau cerita pada mas." kata Rustam pada Dewanti. Rasanya Dewanti malas meladeni Rustam. Tapi memang tidak dapat di hindari.
"Baiklah, aku akan bicara terus terang padamu mas. Ada masalah dalam rumah tangga anak kita Aran. Itu tidak di ceritakannya pada kita, Aran menyimpannya sendiri. Tapi aku bisa tau mas. Ternyata firasatku benar, Mhina bukan wanita yang baik untuk menjadi istri Aran."