PADA DUA HATI

PADA DUA HATI
Rustam vs Dewanti


__ADS_3

"Aku tidak akan mengatakan pada mas apa yang Mhina lakukan. Mas bisa mencari tau sendiri. Tapi ingat mas jika ini terus berlanjut hingga terjadi hal yang lebih buruk, aku tidak akan memaafkanmu. Mengetahui putraku tidak bahagia saja hatiku sesak. Apa lagi belakangan ini aku tahu Aran ternyata mengorbankan perasaan cintanya pada seseorang. Seorang yang pantas di cintainya dan ternyata juga mencintainya." kata Dewanti dengan perasaan kecewa dan sedih.


"Sayang mas tau kamu tidak suka pada Mhina. Tapi apa ini bukannya kamu memojokan Mhina? Mhina memang bukan wanita sempurna. Tapi dia istri Aran sekarang." kata Rustam mencoba sabar.


"Kita lihat saja mas, mudah-mudahan harapan mas benar. Tapi jika tidak, ingat kata-kataku mas." Dewanti tau Rustam tidak akan percaya begitu saja.


"Lalu gadis yang di sukai Aran itu siapa?" Rustam ingin tau.


"Untuk apa mas tau, tidak ada gunanya. Dia sudah pergi jauh sejak Aran menikah." Dewanti tidak mau menyebut Diona. Rustam hanya perlu fokus pada Mhina, menantu yang telah di pilihnya.


"Aku mau istirahat dulu mas." Dewanti bangkit dan berlalu.


"Sayang." Rustam memanggilnya mencoba menahan istrinya. Tapi Dewanti mengabaikannya. Bukannya lega Rustam malah cemas. Dewanti tidak pernah mengada-ada. Kalau perasaan Dewanti sampai seperti itu berarti ini hal serius. Rustam akan mencari tau. Sebenarnya apa yang terjadi dalam rumah tangga putranya. Rustam meminta Rudy untuk mencari tau tentang Mhina. Rustam khawatir akan ancaman Dewanti. Jika rumah tangga Aran bertambah buruk bukan hanya Dewanti tidak mau memaafkannya. Tapi juga meninggalkannya.


Mhina keluar dari dalam rumah dengan berjalan perlahan. Dia beralasan pada mbok Yem akan ke taman sebentar. Padahal tadi Luthan menghubunginya untuk keluar dari rumah dan bertemu dengannya. Hari ini Luthan tidak datang ke rumah, entah kenapa. Malah minta bertemu di luar. Mhina berjalan agak jauh lalu melihat mobil Luthan terparkir di lahan sepi. Mhina memasuki mobil Luthan.


"Kenapa kamu tidak ke rumah saja?" tanya Mhina kesal. Dia harus berjalan di udara panas.

__ADS_1


"Repot sayang, di rumah banyak mata-mata." kata Luthan dengan senyum lebar. Dia senang Mhina menurutinya.


"Memang ada apa?" tanya Mhina heran. Luthan tidak menjawab, tapi dia menarik Mhina ke pangkuannya. Mhina kaget.


"Aku sedang ingin sayang, tapi di rumahmu para pekerja bisa tau apa yang kita lakukan. Di sini saja ya." kata Luthan merayu. Mhina jadi tau apa yang Luthan inginkan. Memang tidak mudah bagi mereka berdua untuk bersenang-senang, karena banyak yang memperhatikan. Tapi untuk pergi ke luar rumah juga tidak mungkin bagi Mhina. Aran tau kalau dia meninggalkan rumah. Dengan terpaksa Mhina mengikuti keinginan Luthan. Hanya Luthan seorang teman yang bisa menghiburnya. Setelah keinginan Luthan tercapai, Mhina pun kembali ke rumah dan memasuki kamarnya. Dia membersihkan dirinya dan beristirahat. Di mata para pekerja hari itu Mhina menghabiskan waktunya di kamar. Tidak menyusahkan mereka.


Rustam yang berusaha mencari tau sudah mendapat laporan tentang kedekatan Mhina dengan pria yang bernama Luthan. Rustam jadi tau ini yang di maksud Dewanti. Juga tentang perangai Mhina di rumah yang tidak berlaku selayaknya istri membuat Rustam gusar. Dia jadi takut apa yang di duga Dewanti benar terjadi. Karena bisa saja Dewanti memutuskan meninggalkannya karena kecewa. Belum pernah Rustam melihat Dewanti seperti ini. Sampai sekarang pun Dewanti belum mau bersikap hangat padanya. Agar kekhawatirannya tidak terjadi Rustam pun mengajak Dewanti bicara lagi.


"Dewanti sayang. Mas mau bicara serius denganmu." Rustam menghampiri Dewanti di kamar. Dewanti dengan setengah hati mendengarkan suaminya.


"Mas sudah tau apa yang sedang berlangsung di rumah putra kita Aran. Tapi sayang mas ingin bertanya. Mengapa Aran membiarkannya? Apa kau tau?" tanya Rustam hati-hati. Dia membayangkan jika Dewanti yang seperti itu dia pasti marah besar.


"Tapi tidak bisa begitu. Aran harus bertindak. Aran itu bodoh atau bagaimana. Masa dia diam saja harga dirinya di injak-injak. Mhina harus menghargai Aran dan tidak mempermalukan suaminya." Rustam tidak sabar, dia marah.


"Mas aku sudah bilang putra kita itu baik. Dia sudah menegur Mhina, lalu apa yang harus Aran lakukan? Mengurung Mhina di rumah tanpa dapat di temui orang lain? Nanti kalau dia stres bagaimana? Harusnya Mhina bisa melihat kebaikan Aran, bukan terus memanfaatkan kesabaran Aran. Tapi aku mempunyai dugaan lain dengan diamnya Aran. Dia tidak bertindak karena ada hal lain." kata Dewanti yang kesal putranya di sudutkan.


"Apa itu sayang?" Rustam penasaran.

__ADS_1


"Aku melihat ada yang di pikirkan Aran selain urusan Mhina. Sejak awal Aran sudah mencintai seseorang bahkan sebelum menerima perjodohannya dengan Mhina. Aran tidak tau gadis itu mencintainya. Saat ini dia tengah mencari keberadaan gadis itu. Menurutku mas, Aran bersikap diam pada ulah Mhina karena dia tidak mencintai Mhina. Dia sulit mencintai Mhina karena hatinya sudah penuh dengan yang lain. Apa lagi Mhina seperti itu, tidak bisa mengambil hati Aran." kata Dewanti dengan penuh penyesalan.


"Lalu untuk apa Aran mencari gadis itu? Apa Aran ingin menjalin hubungan dengannya?" Rustam khawatir adanya skandal di keluarganya.


"Tidak tau mas. Tapi Aran sudah berjanji padaku untuk tetap bertanggung jawab pada Mhina. Karena itu pilihannya. Aku percaya pada Aran. Apa kamu percaya pada putramu mas?" tanya Dewanti.


"Aku percaya sayang. Selama ini Aran tidak pernah membuat aku kecewa." Rustam mengakui itu.


"Jadi mas, kamu lihat kan betapa tidak bahagia putramu. Betapa kecewa aku." Dewanti berkata dengan marah.


"Ya sayang, mas mengaku salah. Tapi mas minta apa pun yang terjadi walau buruk sekalipun, jangan pernah tinggalkan mas." Rustam memohon. Dia mengatur langkah lebih dulu. Dewanti menatap Rustam. Ternyata suaminya juga berpikir jauh ke depan.


"Baiklah aku berjanji. Tapi mas harus mau mendengarkan permintaanku." Dewanti mengambil kesempatan.


"Mas akan mendengarkan permintaanmu sejak sekarang. Memangnya apa permintaanmu sayang?" Rustam berjanji untuk mendengarkan. Keputusan kan tetap dia yang buat.


"Untuk saat ini tolong ajukan kerja sama dengan perusahaan Danu Wirya Atmaja." kata Dewanti mengejutkan. Rustam jadi teringat perkataan Rudy tentang Danu.

__ADS_1


"Untuk apa sayang?" Rustam jadi khawatir.


__ADS_2