
"Iya tidak seperti kamu mas, mesum." kata Wilma.
"Tapi kamu betah hidup sama pria mesum seperti aku ." Danu balas menggoda Wilma.
"Kamu mas yang tahan sama aku. Sudah di mesumin tidak hamil juga." kata Wilma menyinggung fakta.
"Sudah ya jangan bicara begitu lagi. Selama ini kita bahagia kan. Itu yang terpenting. Tidak perlu menghadirkan pihak ketiga yang akan menimbulkan luka bagimu. Aku juga tidak perlu menahan mesum karena istriku hamil muda atau habis melahirkan. Mau berapa ronde tinggal lakukan. Aku sih puas dengan itu." kata Danu panjang lebar seperti jual obat.
"Mas memangnya tidak mau punya anak?" Wilma ingin tau.
"Bukannya tidak ingin. Kalau di kasih ya syukur. Tapi kalau tidak ya jangan memaksakan. Aku pilih kamu bukan untuk satu tahun atau dua tahun. Tapi seumur hidupku. Aku milih kamu bukan karena minta anak, tapi karena ingin hidup bersamamu. Kalau ada ketidak sempurnakan dalam hidup kita ya kita harus terima. Bahagia itu kan di cari bagaimana baiknya untuk kita berdua. Masih banyak cara agar kita bahagia tanpa harus memaksakan seorang bayi keluar dari perutmu." Danu berkata lembut. Dia paham kegundahan hati Wilma. Itu sebabnya Danu tidak suka Wilma berada di luar rumah, lalu merasa sedih dengan keadaan mereka berdua. Ya, mereka berdua. Bisa saja dirinya yang menyebabkan mereka tidak punya anak. Wilma terharu dengan kata-kata Danu. Dia memeluk Danu sambil menitikkan air mata. Tapi hatinya lega.
"Tuh sudah ketularan mesum kan." komentar Danu pada istrinya. Wilma tersenyum tapi tidak berniat melepaskan diri. Suami ganteng dan baik begini jangan di lepas.
Paul mendapat panggilan ke Paris. Restauran idamannya memanggil kembali. Tapi Paul tidak mau meninggalkan ayahnya dan Diona. Saat ini ayahnya sudah banyak berubah. Akhirnya Paul memutuskan untuk memperkenalkan temannya pada pihak restauran di Paris.
"Didi kamu mau ikut ke Paris?" tanya Paul pagi itu, sebelum mengantar Diona sekolah.
"Kau akan ke Paris? untuk apa? Bekerja? Kau akan pindah ke sana?" tanya Diona panik.
"Satu-satu non, pihak Restauran memanggilku lagi. Tapi aku berat meninggalkan ayahku. Jadi aku akan memperkenalkan temanku untuk menggantikan aku. Mungkin hanya dua hari di sana." jelas Paul, dia tertawa geli melihat reaksi Diona.
"Aku mau ikut. Di rumah sendiri sepi." Diona senang dia akan jalan-jalan lagi.
"Nanti siap-siap tidak perlu banyak bawa barang." kata Paul menutup pembicaraan. Di sekolah Diona terus tersenyum karena tau akan pergi ke Paris. Itu mengganggu pemandangan Lucca yang sedang kesal.
__ADS_1
"Ada apa sih kau senyum terus, menang lotre?" tanya Lucca pada Diona gemas.
"Kau sendiri kenapa, wajahmu di tekuk terus?" Diona meledek Lucca.
"Aku sedang banyak pekerjaan. Kantorku harus memilih beberapa lukisan untuk di pamerkan. Tapi atasanku memilih lukisan yang tidak bermutu." kata Lucca menjelaskan.
"Maksudmu tidak bermutu?" Diona penasaran.
"Lukisan itu sudah pernah di pamerkan oleh pelukisnya. Tidak laku terjual, tapi dia ingin kami memamerkannya kali ini. Padahal aku menemukan lukisan yang lebih baik dari itu." Lucca kesal.
"Apa alasannya atasanmu berbuat begitu?" Diona berpikir pasti ada alasan di balik itu.
"Hubungannya dekat dengan pelukis itu." jawaban Lucca sudah menjawab persoalan.
"Asal atasanmu mau bertanggung jawab saja atas hasil pameran nanti." Diona takutnya Lucca yang nanti di salahkan.
"Semoga sukses, kapan pamerannya?" Diona penasaran.
"Seminggu lagi." jawab Lucca antusias.
"Ayo Elis, kita lihat pameran yang diadakan kantornya Lucca." ajak Diona pada Elis. Gadis itu sedang sibuk membuat kartu ucapan dengan spidol warna.
"Aku sih ok saja." Elis kembali sibuk dengan kartunya. Ketika pulang Paul membawa roti dari restaurannya. Paul membawanya untuk Diona jika lapar di malam hari. Ketika mereka tiba Sean sudah berdiri di depan apartemennya. Sepertinya menunggu mereka liwat.
"Hai kalian baru pulang?" tanya Sean, matanya menatap Diona. Paul punya firasat Sean ingin kenal dekat dengan Diona.
__ADS_1
"Ya kami permisi dulu." Paul menggandeng Diona untuk segera berlalu dari situ.
"Aku boleh mampir ke apartemen kalian? kalian pacaran ya?" tanya Sean ingin tau.
"Maaf tapi kami mau pergi lagi." kata Paul lalu menarik Diona pergi. Paul tidak berminat menjelaskan hubungannya dengan Diona.
"Paul aku takut dengannya. Dia tampak bukan orang baik." kata Diona takut.
"Ya kau jangan buka pintu untuknya. Aku juga curiga padanya." jawab Paul. Tapi pikiran Paul jadi tidak tenang.
"Didi kau ikut aku saja ya. Nanti kau istirahat di ruang kerjaku saja. Atau kau mau main ke rumah Elis?" tanya Paul yang khawatir.
"Aku ikut denganmu saja." Diona tidak mau merepotkan Elis.
'Ya sudah, ayo bersiap. Kita berangkat." kata Paul. Diona pun mengikuti Paul. Ketika mereka pergi tampak Sean mengamati mereka. Dia ingin kenal Diona, tapi tampaknya pacarnya tidak suka pikir Sean.
"Tom kau tau pasangan baru di sebelahku?" tanya Paul pada Tom.
"Mereka sepasang suami istri. Suaminya selalu keluar malam hari, pulang tengah malam atau menjelang pagi. Istrinya jarang keluar rumah. Jika keluar penampilannya aneh." kata Tom.
"Aneh bagaimana?" Paul ingin tau.
"Selalu menggunakan kaca mata hitam dengan baju yang tertutup rapat. Dia jarang mau bicara pada orang lain." Tom sendiri merasa wanita itu ketakutan.
"Tolong awasi mereka ya. Aku khawatir pada Diona. Suaminya sering menunggu kami pulang." Paul mengungkap fakta.
__ADS_1
"Hati-hati nona. Sudah ada yang lapor suaminya suka menggoda wanita di lantai satu. Kalau ada apa-apa panggil saya saja." kata Tom mengingatkan.
"Baik terima kasih Tom. kami pergi dulu." Paul pamit dan menjalankan mobilnya. Sekarang mereka sudah tau, pria itu tidak ada di rumah jika malam. Diona akan aman malam hari. Tapi Paul jadi kesal. Ini apartemennya, masa mereka jadi tidak nyaman di apartemen mereka sendiri. Mereka tiba di restauran Miguel, ayah Paul. Keenam restaurannya menggunakan nama yang sama. Del's Miguel. Ketika Diona bertanya tentang artinya, Paul menjelaskan. Del's itu kependekan nama ibunya Deliana. Jadi arti nama restaurannya Deliana milik Miguel. Karena Miguel merintis usahanya dulu bersama Deliana, ibu Paul. Miguel dulu pemuda miskin, memulai usaha di dampingi istrinya. Hingga kini ada enam cabang restaurannya. Pantas saja ibu Paul sakit hati dengan ayah Paul. Dia yang mendampingi suaminya dari nol. Restauran tampak ramai karena jam makan siang. Paul menggandeng Diona yang membuat kehebohan para staf yang ada di sana.