PADA DUA HATI

PADA DUA HATI
Aran Bertemu Diona


__ADS_3

"Bagi saya istri yang hanya di senangkan dan di manjakan akan membosankan." Bayu menambahkan. Alenza jadi mengerti Bayu tidak tertarik padanya. Dia yang cantik dan kaya ternyata tidak masuk hitungan Bayu. Nilainya kurang. Tadi Bayu bilang harus bisa masak, dia tidak bisa masak sama sekali. Bisa mengurus rumah dan anak. Boro-boro mengurus rumah, dia taunya mengurus penampilan. Kalau soal anak dia belum mau punya anak. Repot. Mungkin Bayu ingin segera punya anak. Lalu bisa menunjang pekerjaannya, maksudnya apa ya? Bisa bantu bisnisnya atau bekerja begitu. Seorang Alenza hanya tau minta uang pada papanya. Mana tau tentang bisnis. Oleh sebab itu papanya tidak sembarangan mencari calon suami untuknya. Ternyata pilihan papanya kali ini salah. Bayu tidak terpukau pada penampilannya. Sudah beberapa kali papanya mengenalkan pria padanya. Tapi selalu tidak di sukainya. Kali ini dia sangat suka, tapi standard pria itu jauh darinya.


"Tadi mas bilang sudah punya pilihan, benar?" Alenza jadi tidak selera makan.


"Benar. Saya sudah punya pilihan. Doakan saja semua lancar, kami bisa segera menikah." Bayu punya harapan pada Mitsi. Alenza menolak dalam hatinya untuk mendoakan Bayu. Tapi dia penasaran gadis seperti apa yang di sukai Bayu.


"Mas tidak mau mengenalkan padaku?" tanya Alenza ingin tau.


"Nanti kalau kami menikah pasti di undang." Bayu jelas menolak mengenalkan Mitsi pada Alenza. Jangan mencari masalah di air keruh, pikirnya. Bayu malas meladeni Alenza lebih jauh, dia hanya menikmati makan siangnya. Alenza sudah merasa jelas, Bayu menolaknya. Mereka pun tidak banyak bicara lagi. Alenza kecewa, baru kali ini ada yang menolaknya. Selesai makan siang Bayu pun pamit tanpa menunjukan dia ingin bertemu Alenza lagi. Bayu memutuskan untuk menemui Diona.


Mhina marah besar ketika tau Aran ke Italy. Dia jelas tidak senang Aran tidak pernah mau datang walaupun sudah berbagai cara dilakukan. Dia bertahan di rumah sakit dengan sia-sia. Aran tidak pernah mau datang. Mengetahui Aran ke Italy, apa pun alasannya pikiran Mhina tetap pada Diona. Pasti Aran bertemu Diona. Maka Mhina pun mengancam Luthan, demi bayi yang di kandungnya. Kehilangan bayi itu sekarang tidak masalah bagi Mhina, karena Aran tidak menginginkannya. Tapi tidak bagi Luthan. Bayi itu sangat berarti baginya. Luthan terpaksa memenuhi keinginan Mhina. Mencari Diona. Luthan berangkat ke Italy. Karena sudah pernah mengikuti Aran, Luthan tau di mana dia bisa menemukan Diona. Hari itu Diona tidak sekolah. Karena Paul sedang ke Amalfi, Diona memutuskan tetap tinggal di apartemen. Dia membuat masakan untuknya sendiri. Diona hanya akan bersantai hari itu. Ketika di dengarnya bel berbunyi Diona berpikir mungkin temannya yang datang. Dia pun membuka pintu. Tampak seorang pria yang tidak di kenalnya berdiri memandangnya dalam diam. Diona tidak kenal dengannya tapi dia orang Indonesia.


"Anda siapa?" tanya Diona heran. Pria itu tidak menjawab tapi justru mendorongnya masuk dengan kasar. Diona terkejut.

__ADS_1


"Apa yang anda lakukan? keluar sekarang". teriak Diona dengan takut. Luthan semakin mendorong Diona ke arah sofa, tangannya mencengkeram leher Diona.


"Kau siapa? mau apa kau denganku?" Diona semakin takut, tapi dia tidak dapat menahan Luthan. Jelas tenaganya kalah dari pria itu.


"Kau tidak perlu tau siapa aku. Kau hanya bisa menerima apa yang akan aku lakukan." Luthan mendorong Diona jatuh pada Sofa, kemarahannya pada tingkah Mhina akan di lampiaskannya pada Diona. Dengan hitungan detik Diona jatuh pada Sofa Luthan segera menindihnya. Diona langsung tau apa yang akan di lakukan pria itu. Tapi tangan Luthan masih tetap pada lehernya. Menekannya.


"Apa salahku padamu?" teriak Diona sambil berusaha menolak pria itu. Sedangkan Luthan tidak mau menjawab. Diona tidak punya salah padanya. Mhina yang ingin dia menyakiti Diona. Luthan merobek baju Diona, gadis itu merasa ingin mati saja karena takut dan tidak berdaya. Diona terus berteriak karena rasa takutnya walau Luthan tidak perduli dan terus dengan aksinya. Diona sudah pasrah akan nasibnya, siapa yang akan menolongnya? Luthan yang kalap tidak dapat dia lawan. Tetapi tiba-tiba ada yang menarik Luthan, memukulnya dengan ganas hingga pria itu jatuh terlempar agak jauh dari sofa. Diona melihat seorang pria tapi tidak jelas karena genangan air mata di matanya. Pria itu tidak berhenti sampai di situ saja, dia menghampiri Luthan dan memukulnya lagi. Kembali Luthan jatuh dan kesakitan. Perlahan Diona duduk dan meraih bantal untuk menutupi dirinya. Baru dia bisa melihat jelas siapa pria itu.


"Aran." seru Diona dengan suara bergetar karena ketakutannya tadi. Aran pun menoleh karena panggilan Diona. Kesempatan itu di gunakan Luthan untuk melarikan diri. Aran ingin mengejarnya tapi dia berpikir Diona butuh bantuannya. Aran pun menghampiri Diona yang menatapnya tidak percaya. Melihat keadaan Diona, Aran melepas mantelnya.


"Ada apa ini?" tiba-tiba Bayu bertanya di pintu sambil menatap dengan heran. Ruang tamu yang berantakan laku Aran yang berpelukan dengan Diona tidak bisa di mengerti oleh otaknya. Diona segera melepas pelukannya dan menghentikan tangisnya.


"Di di serang seorang pria." jawab Aran sambil berdiri lalu menatap Bayu yang terkejut.

__ADS_1


"Pria yang tadi berlari? jadi dia dari sini?" Bayu baru akan mengejar pria itu tapi Aran mencegahnya.


"Tidak perlu kau kejar. Aku sudah tau orangnya." kata Aran tegas. Bayu membatalkan niatnya dan menghampiri Diona. Melihat mantel yang di kenakan Diona, Bayu sudah bisa membayangkan apa yang di lakukan pria itu pada Diona.


"Brengsek, mengapa dia lakukan ini pada Di? Aran kau tau pria itu siapa?" kata Bayu marah. Dia memperhatikan apa ada yang luka pada Diona.


"Nanti saja aku katakan. Lebih baik kita pindahkan Di dulu dari sini." kata Aran tegas, dia khawatir akan ada lagi yang mendatangi Diona.


"Baiklah kalau begitu aku siapkan barang-barang Di." Bayu beranjak ke kamar Diona. Aran menuangkan air putih dan memberikannya pada Diona.


"Minum dulu agar kau lebih tenang." kata Aran lembut. Diona minum perlahan. Harusnya dia bertanya bagaimana Aran bisa ada di sana dan menolongnya. Tapi pikirannya buntu karena rasa terkejut dan takutnya tadi. Diona merasa lebih tenang dan aman berdekatan dengan Aran. Tanpa membuang waktu Aran membantu Diona mengenakan sepatunya.


"Aku sudah menyiapkan kebutuhan Diona." kata Bayu kemudian keluar dari kamar Diona.

__ADS_1


"Ayo kita berangkat." Aran berkata sambil membantu Diona berdiri dengan lembut.


__ADS_2