PADA DUA HATI

PADA DUA HATI
Persiapan Pernikahan


__ADS_3

"Mandi biar segar." Aran menggiring Diona ke kamar mandi agar gadis itu segera segar. Lalu Aran duduk di depan meja rias untuk di rapihkan penampilannya. Astrid pun bekerja. Dia sambil mengamati interaksi pasangan pengantin yang sedang di riasnya. Sebagai perias pengantin dia kadang penasaran apakah pasangan pengantin yang di tanganinya menikah karena cinta atau di jodohkan. Yang ini sepertinya karena cinta. Aran mengenakan kaos dan celana panjangnya. Astrid pun membuat penampilan Aran berbeda. Diona keluar dari kamar mandi dengan kimononya. Wajahnya sudah segar sekarang dan berseri. Aran menatapnya sambil tersenyum.


"Sudah selesai sayang?" Aran bertanya pada calon istrinya. Terlihat oleh Astrid Aran sangat ramah dan perhatian. Tapi padanya Aran pelit bicara. Namun Astrid setuju seperti itu. Pernah dia menghadapi pengantin pria yang centil dan kerab menggodanya. Itu sangat menjengkelkan.


"Aku sudah segar nih, aku siapkan bajumu ya."Diona yang asalnya ceria mulai berceloteh. Aran tersenyum melihatnya. Diona menyiapkan kemeja, jas dadi dan sepatu Aran. Tidak ketinggalan kaus kaki pria itu agar Aran mudah memakainya. Sentuhan terakhir oleh Astrid pada rambut Aran membuat pria itu siap untuk mengenakan pakaiannya.


"Sekarang giliran ku." kata Diona yang duduk di depan meja rias. Setelah Diona mandi baru terlihat pembawaannya yang ramah dan riang. Astrid merasa lega, dia malas jika pengantin wanitanya jutek. Dia tau pengantin yang di tanganinya berasal dari keluarga kaya. Tadinya dia mengira akan menghadapi pasangan yang angkuh. Tapi ternyata tidak. Aran mengenakan pakaiannya sambil sesekali melirik Diona. Dia sangat penasaran seperti apa Diona setelah di rias nanti. Tapi tentu saja dia tidak mungkin menunggu Diona terus.


"Sayang, ini jangan lupa nanti di pakai." Aran membuka kotak perhiasan untuk memastikan dia tidak salah ambil. Lalu meletakkannya di meja rias. Tampak satu set perhiasan berlian yang memukau.


"Iya nanti kupakai." jawab Diona singkat. Sebenarnya dia masih ingin mengenakan perhiasan yang di pakainya saat lamaran. Tapi karena ini permintaan bunda dia pun patuh.


"Tolong rias istri saya secantik mungkin." pinta Aran ramah pada Astrid. Gadis itu mengangguk sambil tersenyum.


"Sayang , aku keluar dulu. Ada yang harus ku pastikan." kata Aran pada Diona dengan tersenyum misterius. Tapi Diona tidak peka, karena pikirannya mulai penuh dengan acara pernikahannya. Aran pun berjalan keluar kamar.


"Wah indah sekali perhiasannya, pasti sangat mahal harganya." seru Astrid yang tidak dapat menahan kekagumannya.


"Itu dari pengantin pria, tanda mata bagi pengantin wanita." kata Diona merendah. Menegaskan jika itu bukan miliknya pribadi.

__ADS_1


"Pasti nona di sayang keluarga pria " Astrid merasa yakin dengan tanda mata semahal itu.


"Syukurnya begitu, aku tidak bisa membayangkan mertuaku tidak suka padaku." kata Diona sambil tertawa. Astrid menyukai pengantin wanita ini. Tanpa sadar mereka terlibat obrolan seru dan menjalin pertemanan. Sementara Aran bergegas menuju kamar Bayu. Para awak kapal yang berpapasan dengannya menunduk hormat. Mereka tau ini mempelai prianya dari penampilan Aran yang memukau. Para undangan atau keluarga yang berpapasan menyapanya. Aran membalas dengan senyum bahagianya. Ini hari pernikahannya. Aran mengetuk pintu kamar Bayu dengan tidak sabar.


"Wah bro cepat sekali sudah datang." Bayu yang membuka pintu tampak terkejut.


"Aku takut kamu lupa." kata Aran yang bergegas masuk. Bayu tertawa melihat sepupunya yang gelisah tapi bahagia. Aran menghampiri meja di mana terdapat sebuah kotak besar dan kecil.


"Periksa dulu siapa tau isinya kosong." goda Bayu pada Aran yang terkejut mendengarnya. Aran pun segera membuka kotak yang besar dan tersenyum lega ketika melihat isinya ada. Karena kapal sudah berlayar tidak mungkin mereka kembali karena benda tersebut.


"Percayalah, ini pernikahan yang indah." kata Mitsi yang menghampiri Bayu dan menyerahkan jasnya. Bayu pun mengenakannya.


"Sudah menikah dan mau punya anak bicara begitu." Mitsi memukul lengan Bayu sambil mengomel. Bayu tertawa dan memeluk sayang istrinya. Dia berjanji akan membuat istrinya selalu bahagia. Aran masih menatap isi kotak tersebut dengan terpaku. Sedangkan Bayu meraih kotak yang kecil dan membukanya. Tampak sepasang cincin pernikahan di dalamnya. Bayu menutup kembali kotak tesebut dan memasukannya ke dalam saku jasnya. Bahaya jika terlupa. Aran akan melemparnya ke laut. Sedangkan Aran mengeluarkan benda dari kotak yang besar. Tampak bunga tangan pengantin yang indah dengan pita merah jambu. Bunga itu berwarna-warni dengan kristal Swarovski putih pada tengahnya. Pada tiap kelopak bunganya terdapat taburan mutiara putih.


"Cantik." puji Aran senang.


"Cantik mana sama yang terima bunganya?" tanya Bayu menggoda.


"Cantikan yang terima bunganya dong." jawab Aran cepat.

__ADS_1


"Sayang bunga itu untukmu." kata Bayu pada Mitsi, yang tentu saja di protes Aran. Mitsi memperhatikan dua pria yang beradu mulut itu sambil tersenyum. Bagi Bayi Mitsilah yang tercantik. Bagi Aran Diona yang paling cantik.


"Sudah, sudah jangan bertengkar. Aran kau harus kembali untuk menjemput Di.".Mitsi melerai mereka.


"Ya aku harus menjemput pengantinku yang cantik." kata Aran sambil mengerling pada Bayu. Pria itu diam saja, dia masih kesal. Aran meletakan kembali bunga itu pada kotaknya lalu melangkah keluar. Tidak sabar ingin memberi hadiahnya pada Diona. Bayu mendekati istrinya yang sedang mematut diri di cermin. Mitsi ingin memastikan penampilannya sebelum mereka keluar kamar.


"Sudah cantik sayang " Bayu memeluk Mitsi dari belakang. Walau menikah karena terpaksa tapi Mitsi bisa melihat cinta Bayu yang besar dan tulus padanya. Hal itu menggerakkan hati Mitsi untuk belajar mencintai Bayu. Mitsi bersyukur Bayu menjadikannya ratu dalam hidup pria itu. Belum tentu pria yang di jodohkan ayahnya mau memperlakukan dia seperti itu.


"Bunganya belum di pasang." Mitsi teringat sesuatu. Dia mengambil Bros bunga pada meja riasnya dan mengenakan pada jas Bayu.


"Nah sudah selesai." Mitsi melihat penampilan suaminya yang tampan.


"Terima kasih sayang. Yuk kita keluar." Bayu mencium pipi Mitsi lalu menggandeng istrinya menuju keluar. Tangannya yang satu meraba saku jasnya, memastikan cincin pernikahan sudah ada di situ. Aran dengan cepat kembali ke kamarnya. Setelah mengetuk pintu Aran pun membuka pintu kamarnya. Dia yakin pintu tidak di kunci. Di dalam Diona sudah mengenakan gaun pengantinnya.


"Cantiknya." puji Aran melihat gaun pengantin yang di kenakan Diona.


"Ini belum mengenakan hiasan kepala dan perhiasan." kata Astrid.


"Tapi dia sudah cantik." bantah Aran yang terus menatap. Diona tersipu.

__ADS_1


"Di, ini ada hadiah dariku." kata Aran menyodorkan kotak yang di bawanya. Diona menghampiri Aran dan mengambil kotak besar tersebut.


__ADS_2