PADA DUA HATI

PADA DUA HATI
Kesalahan Bayu


__ADS_3

Bayu menjadikan Mitsi miliknya, walau gadis itu tidak mau. Kesabaran Bayu sudah habis. Dia meminta Mitsi untuk mau mengenalnya dan menerimanya. Tapi Mitsi memilih meninggalkannya. Maka Bayu memaksa Mitsi untuk menerimanya. Tidak lama kemudian Mitsi tidur menjauh dari Bayu. Dia terisak sedih dan menutupi tubuhnya rapat dengan selimut. Bayu bangun dan ke kamar mandi. Percuma membujuk Mitsi. Gadis itu marah padanya karena dia telah mengambil mahkotanya. Bayu melepas gadis itu setelah tercapai tujuannya. Mitsi menangis dan tidak mau di sentuh Bayu. Mike datang membawakan baju dan makanan untuk Bayu. Tidak mungkin Bayu mengenakan kemejanya yang berlumur darah. Keluarganya bisa gempar nanti. Mike pun pergi setelah tugasnya selesai. Bayu kembali ke kamar untuk menemui Mitsi.


"Makanlah, kau belum makan bukan. Aku pergi dulu. Maafkan aku Mitsi, aku mencintaimu." kata Bayu lembut. Setelah itu Bayu pergi meninggalkan apartemen Mitsi. Bayu akan memberikan Mitsi ruang dan waktu untuk lebih tenang. Dia menyesal membuat Mitsi menangis seperti itu. Tapi rasa khawatir dan cintanya telah membuat Bayu gelap mata. Yakin Bayu sudah pergi, Mitsi perlahan bangkit menuju kamar mandi. Dia membasuh tubuhnya, melihat tanda cinta yang di tinggalkan Bayu. Walau Bayu tidak menyadarinya tapi dia tetap tidak rela Bayu mengambil mahkotanya. Mitsi tau yang di perbuat Bayu agar dia tetap berada di samping pria itu. Pertanyaannya adalah apakah dia mau? Dia tidak mau. Tapi apa yang dia bisa perbuat? Bayu semakin berkuasa atas dirinya. Beberapa hari Bayu tidak datang atau menemuinya. Yang datang malah seorang pengacara yang meminta tanda tangan darinya. Rupanya Bayu memperkarakan pria berandal itu. Bayu butuh tanda tangan Mitsi sebagai saksi. Mitsi pun memberikannya.


"Apakah Bayu sedang sibuk?" tanya Mitsi ingin tau.


"Saya tidak tau nona. Tugas saya hanya meminta tanda tangan." elak si pengacara. Dia pun pergi. Ternyata si pengacara pergi ke kantor Bayu.


"Pak Devan ingin bertemu tuan." kata Mike pada Bayu.


"Suruh masuk." jawab Bayu dengan muka masam.


"Bay aku sudah lakukan tugasku." sapa Devan ketika memasuki ruangan Bayu.


"Ngapain kamu senyum-senyum sama dia?" tanya Bayu tidak suka.


"Oh kamu tau. Aku kaget ternyata kamu menyembunyikan boneka Jepang di sana." Devan bisa mengerti Bayu pasti memasang CCTV di sana. Pantaslah, yang di sembunyikan cantik begitu.


"Ingat, ini rahasia. Jangan sampai keluargaku tau." ancam Bayu. Walau dia yakin Devan tidak akan melakukannya.


"Tapi sampai kapan?" tanya Devan heran.


"Sampai dia bisa menerimaku." jawab Bayu jujur.

__ADS_1


"Astaga, ada juga yang menolakmu ya." Devan terkejut.


"Dia salah satunya." kata Bayu murung.


"Baiklah aku mengerti. Aku juga akan melakukan hal yang sama sepertimu jika punya yang seperti itu. Aku pergi dulu." Devan pamit. Ternyata orang seberuntung Bayu masih punya kekurangan.


Diona mengikut sertakan lukisan terakhirnya untuk pameran. Ternyata lukisan itu di nilai baik dan di masukan ke dalam katalog yang di buat sekolahnya. Diona mengirimkan katalog itu pada Bayu. Dan Bayu yang penasaran memperlihatkannya pada Aran.


"Kau tau ini apa? Mungkinkah Bros ini peninggalan mamanya?" tanya Bayu bingung. Aran memperhatikan lukisan Diona pada katalog itu.


"Aku tau. Ini Bros yang kuhadiahkan untuknya."


senyum Aran mengembang. Dia ingat memberikan Bros itu saat Mhina memilih gaun pengantin. Harusnya Diona yang memilih gaun pengantin saat itu.


"Diona bilang sudah ada beberapa orang yang menawar lukisan itu " Bayu memancing.


"Hei, Di hanya menjual lukisannya, bukan brosnya." jawab Bayu puas dengan kekhawatiran Aran.


"Sudah sana pergi. Aku malas melihatmu." Aran kesal.


"Cih, sudah bahagia kau usir aku. Kemarin dulu aku kau kejar-kejar." Bayu meninggalkan Aran dan katalog itu. Dia hanya jadi pengganggu dalam hubungan Aran dan Diona sekarang. Yang di tinggal senyum-senyum sendiri. Aran jadi rindu pada Diona. Ada pepatah habis gelap terbitlah terang. Ternyata itu berlaku bagi Aran. Dia akan mengatur waktu untuk mengunjungi Diona. Setelah pameran Diona sibuk dengan ujian akhir di sekolahnya.Hati ini terakhir dari kegiatan itu. Mereka akan libur untuk beberapa hari. Diona, Elis, Lucca dan Leana di belakang berjalan keluar dari gedung sekolah. Mereka adik bercanda. Tiba di luar Diona terpaku pada sosok yang sedang menantinya. Arandra Caisar. Pria itu berdiri menatapnya sambil tersenyum.


"Apa kabar Di?" tanya Aran lembut. Diona terpesona.

__ADS_1


"Kita akan pergi hari ini. Apa semua sudah siap Lea?" tanya Aran pada Leana.


"Sudah tuan. Barang-barang nona Diona telah saya siapkan " jawab Leana sopan.


"Kita akan pergi? Bolehkah aku ke toilet sebentar?" Diona merasa gugup, dia butuh toilet.


"Tentu. Biar Leana mengantarmu." Aran penuh pengertian. Diona segera berlalu bersama Leana. Yang Terpesona bukan hanya Diona, Lucca dan Elis juga begitu. Jika Elis hanya diam terpaku tidak dengan Lucca. Dia sudah sangat penasaran pada bos Keana ini. Lucca menghampiri Aran dengan tatapan tajam menilai.


"Hai, aku Lucca teman Diona " kata Lucca mengulurkan tangan. Perhatian Aran beralih pada Lucca dan menyambut tangan pria itu.


"Aku Arandra." walau Aran tidak tau mengapa pria itu menatapnya tajam, tapi karena Lucca tadi bilang dia teman Diona maka Aran bersikap ramah.


"Senang mendapatkan kalian adalah teman-teman Di." kata Aran sambil tersenyum. Pantas saja Paul patah hati, pikir Lucca. Aran pria yang berkharisma, pria yang tau tujuan hidupnya. Selain sukses. Belum sempat mereka bicara tiba-tiba mobil Justin datang. Dia turun dan terkejut melihat Aran.


"Aku tidak menyangka akan melihatmu di sini." kata Justin sambil menghampiri Aran. Sambil tersenyum Aran mengangguk pada Justin.


"Harusnya tidak perlu heran. Aku dan Di bersahabat sejak kami kuliah." dan kau yang membantuku menemukan Di, tambah Aran dalam hati.


"Mengapa kau tidak bilang temanmu Diona?* tanya Justin heran.


"Tidak sempat kurasa. Tapi aku senang bisa bertemu denganmu waktu itu." jawab Aran. Meskipun Aran mengobral senyum tapi Justin merasa Aran berbeda saat ini. Seperti ada yang di simpan pria itu dan sikapnya jauh lebih serius. Tidak selepas dulu. Namun Justin hanya menyimpan itu di dalam hatinya. Diona dan Leana datang.


"Baiklah kami pergi dulu. Sampai nanti " Aran pamit. Dia membukakan pintu mobil bagi Diona. Segera mobil Aran meninggalkan sekolah.

__ADS_1


"Kau pernah bertemu Arandra?" tanya Elis pada Justin heran.


"Pernah beberapa waktu yang lalu di London. Aku tidak tau jika dia bersahabat dengan Di." jawab Justin. Itu lebih dari persahabatan, protes Lucca dalam hati. Bisa dilihat dari tatapan Diona pada Aran tadi.


__ADS_2