
Rustam tidak suka Dewanti pergi tanpa dirinya.
"Jangan drama deh. Di rumah ada pelayan yang masakin kamu mas. Mau pergi kamu punya asisten yang bisa dampingi kamu." Dewanti kesal Rustam melarangnya.
"Tapi tugas istri itu di samping suami." Rustam tidak mau mengalah. Tidak pernah dalam sejarah pernikahan mereka Dewanti pergi ke luar kota atau ke luar negeri tanpa dirinya.
"Aku kan pergi bersama Aran. Sekali-kali mendampingi anak kan tidak apa." Dewanti juga tidak hilang akal.
"Aran kan ada Mhina, dia yang harus menemani Aran " jawab Rustam mulai bingung melihat istrinya yang keras kepala. Tidak biasanya Dewanti tidak patuh padanya. Ada apa ini? Rustam mulai curiga.
"Menantu kesayanganmu itu tidak bisa apa-apa. Bahkan mengurus suaminya sendiri tidak bisa. Bergerak sedikit saja masuk rumah sakit, malah merepotkan Aran." Dewanti jadi punya alasan menyalahkan Rustam yang telah memilih Mhina. Rustam kalah, dia juga kecewa pada menantunya.
"Sayang, sebenarnya ada apa sih kamu sampai sangat ingin pergi bersama Aran?" tanya Rustam lembut. Tangannya memegang tangan Dewanti merayu.
"Aku kecewa dan sedih mas sama kamu. Biar aku pergi sama Aran. Toh hanya beberapa hari." kata Dewanti jujur. Rustam terkejut. Dia tidak tau jika ada tindakannya yang membuat hati istrinya kecewa dan sedih.
"Memangnya mas salah apa sayang?" tanya Rustam hati-hati.
"Aku belum bisa katakan sekarang mas. Ada yang harus aku pastikan dulu. Nanti kalau aku sudah siap akan aku katakan padamu." jawab Dewanti penuh dengan teka-teki. Hati Rustam jadi tambah tidak tenang.
__ADS_1
"Dengan berat hati mas ijinkan. Tapi sekali ini saja ya. Lalu setelah pulang nanti harus cerita semua sama mas. Jangan buat mas gelisah." Rustam mengalah. Kelihatannya istrinya semakin nekat jika di larang. Tapi Rustam tidak tinggal diam. Dia mengutus orang untuk mengamati Dewanti. Belum pernah dia melepas istrinya pergi jauh darinya. Rustam menyesal, beberapa waktu ini begitu sibuk dan kurang memperhatikan Dewanti. Tapi dia sangat mencintai istrinya. Dewanti memanggil Leana sebelum keberangkatannya.
"Leana, tolong atur pertemuan saya dengan Wilma Atmaja. Saya akan ke Surabaya bersama Aran." Dewanti sudah mendapat hasil dari penyelidikan Leana tentang keluarga Diona.
"Baik Bu. Saya atur." Leana segera menghilang. Dewanti pun berangkat bersama Aran ke Surabaya. Aran tidak curiga dengan keinginan bundanya yang ingin ikut ke Surabaya. Aran sibuk dengan pekerjaannya. Dewanti pun sibuk dengan misinya. Bertemu Wilma. Leana telah mengatur pertemuan mereka. Wilma bingung, ada yang ingin bertemu dengannya tapi dia tidak tau identitas orang itu. Wilma datang karena ingin tau. Dewanti telah duduk di cafe yang telah di pilih Leana. Wilma datang kemudian. Dewanti melambaikan tangan memanggil Wilma. Ya, dia tau wajah Wilma dari Leana. Sedangkan Wilma yang tidak tau Dewanti menghampiri wanita itu dengan tanda tanya besar.
"Silahkan duduk dek Wilma. Saya Dewanti yang ingin bertemu dengan dek Wilma." kata Dewanti ramah. Wilma duduk sambil mengamati Dewanti. Wanita yang cantik, anggun dan kelihatan punya kuasa.
"Mbak tau saya dari mana?" tanya Wilma penasaran.
"Kita memang belum pernah kenal sebelumnya. Tapi karena ada kepentingan saya ingin bertemu dek Wilma. Sebenarnya ini tentang anak saya Aran." kata Dewanti yang mengerti kebingungan Wilma.
"Aran? Jadi mbak ibunya Aran?" Wilma terkejut. Anaknya di hindari ibunya justru mendatangi.
"Saya pernah dengar, tapi mungkin hanya sekedar ingin tau kabar Diona." Wilma tidak tau sejauh apa Aran ingin bertemu Diona.
"Ini sangat serius dek. Aran betul-betul mencari Diona seperti mencari seseorang yang berharga dalam hidupnya." Dewanti menegaskan. Wilma bingung.
"Saya tidak tau jadi serius seperti ini." kata Wilma jujur.
__ADS_1
"Saya juga tidak mengerti apa yang Aran simpan hingga seperti ini. Karena itu saya jadi ingin tau. Tapi selain itu saya juga penasaran, ke mana Diona?" Dewanti bertanya pada intinya.
"Kami memang tidak ingin Diona bertemu Aran. Itu sebabnya Diona berada jauh dari sini." Wilma berkata terus terang.
"Kenapa?" Dewanti penasaran.
"Mbak yakin ini antara kita berdua?" Wilma tidak mau ada orang lain yang tau percakapan mereka.
"Yakin, dek Wilma bilang saja. Walau Aran putra saya kalau dia tidak boleh tau saya juga tidak akan mengatakannya." Dewanti meyakinkan Wilma.
"Sebenarnya Diona mencintai Aran. Karena Aran menikahi Mhina Diona memutuskan untuk pergi dan melupakannya. Aran mungkin tidak tau perasaan Diona. Tapi kalau mereka tetap bertemu, Diona akan sakit hati." Wilma percaya pada Dewanti hingga bercerita.
"Astaga bodohnya Aran. Baiklah saya juga akan jujur, pernikahan Aran tidak berjalan baik. Mhina tidak sebaik yang kami kira. Aran menikah juga karena ayahnya yang mengatur. Aran hanya kasihan pada Mhina. Saya sendiri tidak suka pada Mhina. Sejak awal saya sudah menentang pernikahan ini. Tapi sayangnya Aran mematuhi ayahnya. Saya mengerti sekarang. Jika Aran juga punya perasaan pada Diona, pertemuan hanya akan menyiksa mereka berdua." Dewanti paham sekarang. Ini salah Aran. Tidak pandai membaca perasaan wanita. Wilma juga kaget dengan apa yang di dengarnya.
"Jadi pernikahan Aran ada masalah? mbak pasti sedih." Wilma tidak berani bertanya apa masalahnya, walau dia ingin tau. Biar bagaimana Wilma ingin Diona dan Aran bersama. Diona jadi tidak merasa sedih dan sakit hati.
"Saya sebagai ibunya kecewa dan sedih pada ayah Aran yang telah memilihkan menantu seperti Mhina. Belum saatnya saya bicara. Karena kita tidak tau kedepannya bagaimana. Tapi Aran tidak bahagia. Untuk sementara mungkin saya tidak bisa berbuat apa-apa." Dewanti pasrah.
"Saya juga sedih mbak, Diona harus melupakan Aran. Menurut saya mereka serasi." Wilma tidak menutupi perasaan hatinya.
__ADS_1
"Kita berdoa saja siapa tau mereka berjodoh. Saat ini biar Aran menyelesaikan persoalan rumah tangganya dulu." Dewanti juga berharap yang sama.
"Dek Wilma boleh simpan nomer saya. Kalau ada apa-apa bisa hubungi saya." kata Dewanti lagi. Mereka pun berpisah dengan pertanyaan dalam hati masing-masing. Jika Wilma bertanya ada persoalan apa dalam rumah tangga Aran. Dewanti justru bertanya bagaimana perasaan Aran pada Diona. Sementara di rumah Aran, Mhina yang tau Aran pergi ke Surabaya segera meliburkan lagi para pekerja. Mbok Yem, Sumi dan Parjo seperti yang lalu. Mereka jalan-jalan lalu pulang ke rumah besar Wiraguna. Bedanya kali ini Nyonya Dewanti tidak ada di rumah.