PADA DUA HATI

PADA DUA HATI
Dilema Lucca


__ADS_3

Walau Lucca nyaman dengan Diona tapi gadis itu sudah diikat orang lain. Segera Diona juga akan pulang. Lucca harus mempertimbangkan untuk tetap di sana atau pulang ke negaranya. Dia tidak yakin dapat melewati hari dengan nyaman di Florence tanpa dua mahluk cantik ini.


"Elis, apa kau akan tetap di sini?" tanya Lucca pada Elis.


"Aku tidak tau. Justin punya beberapa pekerjaan di sini." jawab Elis.


"Lalu kau akan melahirkan bayimu di mana?" Lucca penasaran.


"Memangnya kau ayahnya?" Diona mengejek Lucca.


"Aku hampir jadi ayah bayi Elis." Lucca tidak mau kalah.


"Siapa yang jadi ayah bayi istriku?" tanya Justin tiba-tiba. Dia tidak mendengar jelas percakapan mereka karena baru tiba.


"Justin." Diona, Elis dan Lucca menyebut berbarengan. Mereka terkejut Justin tiba-tiba datang.


"Dulu Lucca dan aku hampir menikah jika kau tidak mau bertanggung jawab atas bayi ini." Elis jujur menjelaskan.


"Astaga, istri cantikku hampir di ambil orang ." Justin memeluk Elis drama, walau dalam hati dia memuji Lucca.


"Cih, kembalikan anakku." kata Lucca jengkel.


"Memangnya kau yang buat. " Justin mengelak. Dia bersyukur pernah tidur bersama Elis hingga gadis itu mengandung. Jika tidak mungkin belum tentu mereka menikah.

__ADS_1


"Sudah, sudah. Mungkin sudah waktunya kau mencari ibu untuk anakmu." Diona mengambil kesempatan.


"Kalian saja punya anak yang banyak, nanti aku ambil satu-satu." kata Lucca santai.


"Aku rasanya ingin meninjumu. Aku yang buat kau yang ambil." Justin kesal. Diona dan Elis terkikik geli.


"Aku mau pulang." kata Diona akhirnya.


"Iya pulanglah, panggil Leana." kata Lucca sambil mencari sosok Leana. Justru Lucca yang memanggil Leana.


"Ah, kau kencan dengan Leana saja." usul Diona tiba-tiba.


"Leana, kau mau kencan denganku?" tanya Lucca iseng. Leana menggeleng, dia tau Lucca hanya iseng.


"Apa aku tidak menarik ya?" keluh Lucca kesal.


"Apa ada yang aku tidak tau?" tanya Justin curiga, antara Elis dan Lucca.


"Tenang brother, aku tidak suka mengganggu kedua cantik ini. Malah aku yang menjaga mereka tapi kau menghamilinya." Lucca berkata fakta.


"Tapi kau yang menyerahkannya padaku." jawab Justin enteng. Lucca sadar, jangan bicara dengan pengacara jika kau tidak dapat melawannya.


"Bodohnya aku." kata Lucca lesu. Diona tidak mau terlibat lebih jauh. Dia pun pulang. Itu membuat yang lain pun bubar. Lucca berharap Justin dan Elis tetap di Italy, agar harinya tidak sepi.

__ADS_1


Aran sibuk dengan pekerjaannya dan membiarkan Diona menyelesaikan sekolahnya. Tapi dia selalu menghubungi Diona. Selain membereskan urusan sekolahnya Diona juga menghubungi Danu dan Wilma sehubungan dengan kepulangannya nanti. Om dan tantenya itu sempat marah karena Diona tidak menceritakan tentang pertunangannya. Diona mengaku bersalah. Dia terlalu senang hingga lupa bercerita pada Danu dan Wilma. Tapi Diona sempat menitipkan gelang pada Aran untuk Wilma. Pada saat Aran menyampaikan gelang itu mereka jadi tau dan protes pada Diona. Melihat om dan tantenya senang dengan pertunangannya Diona lega. Danu meminta Diona untuk mempertimbangkan tentang masa depannya nanti. Danu berharap Diona mau membantunya dulu di perusahaan. Jika Diona menikah Aran pasti membawanya dan tinggal di Jakarta. Diona belum memutuskan. Sementara Bayu tengah bingung melihat Mitsi yang tampak sakit. Bayu pun datang ke apartemen Mitsi. Sudah lama Bayu tidak datang, tapi melihat kondisi Mitsi Bayu tidak tega. Bayu membawa Mitsi ke rumah sakit. Mitsi pun segera di tangani.


"Bagaimana dengan kekasih saya dokter?" tanya Bayu cemas.


"Tidak apa-apa, ini hanya kehamilan biasa. Baru kekasih? Belum di resmikan?" tanya sang dokter pada Bayu penuh tekanan. Bayu terhenyak. Mitsi mengandung. Bayu menatap Mitsi yang pucat dan lemas. Ini memang yang di inginkan Bayu, tapi melihat Mitsi seperti itu Bayu jadi merasa bersalah.


"Akan segera saya resmikan dokter." jawab Bayu senang.


"Sebaiknya di bawa ke dokter kandungan untuk lebih jelasnya." dokter itu memberi rujukan pada Bayu. Mitsi pun berpindah dokter. Mengetahui kehamilannya yang baru satu bulan Mitsi ingin marah pada Bayu. Tapi keadaannya yang lemas menjadikannya diam membisu. Setelah memeriksakan Mitsi dan mendapat vitamin, Bayu membawa Mitsi kembali ke apartemen.


"Kau istirahat ya, duduklah dulu." Bayu membantu Mitsi duduk di sofa. Dia ingin bicara dengan gadis itu.


"Mitsi, saat ini kau mengabdung anakku. Bukankah aku harus bertanggung jawab?" tanya Bayu lembut. Mitsi masih diam membisu.


"Sayang, aku tau kau masih belum bisa menerima diriku. Tapi kau harus memikirkan anak itu." bujuk Bayu. Mitsi tetap diam. Dia tau Bayu benar. Tapi perasaan Mitsi masih belum mau menerima keinginan Bayu.


"Baiklah aku pergi dulu, kau pertimbangkan dengan baik." kata Bayu mengalah. Dia tidak mau memaksa Mitsi, khawatir Mitsi tertekan. Keadaannya saja sudah lemas dan mual. Bayu pergi meninggalkan apartemen. Tapi dia kembali keesokan paginya di mana Mitsi sedang kepayahan dan mual. Bayu sudah membawakan makanan untuk Mitsi. Melihat keadaan Mitsi yang demikian Bayu tidak mau meninggalkannya. Dia terus mendampingi Mitsi.


"Tuan, pagi ini ada rapat yang tidak bisa di wakilkan " lapor Mike pagi itu. Bayu bingung. Dia tidak mau meninggalkan Mitsi tapi ada rapat penting.


"Baiklah, jemput aku." kata Bayu memutuskan. Bayu pun melihat keadaan Mitsi. Gadis itu tertidur karena lelah sudah memuntahkan isi perutnya. Bayu mencium pipi Mitsi lembut.


"Aku akan segera kembali." janji Bayu walau Mitsi tetap tidur. Bayu pun bersiap, Mike menjemputnya tidak lama kemudian. Bayu pun pergi. Mitsi terbangun dengan kepalanya yang pusing. Dilihatnya Bayu sudah membuatkan segelas susu. Perlahan Mitsi meminumnya. Di tatapnya ke sekeliling kamar tidak tampak Bayu di situ. Mitsi pun perlahan keluar dari kamar tapi tidak di lihatnya Bayu. Mitsi duduk di sofa. Di meja makan tampak sudah ada hidangan untuknya. Tiba-tiba Mitsi merasa takut. Bayu pergi, bagaimana jika tidak kembali lagi. Selama ini Mitsi selalu menolak Bayu. Namun setelah di pikirkannya, bayinya butuh ayahnya. Apa lagi Bayu sabar menjaganya. Membayangkan Bayu meninggalkannya Mitsi jadi menangis. Dia tidak sanggup memiliki anak sendirian. Keadaan Mitsi jadi semakin lemah. Sementara Bayu gelisah memimpin rapat. Pikirannya terus tertuju pada Mitsi. Untung Mike membantu Bayu dalam rapat. Begitu selesai rapat Bayu segera kembali ke apartemen. Di sana Mitsi sedang menangis.

__ADS_1


"Kenapa kau menangis?" Bayu segera menghampiri Mitsi. Di peluknya Mitsi lekat. Tangis Mitsi berhenti.


"Kau pasti lapar, makan ya. Susumu sudah habis?" Bayu beranjak mengambil makanan yang sudah di siapkan.


__ADS_2