
Lucca tidak suka ketika Diona bicara dengan dua teman prianya itu. Karena mereka menggunakan bahasa Indonesia, Lucca jadi tidak tau apa yang di bicarakan.
Seperti janjinya Paul mengantarkan Diona ke Milan bersama Bayu. Ketika Bayu sibuk dengan pertemuan pentingnya Paul membawa Diona berjalan-jalan. Tidak sulit bagi Paul melakukannya, karena Italy negaranya. Tapi yang membuat Paul kesal Diona bukan gadis yang suka belanja. Sia-sia rasanya membawa gadis itu ke kota belanja. Tapi Diona tidak menolak kue-kue yang enak di sana. Paul mencatat, Diona dengan mudah dapat di bujuk dengan kue. Bayu mengajak Diona ke Poldi Pazzoli Museum. Di sana tersimpan karya seni koleksi Gian Giacomo dan ibunya. Hal yang menyentuh Diona.
"Di mana lukisan mama ya?" tanya Diona pada Bayu. Pasti senang jika dia bisa menyimpan koleksi lukisan mamanya dulu.
"Kau harus tanya om Danu. Mungkin saja dia menyimpannya." jawab Bayu berdasarkan logikanya. Mungkin Danu menyimpannya karena tidak ingin Diona belajar melukis. Bayu lalu membawa Diona ke Corso Buenos Sites, di mana terdapat toko-toko busana. Percuma pikir Paul. Tapi Bayu tidak hilang akal. Dia memilih gaun untuk Diona, lalu memberikannya pada Paul.
"Kau bisa menyerahkannya pada Di di rumah." kata Bayu, toh sudah sampai di rumah Diona tidak bisa menolak. Ide yang bagus pikir Paul. Maka dia pun mulai memilih. Paul akan menggunakan nama Bayu pada saat menyerahkan hasil belanjanya nanti pada Diona. Paul memilih tas, sepatu dan asesoris karena Bayu sudah membelikan gaun. Diona yang bingung. Dua pria ini sibuk berbelanja di toko busana wanita. Tapi Diona tidak ambil pusing. Dia suka melihat-lihat saja. Bayu mengajak mereka makan di sebuah restauran dengan pemandangan kota Milan. Restauran itu di atas dan di kelilingi dinding kaca. Diona sangat senang. Paul curiga, dari semua acara wisata mereka acara makan yang paling Diona suka. Makanannya juga enak. Setelah makan Diona di tanya oleh Bayu, tempat yang ingin dia kunjungi. Diona memilih stadion sepak bola. Sepertinya kota Milan identik dengan klub sepak bola. Mereka menuju ke sana. Mereka terpukau dengan tempat itu. Sayang sedang tidak ada pertandingan.
"Kau mau kita datang lagi melihat pertandingan?" tanya Paul.
"Tentu saja mau." jawab Diona.
"Sejak kapan kau suka sepak bola?" tanya Bayu heran.
"Sebenarnya bukan sepak bolanya yang aku suka. Tapi kesan menonton langsungnya yang menarik. Di banding menonton di layar kaca." jawab Diona di luar dugaan. Bayu jadi mengerti, pengalamannya yang Diona inginkan. Bayu sudah harus kembali ke Indonesia. Paul dan Diona akan kembali ke Florence.
__ADS_1
"Didi, kau mau makan dulu sebelum kita pulang?" tanya Paul. Dia khawatir Diona lapar.
"Aku mau." Diona yang suka makan tidak menolak. Paul tersenyum. Diona di ajak ke sebuah restauran yang unik. Restauran itu bukan di sebuah bangunan, tapi seperti gerbong kereta. Sangat unik. Mereka seperti sedang makan di sebuah kereta api. Tentu saja tidak terdapat banyak bangku. Untung saja mereka dapat meja. Setiap meja bisa untuk empat orang. Mungkin karena belum waktu makan maka tempat itu tidak penuh. Mereka yang datang hanya memesan makanan kecil dan kopi. Berbeda dengan Diona, tidak melewatkan kesempatan mencoba menu utama di sana. Pelayannya sangat ramah. Diona berfoto untuk kenang-kenangan. Setelah kenyang mereka pun pulang.
Mhina merasa Aran berubah setelah mereka menikah. Apa mungkin karena sekarang Aran sibuk dengan pekerjaannya. Aran selalu berangkat pagi-pagi dan pulang malam hari. Kadang pulang tengah malam. Walau Aran tetap bertanya tentang keadaannya tapi Mhina tidak merasakan kehidupan rumah tangga pada umumnya. Apa lagi mereka baru menikah. Aran memang tidak pernah mesra padanya, tapi tetap bertanggung jawab dan menjaganya. Mhina jadi merasa Aran tidak mencintainya sebesar cintanya pada Aran. Mhina tidak tau harus bicara pada siapa. Dia cuma dekat dengan Aran dan Diona. Tapi Diona entah ke mana. Terus terang Mhina tidak merasa kehilangan dengan menghilangnya Diona. Mhina tau Diona menghilang dari Aran. Suaminya bertanya apakah Diona menghubunginya? Mhina bilang tidak, dan Mhina tidak peduli. Lalu Aran berkata jika Diona menghilang. Itu saja. Aran tidak pernah mengatakan apa pun lagi tentang Diona. Mhina juga tidak ingin mencari tau. Toh mereka sudah punya kehidupan masing-masing. Tengah memikirkan hidupnya, tiba-tiba ada yang membunyikan bel pintu. Mhina membukanya.
"Hai Mhina, aku mengganggumu?" Luthan sepupu jauh Mhina mampir menyapa.
"Tidak, masuklah aku sepi sendiri di rumah." Mhina mempersilahkan Luthan masuk. Dari semua saudaranya hanya Luthan yang selalu baik padanya.
"Kau tidak mau keluar rumah, aku akan mengantarmu." Luthan menawarkan. Mhina berpikir sejenak.
"Luthan, aku dengar ada mal baru yang bagus." kata Mhina.
"Ya mal itu baru buka. Kau mau ke sana?" tanya Luthan.
"Ya aku mau." Mhina bersemangat.
__ADS_1
"Ayo kita ke sana." mereka berangkat. Pada saat kuliah Mhina tidak punya kebebasan seperti ini. Dia selalu di antar dan di jemput dan di batasi keluar rumah. Mhina menyukai kebebasannya saat ini, hingga dia jatuh pingsan.
Diona tengah makan siang bersama Lucca dan Elis di cafe.
"Sabtu ini ada konser besar di Florence." kata Lucca di sela makannya.
"Konser apa?" tanya Elis, dia gadis yang sangat ingin tau.
"Seorang pemain Celo terkenal akan konser di sini." Lucca memperlihatkan promo konser tersebut.
"Aku belum pernah melihatnya." kata Diona.
"Kalau mau aku akan dapatkan tiketnya untuk kita bertiga. Kau bisa tanya pada Paul jika dia ingin ikut." Lucca dengan baik hati menawarkan.
"Nanti aku tanyakan pada Paul." kata Diona. Dia senang akan menonton konser. Di rumah Diona bertanya pada Paul.
"Paul nanti ada konser pemain Celo di sini, Lucca tanya kau mau ikut nonton. Dia akan dapatkan mendapatkan tiketnya untuk kita semua." kata Diona dengan riang.
__ADS_1
"Aku juga dengar tentang konser itu, tapi sepertinya aku tidak bisa ikut."