PADA DUA HATI

PADA DUA HATI
Persiapan Untuk Bayu


__ADS_3

Wildan teringat protes Bayu tentang putri temannya. Bim. Pantas Bayu suka pada gadis ini, memang terlihat berbeda dengan pada umumnya. Gadis itu bisa menempatkan diri. Maka Wildan tidak menyesal segera mengikat gadis itu untuk Bayu.


"Bawa Mitsi ke dalam untuk beristirahat Bayu." pinta Renita.


"Ayo kita ke kamarku." Bayu menuntun Mitsi lembut.


"Tidak sangka kita mendahului mas Rustam menikahkan anak kita dan punya cucu ya mas." kata Renita senang pada suaminya.


"Tapi tidak enak jika terdengar keluarga, Bayu keterlaluan " Wildan mengeluh.


"Iya, tapi kalau mas marah-marah terus kasihan Mitsi nanti dia tertekan kandungannya masih rentan." protes Renita.


"Iya sayang, mas mengerti. Lalu sekarang kita akan melakukan pernikahan Bayu di mana?" Wildan khawatir Renita merajuk. Dia sama seperti Rustam, sangat mencintai istrinya.


"Kita buat di hotel saja, yang kita undang keluarga jadi tidak terlalu repot." Renita senang akan menggelar pernikahan putranya.


"Baiklah, kita bagi tugas. Kau urus untuk pengantin wanitanya. Aku akan mengurus acaranya." Wildan melihat semangat di wajah Renita.


"Baik mas, biar Mitsi agak lebih baik kami akan mencari keperluannya." Renita patuh. Bayu meninggalkan Mitsi yang tidur di kamarnya. Dia kembali ke ruangan tengah.


"Bayu, coba pikirkan konsep surat undangan yang kau mau. Ayah mengurus acaranya saja." kata Wildan pada Bayu.


"Acaranya sederhana saja, seperti pernikahan Aran yang lalu." pinta Bayu pada ayahnya.


"Yang lalu Aran menikah karena di jodohkan. Dia tidak bersemangat untuk membuat pesta besar. Kamu menikah karena Mitsi pilihanmu kan. Harus meriah dong." Renita merasa ini pernikahan putra satu-satunya.


"Mengapa Mitsi tidak ingin pesta besar keluarganya kan jauh di Jepang. Tidak perlu khawatir." ucap Wildan heran.

__ADS_1


"Ayah, tubuh Mitsi saja tidak menentu saat ini. Pesta besar takutnya dia tidak kuat dan malah jatuh sakit." jelas Bayu.


"Betul juga, ayah rasa jika hanya keluarga acaranya bisa lebih santai." Wildan mengerti.


"Nanti Bayu akan tentukan konsep kartu undangan yang Bayu suka." Bayu tidak menyangka di menikah secepat ini. Tapi dia sangat ingin mengikat Mitsi dan ternyata di dukung oleh orangtuanya.


"Kamu ke kantor saja sana, ayah akan melihat tempat untuk pernikahanmu." titah Wildan pada Bayu.


"Bayu ke kantor dulu. Titip Mitsi yan bunda." pinta Bayu pada Renita.


"Segitu sayangnya pada Mitsi. Iya bunda akan jaga Mitsi. Bunda jadi iri nih." Renita menggoda putranya. Bayu cuma tersenyum dia percaya pada bundanya. Bayu pun pergi.


"Untuk apa iri, memangnya selama ini tidak di sayang?" protes Wildan sambil mencubit pipi istrinya.


"Ih ko mas yang marah. Aku kan menggoda Bayu." balas Renita.


"Mas sadar tidak, Bayu itu sama dengan mas. Dia membawa lari Mitsi dari Jepang." Renita menertawakan suaminya.


"Tapi aku tidak menghamilimu lebih dulu. Sekarang aku menyesal tidak melakukannya." Wildan berusaha memaparkan perbedaannya. Renita jadi ingat bagaimana dulu Wildan menjaganya dan menikahinya setelah orangtuanya merestui mereka. Orangtua Renita terpaksa merestui karena khawatir Renita di hamil Wildan.


"Berarti putramu selangkah lebih maju." goda Renita lagi.


"Eh berani ya bilang begitu. Nanti anakmu bangga dengan apa yang dia lakukan. Harus aku hukum nih istri yang nakal seperti ini." Wildan gemas pada Renita.


"Di hukum apa coba, memangnya aku takut." Renita menantang.


"Ikut aku, kita lihat tempat untuk Bayu." perintah Wildan, tidak mau di bantah.

__ADS_1


"Ya sudah, tunggu sebentar aku lihat Mitsi dulu." Renita mengalah. Wildan mengerti, dia pun menunggu dengan sabar. Renita menuju kamar Bayu, Mitsi tampak tengah tertidur. Renita lega jika Mitsi bisa tidur. Dia paham bagaimana rasanya seperti Mitsi, dia pun dulu begitu. Bahkan lebih parah. Renita keluar dari kamar. Dia berpesan pada pelayan di rumah untuk memperhatikan Mitsi.


"Mas nanti kita mampir ke butik ya, kita beli pakaian untuk Mitsi." kata Renita ketika menghampiri Wildan.


"Iya istriku. Kamu senang ya punya menantu." Wildan tersenyum melihat Renita.


"Iya aku senang mas. Walau Bayu keterlaluan tapi Mitsi menantu kita." Renita menggandeng Wildan untuk cepat-cepat pergi. Tempat pun segera di dapat..Wildan segera memberi tahu Bayu hotel tempat di selenggarakannya pernikahan dadakan tersebut. Ruangannya tidak terlalu besar karena hanya keluarga yang di undang. Bayu segera memesan undangan. Dia pun tidak sabar untuk menjadikan Mitsi istrinya. Renita menunggu Mitsi lebih baik untuk membawa gadis itu melihat gaun pengantin. Bagi Mitsi yang sederhana , dia tidak ingin gaun yang lebar. Untung saja kehamilannya belum terlihat, maka gaun putih pas badan sangat anggun di cobanya.


"Kamu benar suka gaun itu Mitsi?" tanya Renita penuh perhatian.


"Benar Bun, gaun itu sederhana tapi aku suka." jawab Mitsi yang di minta untuk memanggil Renita bunda.


"Bunda juga setuju. Gaun itu cantik di tubuhmu. Baiklah soal gaun sudah selesai. Sekarang hiasan kepalamu." Renita senang dengan pilihan Mitsi.


"Terserah bunda, tapi aku tidak mau hiasan kepala yang besar dan berat." kata Mitsi yang masih merasa pusing pada kepalanya.


"Bunda mengerti, kita sesuaikan dengan gaunnya ya sayang." Renita suka pada Mitsi, karena gadis itu sederhana dan tidak banyak tingkah. Dia banyak mendengar tentang teman-temannya yang mengeluh karena menantu mereka yang membuat kesal. Sementara Mitsi duduk Renita memilih hiasan kepala untuk menantunya. Dengan cepat Renita memilih hiasan, menurut Renita Mitsi sudah cantik. Hiasan apa pun yang di kenakannya pasti bagus. Mereka pun pulang. Mitsi merasa senang. Di saat tubuhnya lemah dia mendapat perhatian dari Renita. Mitsi merasa seperti ibunya sendiri, bahkan lebih. Renita yang keibuan dan lembut menjadikan Mitsi menantu yang di sayangi. Bayu juga senang melihat perhatian bundanya pada Mitsi. Bayu merasa lengkap sudah hidupnya. Aran terkejut ketika menerima undangan pernikahan Bayu. Apa lagi dengan nama calon pengantin yang asing baginya. Aran pun menemui Bayu.


"Apa tidak salah ini Bayu? Kau di jodohkan?" tanya Aran pada Bayu sambil memperlihatkan undangan pernikahan Bayu.


"Tidak salah. Aku memang akan menikah. Aku bertemu Mitsi di Jepang., bukan di jodohkan." kata Bayu yang merasa senang melihat Aran bingung. Bayu pun menceritakan pertemuannya dengan Mitsi pada Aran.


"Sekarang dia sedang mengandung anakku." Bayu berkata bangga.


"Apa kau sekalap itu ingin memilikinya? Pantas kau menolak anak om Bim." Aran mengerti sekarang.


"Tanpa ada Mitsi juga aku akan menolaknya. Aku tidak suka." kata Bayu kesal. Aran paham. Dia dan Bayu sama. Jika sudah menyukai seseorang sulit berpaling.

__ADS_1


__ADS_2