PADA DUA HATI

PADA DUA HATI
Akhir Kemelut


__ADS_3

Elis perlahan menyuap sup yang di pesan Lucca.


"Makan juga ini. Pelan-pelan tapi harus habis. Kau butuh tenaga." Lucca tidak mau Elis sakit.


"Bagaimana dengan bayiku nanti? Dia tidak akan punya ayah." kata Elis sedih. Air matanya mengalir. Lucca terdiam. Mereka harus memikirkan jalan keluar dari masalah ini. Bertemu Justin ternyata sia-sia. Tapi Lucca menganggap Justin pria bodoh jika dia percaya begitu saja pada mantan tunangannya itu dan menikahinya. Harusnya Justin meraba hatinya. Apa dia mencintai wanita itu?


"Elis, kita tunggu saja Justin datang. Jika dia tidak datang kita akan kembali ke Italy. Tidak perlu mengemis pada pria yang tidak ingat pada dirimu." kata Lucca tegas.


"Lalu bayiku?" tanya Elis bingung.


"Kau hanya butuh ayah bagi bayimu kan? Aku akan menjadi ayahnya. Aku memang tidak mencintaimu, tapi aku bisa menjadi ayah dari bayimu." Lucca tidak ingin Elis putus asa.


"Apa itu mungkin?" Elis tidak percaya dengan keputusan Lucca. Sejauh itu Lucca berkorban untuk dirinya.


"Mungkin saja. Dengar Elis yang kita pikirkan sekarang adalah bayimu dulu. Dia punya ayah dan bisa menggunakan namaku. Nanti kita lihat ke depannya bagaimana." jelas Lucca. Dia memegang tangan Elis untuk menenangkan gadis itu. Elis terdiam tapi berpikir. Lucca benar. Saat ini yang dia butuhkan adalah ayah bagi bayinya. Lucca bersedia memberikan namanya bagi bayi ini. Walau hanya formalitas saja tapi besar artinya bagi anaknya. Bayinya tidak akan lahir tanpa ayah. Kalau soal cinta, mereka tidak bisa berbuat apa-apa. Justin tidak ingat akan dirinya. Menunggu ingatan Justin kembali entah kapan. Bagaimana jika dia menikahi wanita yang mengaku masih tunangannya? Walau Elis sakit hati dan kecewa tapi dia tetap harus memikirkan masa depan anaknya.

__ADS_1


"Elis, habiskan makananmu." Lucca menyadarkan Elis. Dengan keadaan yang lebih tenang Elis menghabiskan makanannya. Mereka bersantai sambil menunggu Justin. Berharap cemas Elis membaringkan dirinya di kamar. Pikirannya menerawang mengingat kedekatannya dengan Justin. Lucca berkomunikasi dengan Diona diam-diam. Diona mengatakan tunggulah sebentar lagi. Justin pasti terkejut. Dia mungkin belum terbiasa dengan mantan tunangannya, apa lagi dengan kedatangan mereka. Di katakan akan menjadi ayah tentu Justin terkejut. Lucca mengerti dengan perkataan Diona. Dia memutuskan untuk menunggu sampai besok pagi. Malam hari ada yang mengetuk pintu. Lucca dan Elis berharap itu Justin, ternyata Brad yang datang.


"Hai, aku bawa makan malam untuk kalian." kata Brad ramah.


"Masuklah." Lucca membuka pintu lebih lebar. Di lihatnya di luar tidak ada orang lain. Brad pun masuk. Elis tersenyum pada Brad. Pria itu telah baik hati membantu mereka. Kali ini membawa makan malam pula. Mereka pun makan malam bersama. Mengobrol ringan agar suasana tidak sedih. Tapi karena perasaan hati Elis buruk dia pamit ke kamar. Dia tidak bisa berpura-pura untuk tersenyum. Tinggallah Brad dan Lucca masih menikmati makan malam.


"Apa rencanamu Luc, kelihatannya Justin tidak datang?" tanya Brad prihatin.


"Kami akan pulang besok." jawab Lucca yakin.


"Aku hargai niatmu. Aku tidak mau Elis terus berharap dan kecewa. Jadi lebih baik kami pulang dulu ke Italy." Lucca kesal pada apa yang terjadi. Tapi tidak dapat mengubahnya.


"Yang penting kalian sudah berupaya. Aku salut denganmu Luc, Elis sendiri belum tentu sanggup menghadapi Justin. Dia betul-betul menjadi orang asing bagi Elis." Brad membayangkan Elis datang sendiri menemui Justin. Gadis itu perasaannya halus.


"Elis kan temanku, sudah seharusnya aku membantunya." Lucca menyayangi dia sahabatnya. Dia juga baik hati. Brad pamit, dia akan kembali besok pagi menjemput mereka. Elis tidak keluar lagi dari kamar. Lucca juga tidak mau mengganggunya. Melihat wajah Elis yang sedih Lucca juga tidak suka. Lucca berharap ada keajaiban. Di mana Justin tiba-tiba datang. Tapi harapannya kosong. Besok paginya Lucca bangun dan bersiap. Dia membangunkan Elis untuk juga bersiap karena mereka akan kembali ke Italy. Melihat wajah Elis Lucca tau gadis itu tidak bisa tidur. Tapi Elis tidak berkata apa pun, juga tidak menangis lagi. Dia menuruti Lucca untuk bersiap. Sambil menunggu Elis siap, Lucca memesan makanan untuk mereka sarapan. Lucca sudah memeriksa ada penerbangan ke Italy pagi ini. Elis pun siap dengan barangnya.

__ADS_1


"Elis sarapan dulu, baru kita berangkat." Lucca menyodorkan piring sarapan Elis. Mereka sudah tidak berharap Justin akan datang. Pria itu benar-benar tidak ingat pada Elis. Lalu bukti apa yang mereka punya untuk membuktikan kalau Justin punya hubungan dengan Elis. Walaupun sulit Elis berusaha makan. Dia ingat bayinya. Mereka telah selesai sarapan ketika Brad datang. Mereka pun segera berangkat ke bandara. Tidak lama mereka tiba, dalam perjalanan tidak ada yang bicara. Lucca mengucapkan terima kasih pada Brad. Elis diam saja, dia seperti sosok yang di bawa Lucca tapi pikirannya entah ke mana. Brad mengerti, perasaan gadis itu pasti kacau. Brad pun pergi. Lucca dan Elis beranjak masuk ke bandara. Mereka tengah mengamati jadwal penerbangan, hanya untuk memastikan waktu penerbangan ke Italy.


"Elisabeth Morgan, itu kan namamu?" tiba-tiba mereka mendengar suara Justin di belakang mereka. Mereka pun menoleh. Tampak Justin Filmore berdiri sambil tersenyum. Pria itu perlahan mendekati mereka.


"Maaf aku terlambat datang. Aku ke penginapan tapi kalian sudah berangkat. Bisa kita bicara sebentar?" tanya Justin. Lucca dan Elis sangat terkejut hingga mereka tidak dapat berkata-kata. Mereka pun pergi ke sebuah cafe. Duduk di sana untuk bicara.


"Kau sudah ingat aku?" tanya Elis terharu.


"Belum, maaf." Justin menjawab sambil menggelengkan kepala.


"Lalu apa yang akan kau bicarakan?" tanya Lucca curiga.


"Terus terang setelah kalian pergi aku dan Becky bertengkar. Dia berkeras kami masih bertunangan. Tapi aku curiga, karena perasaanku padanya biasa saja. Berbeda ketika aku melihat Elis, ada perasaan hangat dalam hatiku. Perasaanku menuntut untuk mencari tau kebenarannya, sebelum kalian menghilang. Aku berusaha memeriksa barang-barangku. Aku sudah kehilangan handphoneku, jadi aku tidak tau bagaimana bisa menghubungi Elis. Tapi aku lalu menemukan ini." Justin menunjukan sebuah buku.


"Apa itu diary?" tanya Lucca menebak.

__ADS_1


"Semacam itu. Ini jurnal kesehatanku yang kubuat. Temanku mengembalikan barang-barang milikku termasuk ini. Di sini aku menulis pekerjaanku dan orang-orang yang ku temui. Termasuk nona Elisabeth Morgan atau Elis. Juga aku menulis ketika memutuskan Becky. Hari dan tanggalnya bahkan jamnya. Aku jadi yakin kalian benar. Tapi saat itu sudah malam. Aku berkemas dan meminta Becky untuk pergi."


__ADS_2