
Dewanti tau Diona, Aran beberapa kali menyebutnya. Gadis yang baik menurut Dewanti.
"Memangnya Diona ke mana? Lalu mengapa Aran mencarinya?" Dewanti bingung dengan perilaku putranya.
"Nona Diona menghilang setelah lulus kuliah. Tuan Aran kehilangan nona Diona. Selama ini hubungan nona Diona dan tuan Aran sangat dekat." Rianto terpaksa berkata jujur. Bahaya dia kalau berbohong.
"Dekatnya bagaimana? apa ada hubungannya dengan Mhina?" Dewanti jadi penasaran.
"Hubungannya dengan nona Mhina juga dekat, mereka bertiga bersahabat. Tapi tuan Aran lebih dekat dengan nona Diona. Boleh di bilang tuan Aran yang menjaga nona Diona selama kuliah di Jakarta." Rian sudah banyak di beri tugas oleh Aran sehubungan urusan Diona.
"Memang orangtua Diona di mana?" Jadi Diona tidak berasal dari Jakarta, pikir Dewanti.
"Orangtua nona Diona sudah meninggal nyonya. Sejak SMP nona Diona tinggal bersama om dan tantenya. Mereka pengusaha di Surabaya. Tapi nona Diona tidak ada di Surabaya. Tuan Aran sudah ke sana. Sebenarnya kami curiga tuan Bayu tau keberadaan nona Diona." Rianto tau Dewanti memikirkan putranya.
"Bayu, pantas hubungan mereka tampak tidak baik." Dewanti ingat percakapan Aran dan Bayu pada acara keluarga.
"Sejak tuan Aran menikah tuan Bayu sudah bersikap aneh. Apa lagi hilangnya nona Diona karena pergi berlibur dengan tuan Bayu." jelas Rian.
"Bayu memang menentang pernikahan antara Aran dan Mhina. Tapi apa hubungannya dengan Diona?" Dewanti tidak mengerti.
"Apa nyonya tidak curiga? maaf nyonya, saya rasa tuan Aran lebih perhatian pada nona Diona di banding nyonya Mhina. Mudah-mudahan saya salah. Tapi melihat tuan Aran yang begitu gigih mencari nona Diona tentu saya berpikir demikian." masuk akal, pikir Dewanti. Mungkin itu sebabnya Aran sulit mencintai Mhina. Di tambah tingkah istrinya yang menjengkelkan.
__ADS_1
"Setau kamu bagaimana Diona ini?" Dewanti mencoba memastikan dugaannya.
"Nona Diona cantik, baik, rendah hati dan sederhana. Tapi dia pendiam dan tidak banyak teman. Om nona Diona, tuan Danu itu pengusaha hebat loh nyonya. Tidak punya anak, maka nona Diona di sayang. Tapi nona Diona tidak besar kepala dan memanfaatkan kesempatan. Saya tau karena tuan Aran meminta saya untuk menyelidiki latar belakang sahabatnya ini. Pertanyaan nyonya tadi tentang tuan Bayu, nona Diona juga dekat dengan tuan Bayu. Bahkan sebelum menghilang nona Diona pergi berlibur dengan tuan Bayu." Rian mengungkap penyelidikannya.
"Jadi Bayu tau Diona di mana?" Dewanti terkejut.
"Sepertinya begitu nyonya. Tapi tuan Bayu menutup rapat informasi yang kami cari." Rian sudah putus asa pada Bayu.
"Jadi itu sebabnya hubungan Aran dan Bayu tidak baik. Tapi kenapa Bayu menutupi keberadaan Diona?" Dewanti bingung.
"Itu yang menjadi teka-tekinya nyonya. Kami tidak tau. Tuan Bayu sekarang juga menghindari Tian Aran." Rian saja bingung.
"Apa Bayu mencintai Diona?" Dewanti curiga.
"Baiklah. Saya akan mencari tau sendiri. Kamu kembali saja pada Aran. Jangan beri tau dia saya sudah tau apa yang di carinya." kata Dewanti pada akhirnya.
"Baik nyonya, saya kembali ke kantor." Rianto undur diri. Dia tersenyum senang. Yang dia tau nyonya Dewanti itu wanita yang pintar dan peka. Mudah-mudahan dengan turun tangannya nyonya Dewanti semua akan beres. Dewanti memang tidak tinggal diam. Dia memanggil orang kepercayaannya. Leana. Gadis itu segera datang ke hadapan Dewanti.
"Ibu mencari saya?" tanya Leana sambil tersenyum.
"Benar Leana, ada tugas untuk kamu. Kamu cari tau untuk saya tentang keluarga Diona, teman kuliah Aran yang tinggal di Surabaya. Secepatnya ya sayang." Dewanti percaya penuh pada Leana.
__ADS_1
"Baik Bu, saya lakukan sekarang juga." Leana meninggalkan Dewanti. Dia akan sibuk dalam beberapa waktu. Sedangkan Mhina setelah mendiamkan Luthan selama beberapa waktu, akhirnya bertemu lagi dengan pria itu.-
"Luthan kamu tau aku bingung menghadapi Aran nanti." kata Mhina cemas.
"Aku sudah tau kamu pasti bingung. Aku sudah ada solusinya. Kamu lakukan saja yang aku bilang." Luthan tersenyum tenang.
"Apa rencanamu?" tanya Mhina pasrah. Dia pun menuruti Luthan. Malam itu Aran pulang ke rumah mendapati Mhina masih menunggunya.
"Kenapa kamu belum tidur?" tanya Aran pada Mhina.
"Aku mau minta maaf. Aku tidak ikut acara keluarga kemarin. Kamu pasti kesal kan Aran. Aku buatkan kue dan minum untukmu. Teh hangat yang kamu suka." Mhina berusaha mengambil hati Aran. Suaminya menatapnya dengan aneh. Tidak biasanya Mhina begini.
"Tidak perlu. Aku sudah kenyang dan mau istirahat. Tidurlah." Aran curiga dengan niat baik Mhina. Hatinya merasa aneh.
"Baiklah." kata Mhina lesu. Aran masuk ke dalam kamarnya dan mengunci pintu. Dia mandi lalu tidur. Karena lelah dia langsung terlelap. Besok paginya Aran terbangun dengan sedikit pusing. Dia terkejut karena di sampingnya ada Mhina yang tengah tertidur. Dia pun tidak mengenakan bajunya. Aran terdiam dan mengingat-ingat apa yang terjadi semalam. Dia ingat telah mengunci pintu dan tidur seorang diri. Aran akan mencari tau apa yang terjadi. Tapi dia mandi dulu. Aran tengah memakai dasinya ketika Mhina terbangun. Mhina tampak canggung.
"Aran semalam......" Dengan wajah seolah tersipu Mhina bicara, tapi Aran memotongnya.
"Kembali ke kamarmu dan mandilah." Aran beranjak keluar dari kamarnya. Dia tau Mhina tidak mengenakan baju di balik selimut. Tapi Aran tidak tertarik. Bahkan berdebar pun tidak. Aran menuju ruang kerjanya. Di bukanya laptopnya untuk mencari tau apa yang terjadi semalam. Tampak Mhina memasuki kamarnya saat dia terlelap. Mhina menghidupkan sesuatu pada hidungnya, itu yang membuat Aran tau, mengapa dia diam saja ketika Mhina membuka bajunya. Setelah itu Mhina membuka bajunya sendiri lalu berbaring di sebelahnya. Entah apa maksudnya Aran belum mengerti tujuannya. Kamu mau bermain denganku ya Mhina. Aku akan lihat sejauh mana permainanmu, batin Aran. Rupanya Mhina punya kunci cadangan kamar Aran. Apa mungkin Mhina mengetahui kegundahan Aran akan pernikahan mereka akhirnya dia berbuat demikian. Aran membereskan laptopnya, dia keluar menuju ruang makan. Sumi sudah siap dengan hidangannya. Mhina pun tidak lama turun. Aran makan sambil terus menatap Mhina. Ingin tau sebenarnya apa tujuan gadis itu. Mhina tampak gugup di tatap tajam oleh Aran.
"Aran....tadi malam......" Mhina tampak ragu bicara.
__ADS_1
"Habiskan sarapanmu, lalu minum obatmu." Aran memotong perkataan Mhina, dia bangkit berdiri lalu beranjak pergi. Mhina terpaku. Tapi kemudian dia lega Aran sudah pergi. Agar tidak terjadi hal yang sama Aran meminta Parjo memasang kunci tambahan dari dalam pintu. Dia akan menimbang pernikahannya dengan serius dan tidak ingin terjadi hal di luar keinginannya.