PADA DUA HATI

PADA DUA HATI
Dua Keluarga Jadi Satu


__ADS_3

"Iya Di, ayah senang bisa melakukan sesuatu yang berarti bagi putra dan putri ayah. Semoga ini pernikahan terakhir Aran ya nak." jawab Rustam bahagia. Tentu semua orangtua akan bahagia bila melihat anaknya bahagia.


"Tentu saja, aku sudah cinta mati pada Di. Akan aku ikat dia sampai mati." jawab Aran sambil tersenyum. Hati Diona berbunga-bunga.


"Cinta kalian memang istimewa. Itu sebabnya kami senang mewujudkan keinginan kalian. Walau kami jadi kesepian." tambah Danu.


"Biar nanti ada cucu, punya anak yang banyak Di supaya ramai. Menyesal aku punya anak hanya satu " Dewanti sekarang yang berkomentar.


"Apalagi aku mbak, punya keponakan satu diambil Aran." Wilma tanpa sungkan menambahkan.


"Nanti cucu banyak taruh satu ya di Surabaya." kata Danu pada Rustam. Besannya tertawa lepas.


"Mas ini enak saja mengatur. Yang punya anak siapa kamu yang mengatur." protes Wilma pada Danu.


"Sudah nanti kami akan sering ke Surabaya. Nanti kita bikin satu di Surabaya. Bikin loh bukan di tinggal di sana." kata Aran menambah seru suasana. Wajah Diona memerah karena malu. Bisa-bisanya Aran bercanda seperti itu. Mereka menikmati hidangan dengan terus bersenda gurau. Hal itu membuat mereka semakin akrab. Dua keluarga yang bersatu karena pernikahan. Acara lamaran pun berakhir. Besok harinya semua bersiap untuk meninggalkan hotel. Mereka akan pindah ke kapal pesiar dan menempati kamar mading-masing. Para undangan berdatangan. Aran, Bayu dan Diona sibuk menyambut tamu yang datang. Leana yang tidak punya kegiatan ikut menemani mereka dengan duduk manis di kursi roda.


"Bro, istrimu suka kamarnya?" tanya Aran pada Bayu.


"Sukalah, tapi dia belum tau apakah nanti akan mabuk atau tidak. Mitsi belum pernah naik kapal laut." jawab Bayu.


"Lalu bagaimana? Ada dokter yang akan ikut menyertai kita." Aran jadi khawatir.


"Ya aku tau, kami sudah bertemu dokter itu. Dia memberi obat anti mual tapi kalau parah dia minta kami untuk menemuinya." jawab Bayu menenangkan.


"Kami juga sudah bertemu dokter itu ya Lea. Dia ingin tau tentang keadaan Lea." Diona menambahkan.

__ADS_1


"Dokter itu memang minta data riwayat kesehatan para penumpang kapal. Agak rumit aku kira. Tapi ternyata dia hanya ingin memastikan kapal ini membawa obat-obatan yang di butuhkan." jelas Aran


"Wah ternyata bagus juga ya cara kerjanya. Sangat bertanggung jawab." puji Bayu.


"Ayah dan om Danu memilih kapal pesiar ini karena perusahaan mereka betul-betul memberi kenyamanan bagi penumpangnya." Aran mengakhiri obrolan karena para tamu mulai berdatangan. Mereka di bantu petugas kapal yang mengantar para undangan ke kamar yang sudah di atur penempatannya. Rian bertugas mengantar tamu penting yang datang. Lucca datang bersama Justin dan Elis. Perut Elis yang sudah membesar jadi pusat perhatian.


"Kami di sambut oleh calon pengantin." seru Lucca senang.


"Hanya sekali seumur hidup loh." jawab Aran membalas.


"Elis perutmu sudah semakin besar. Tidak melihatmu beberapa waktu terlihat perbedaannya." Diona menyambut sahabatnya dengan senang.


"Bayiku ingin lihat untynya yang cantik. Dia rindu tidak mendengar suaramu." Elis berkata riang. Tidak sekolah lagi membuat dia rindu pada teman-temannya.


"Di antar mereka ke kamarnya. Kau juga istirahat bersama Leana. Biar aku dan Bayu di sini." pinta Aran pada Diona.


"Biar aku yang lakukan, kau bawakan saja koperku ini Di, tidak berat ko." Lucca mengambil alih tugas mendorong kursi roda Leana.


"Wah aku jadi merepotkan ya." Leana merasa sungkan.


"Tidak Lea, dulu kau yang mengawalku. Sekarang kami yang mengawalmu." Diona menenangkan Leana. Mereka pun berjalan memasuki kapal sambil berbincang. Di luar Aran dan Bayu masih menyambut para undangan yang datang. Paul datang bersama kedua orangtuanya. Paul membujuk mereka agar mau datang. Dia ingin ibunya bisa bertemu dengan orang-orang Indonesia. Sedangkan ayahnya bisa mengunjungi Indonesia.


"Hai Paul." kata Bayu ramah.


"Om dan Tante juga datang." dari perkataan Bayu Aran jadi mengetahui siapa sepasang suami istri yang datang bersama Paul.

__ADS_1


"Ayah, ibu ini Aran yang akan menikah dengan Diona." kata Paul pada orangtuanya mengenalkan Aran.


"Kami di sambut sang mempelai rupanya." kata ayah Paul ramah.


"Senang berkenalan dengan kalian. Terima kasih sudah datang." balas Aran tidak kalah ramah. Aran menghargai Paull yang sudah menjaga calon istrinya selama ini. Maka dia menyambut keluarga Paul juga.


"Dimana Didi?" tanya Paul sambil menatap ke sekeliling kapal.


"Baru saja masuk bersama teman-temannya." Bayu menjawab sambil memberi isyarat pada Rian untuk mengantar Paul.


"Mereka sudah datang rupanya. Baiklah kami masuk dulu." Paul menyudahi percakapan mereka karena mulai banyak tamu yang datang. Satu persatu kamar mulai di tempati tamu. Awak kapal mulai sibuk mempersiapkan keberangkatan dan makan siang yang akan di hidangkan untuk para tamu. Diona memilih makan di kamar bersama Aran, karena mereka di tempatkan satu kamar.


"Setelah makan aku ingin istirahat sebentar sebelum di rias." kata Diona yang sulit makan karena mulai gugup. Pernikahannya dilakukan nanti malam dengan prosesi sederhana.


"Ya istirahatlah, aku juga mau tidur sebentar." Aran meminta seseorang untuk membereskan peralatan makan mereka. Dia juga sedikit gugup dan membaringkan dirinya di sofa. Diona masih memeriksa perlengkapannya untuk nanti malam sebelum naik ke tempat tidur. Lalu membaringkan tubuhnya sambil memeriksa ponselnya. Tampak teman-temannya mengirim pesan untuk menggodanya. Kemudian dia terlelap karena mengantuk.


"Di bangun sayang, kau harus di rias. Aku mandi dulu ya. Itu orangnya sudah datang." Aran menepuk pipi Diona perlahan untuk membangunkan gadis itu. Mata Diona pun terbuka. Aran membantu Diona untuk duduk. Dia mengecup pipi Diona sekilas lalu beranjak ke kamar mandi. Diona yang sudah duduk mendengar pintu kamarnya di ketuk. Dia pun bangkit membukakan pintu.


"Nona Diona, saya bertugas untuk merias nona." sapa seorang wanita yang tadi mengetuk pintu.


"Silahkan masuk." Diona membuka lebar pintu kamar, mempersilahkan wanita itu masuk. Perias itu masuk dan meletakkan tasnya di atas meja. Perlahan dia membuka tasnya dan mengeluarkan peralatannya. Aran keluar dari kamar mandi, dia memang mandi dengan cepat. Tidak enak rasanya di tunggu orang.


"Kamu Astrid ya, yang di sewa bunda?" tanya Aran pada wanita itu.


"Benar tuan, saya yang akan merias kalian." jawab Astrid yang usianya tidak jauh dari mereka.

__ADS_1


"Saya saja yang lebih dulu di rias, biar Di mandi sebentar." Aran berkata sambil melihat pada Diona. Gadis itu masih diam sambil bersiap untuk mandi.


"Masih mengantuk ya." Aran mengacak rambut Diona. Gadis itu mengangguk.


__ADS_2