PADA DUA HATI

PADA DUA HATI
Perhatian Calon Ibu Mertua


__ADS_3

"Saya bisa melakukannya nanti Leana. Saya tidak mau kamu sendirian. Jika di bandingkan dengan apa yang kamu lakukan untuk Di ini bukan apa-apa." jawab Wilma sambil mengusap tangan Leana. Hati Leana menghangat. Jika sebuah pengorbanan yang di lakukan di hargai hati siapa yang tidak menjadi hangat.


Dewanti. Aran dan Diona pergi untuk berbelanja hantaran.


"Bunda, Di maunya yang praktis saja." kata Aran pada bundanya. Dewanti mengerti, Diona keponanakan Danu satu-satunya tentu saja dia di manjakan. Apa pun yang dia mau pasti di wujudkan oleh Wilma. Namun sifat Diona yang sederhana tidak membuat gadis itu menampilkan kekayaan keluarganya. Dewanti memuji cara Danu dan Wilma mendidik Diona.


"Kalau begitu kita beli perhiasan saja ya dan baju untuk lamaran nanti." kata Dewanti mengerti keinginan Diona. Mendengar itu Diona setuju. Mereka pun menuju toko perhiasan.


" Kamu pilih yang mana Di?" tanya Dewanti di depan etalase yang memamerkan banyak model perhiasan.


"Terserah bunda saja, kan bunda yang berikan untuk Di." jawab Diona manis.


"Betul boleh bunda yang pilihkan?" wajah Dewanti berseri-seri. Dia tidak punya anak perempuan, memiliki kesempatan memilihkan dan membelikan perhiasan tentu saja menyenangkan hatinya. Diona mengangguk. Aran mencium tangan Diona dengan mesra. Melihat Diona menyenangkan hati bundanya dia bahagia. Dewanti pun sibuk memilih perhiasan, tidak hanya satu tapi dua set perhiasan berlian. Dewanti juga membelikan satu set perhiasan yang modelnya sederhana untuk Leana. Gadis itu tomboy, tidak suka mengenakan perhiasan. Tapi Dewanti ingin melihat Leana mengenakannya. Diona melihat-lihat gelang rantai, dia tertarik salah satunya. Aran yang melihat itu meminta karyawan toko untuk memperlihatkan gelang itu.


"Kamu suka Di?" tanya Aran ketika Diona mencoba gelang itu. Diona mengangguk, matanya tidak lepas dari gelang itu.


"Biar sekalian bunda belikan ya." Dewanti melihat Di pantas mengenakan gelang itu.


"Bunda ini merusak moment Aran saja." kata Aran kesal.


"Loh memangnya kenapa?" tanya Dewanti heran.


"Harusnya Aran yang belikan biar dia ingat sama suaminya. Ini dia jadi ingat sama mertuanya." Aran memberengutkan mulutnya. Dewanti dan Diona tertawa. Tapi Dewanti berkeras membelikan gelang itu. Diona memilih sepasang anting.

__ADS_1


"Aran aku ingin belikan anting ini untuk Leana." kata Diona.


"Biar aku yang bayar." Aran menanggapi dengan senang.


"Tidak boleh, aku cemburu jika kamu belikan perhiasan untuk wanita lain." protes Diona.


"Tuh dengar Aran, kalau Di sudah bilang begitu jangan pernah kamu belikan perhiasan untuk wanita lain. Tolong jaga perasaan Di. Bunda juga tidak suka jika ayahmu membelikan perhiasan untuk wanita lain walaupun sebagai hadiah atau ungkapan terima kasih. Bisa menimbulkan salah paham." Dewanti setuju dengan calon menantunya.


"Tapi kalau kesepakatan bersama boleh dong." Aran menegaskan.


"Ya kalau nanti sudah suami istri, kalian bicarakan bersama." Dewanti menyerahkan keputusan pada mereka berdua.


"Ternyata istri aku cemburuan ya. Jadi gemas pingin cium pipi kamu." bisik Aran pada Diona. Tentu saja tidak di lakukan. Takut bundanya marah. Mereka pindah ke butik untuk membeli busana acara lamaran. Untuk pernikahan Diona ingin memilihnya bersama Wilma. Diona memilih gaun panjang bertangan pendek. Gaun itu berwarna peach dengan taburan Payet berbentuk bunga. Sejak pertama melihatnya Diona sudah jatuh cinta. Melihat pilihan Diona Aran pun memilih dengan jas warna cream. Kesannya jadi serasi. Aran mencoba gaun tersebut.


"Bagus tidak bunda?" tanya Aran pada Dewanti.


"Bunda tau ukuran ayah?" Aran mengikuti bundanya memilih jas.


"Tentu tau, kami sudah menikah lama. Kebanyakan baju ayah bunda yang belikan." Dewanti merasa aneh di tanya seperti itu.


"Berarti nanti bajuku Di yang akan pilihkan dong." Aran tersenyum senang. Menurut Aran hal itu salah satu bentuk perhatian.


"Itu sih kesepakatan kalian berdua, maunya bagaimana." Dewanti tetap sibuk memilih sambil menanggapi putranya.

__ADS_1


"Semoga Di mau ya bunda." Aran penuh harapan.


"Dicoba saja." Dewanti menatap penuh arti, selain itu dia ingin lebih bebas memilih untuk suaminya. Lepas dari gangguan Aran. Merasa tertantang, Aran menghampiri Diona.


"Di menurutmu kemeja mana yang cocok untukku ?" tanya Aran ingin tau reaksi Diona.


"Sebentar aku lihat." Diona berjalan ke arah koleksi kemeja pria. Aran mengikutinya, ingin tau apa yang akan dilakukan Diona. Sementara Diona memilih diantara banyak pilihan. Diona sudah tau pilihan jas Aran. Maka dia menarik kemeja polos dengan warna peach muda.


"Yang ini akan sama dengan gaunku." Diona memperlihatkan pada Aran.


"Aku setuju." Aran berkata sambil menoleh pada bundanya. Dewanti mengacungkan ibu jarinya.


"Perlu pakai dasi tidak?" tanya Aran bertanya lagi pada Diona.


"Tidak perlu. Begini sudah bagus." jawab Diona dengan yakin. Aran pun menyerahkan pilihannya pada pelayan toko untuk di kemas. Dia tersenyum puas. Awal yang manis untuk kehidupan mereka. Selain membelikan jas untuk Rustam, Dewanti juga membelikan gaun untuk Leana. Selesai dengan urusannya mereka pun kembali ke hotel. Bayu dan Mitsi datang. Aran menyambutnya dan memberitahu tentang rencana pernikahannya.


"Oh jadi kalian akan menikah di sini. Aku kira kira akan kembali pulang bersama." kata Bayu cukup terkejut. Aran terdiam, terpikir sesuatu dalam kepalanya.


"Istirahat dulu Bay, nanti kita bicara lagi saat makan malam " kata Aran pada sepupunya yang di setujui Bayu. Aran pun mencari Diona, ada yang ingin di bicarakan ya segera.


"Di, ikut aku yuk. Ada yang ingin aku tunjukan padamu. Diona menatap heran Aran yang mencarinya. Belum lama dia masuk ke dalam kamarnya membawa barang-barang yang baru di beli.


"Tunggu sebentar, aku ambil tas dulu " walau heran Diona menurut. Aran membawanya ke suatu tempat dan memperlihatkan sesuatu. Mereka membicarakan tentang pernikahan yang akan di langsungkan. Mata Diona berbinar. Setuju dengan yang Aran utarakan. Mereka pun kembali dengan hati bahagia. Aran sudah mengkonfirmasi waktu kepulangan Leana dari rumah sakit. Di hari itu mereka akan mengadakan lamaran yang di susul kemudian dengan pesta pernikahan. Beberapa keluarga sudah mulai berdatangan termasuk orangtua Bayu. Undangan juga sudah di bagikan karena jarak antara waktu lamaran dan pernikahan sangat dekat. Malam ini mereka makan malam di hotel. Berkumpul bersama.

__ADS_1


"Terima kasih kalian semua bersedia datang untuk acara saya dan Diona." Aran menarik perhatian dengan berdiri dan bicara. Semua terdiam dan menatapnya.


"Seperti yang sudah di rencanakan acara lamaran akan diadakan lusa di hotel ini. Selain itu saya dan Di juga sudah sepakat akan merayakan pernikahan kamu di kapal pesiar yang akan membawa kita pulang "


__ADS_2