
Walau Diona tidak punya maksud mengganggu hubungan Aran Danu tetap khawatir.
"Bagaimana kalau kita biarkan mereka bertemu?" tanya Dewanti berharap.
"Kamu yakin sayang, Aran masih punya perasaan yang sama pada Diona?" tanya Rustam pada Dewanti.
"Yakin. Sampai saat ini Aran masih terus mencari Diona. Tapi karena dia patuh Aran tidak menemui Diona. Hanya melihatnya dari kejauhan. Saya ingin Aran mengobati rasa kecewa dan marahnya dulu." penjelasan Dewanti yang sedih akan nasib putranya.
"Jika begitu Aran betul-betul cinta pada Diona. Saya jadi merasa bersalah, tidak bisa melihat kebahagiaan untuk putra saya." Rustam menyesal.
"Sudah mas, sudah. Semua sudah terjadi. Sekarang kita pikirkan yang terbaik untuk mereka. Saya merasa Diona masih menyimpan Aran di dalam hatinya. Hingga saat ini dia belum membuka hatinya pada siapa pun." Danu menepuk tangan Rustam. Dia paham perasaan Rustam.
"Benar, mungkin saja mereka jodoh." Dewanti jadi bersemangat melihat reaksi Danu. Pria itu jauh lebih muda dari suaminya, tapi bisa berpikir dan bertindak dengan hati-hati. Dewanti jadi kesal jika ingat tindakan Rustam. Seperti tau apa yang di pikirkan istrinya, Rustam mengusap bahu Dewanti. Meminta maaf.
"Mulai sekarang mas akan dukung kamu." kata Rustam mantap.
"Jadi sebaiknya bagaimana?" Dewanti ingin tau pendapat Danu dan Wilma. Danu menatap Wilma. Sang istri menyerahkan keputusan pada suaminya.
"Kalau Aran sudah siap, dia bisa bertemu Diona kapan saja. Tapi biar mengalir apa adanya. Tidak perlu di atur. Biar mereka mencari jalannya sendiri." kata Danu akhirnya. Merasa mendapat angin dari Danu tentu saja Dewanti merasa senang.
__ADS_1
"Semoga kita bisa menjadi satu keluarga nantinya." kata Dewanti tidak menutupi harapannya.
"Mudah-mudahan." Danu membalas. Mengenal orangtua Aran menghindarkan Danu dari salah paham dan pikiran yang salah. Mereka keluarga yang baik. Danu jadi bersimpati pada keluarga Aran.
Mhina mengalami kesulitan dalam kehamilannya. Dia susah makan dan mual. Hamil dalam keadaan tidak bahagia akhirnya membuat kesehatan Mhina menurun. Dia di larikan ke rumah sakit. Anak yang di kira Mhina akan bisa menahan Aran di sisinya justru menjadi beban saat ini. Mhina hanya ingin Aran yang menjadi ayah bayinya. Jika Aran tidak ingin bayi ini Mhina bersedia menghilangkannya. Pikiran yang menyeramkan. Luthan sampai takut mendengarnya, karena itu anaknya. Dia membujuk Mhina agar melupakan pikiran buruk itu. Luthan menjanjikan akan membawa Aran menengok Mhina, agar Mhina mau minum obat. Tapi Luthan punya seribu alasan pada Mhina. Aran tidak bisa datang karena sibuk rapat, Aran sedang dinas keluar kota atau Aran mengurus cabang perusahaannya. Mhina berpikir dengan di rawatnya dirinya di rumah sakit Aran akan iba dan menengoknya. Maka dia tidak mau segera sehat dan pulang. Luthan menatap Mhina dengan sedih. Sesulit ini kah mencintai seseorang? Mhina sudah ada dalam genggamannya tapi terus berteriak memanggil Aran. Untungnya Aran tidak berubah pikiran atau iba pada Mhina. Jika tidak Luthan akan kehilangan Mhina dan anaknya. Mhina kesal Luthan terus beralasan. Kali ini dia tidak percaya dengan kata-kata Luthan.
"Aku mau bertemu Aran." kata Mhina galak.
"Aran tidak ada di sini. Dia sedang ke luar negeri." jawab Luthan gemas.
"Aku tidak percaya." balas Mhina masih marah. Luthan memperdengarkan rekaman percakapan dia dan staf Aran di lobby, yang mengatakan pimpinannya sedang ke luar negeri. Kali ini Luthan masih bisa terselamatkan. Untung saja dia punya ide untuk merekamnya. Mhina tampak berubah tenang.
"Aku tidak tau. Bisnisnya memang sedang maju." Luthan sebenarnya hanya beralasan saja Aran keluar negeri, agar Mhina diam. Untuk pastinya dia tidak tau.
"Kamu cari tau, apa saja yang Aran lakukan di luar negeri." kata Mhina tidak senang. Mhina tidak mau nantinya Aran jatuh cinta pada wanita lain. Aran jauh darinya saja sudah menyiksa hatinya. Luthan menatap Mhina tidak percaya. Sudah di campakan Aran tapi masih terus berharap. Luthan benci ini. Tapi dia cinta pada Mhina.
"Aku akan cari tau. Tapi kamu minum obat ya sayang. Kamu harus sehat jika ingin melihat Aran." kata-kata yang menjijikan, yang terpaksa Luthan katakan. Luthan berharap Aran lenyap dari muka bumi ini.
Paul dan Bayu berangkat ke Bali. Diona sendirian, tapi dia terhibur karena Elis sudah kembali. Mereka berkumpul di cafe biasa.
__ADS_1
"Wah wajahmu bahagia ya." Diona menggoda Elis. Lucca tersenyum, wajah Elis memang bahagia. Justin biasa saja. Dia hanya tersenyum ramah. Ingatannya belum kembali, tapi dia mau mengenal dunia Elis. Wanita yang dia yakin di cintainya.
"Selamat atas pernikahan kalian. Ini kado dari kami." Lucca mengucapkan selamat dan memberikan bingkisan pada Elis. Kado yang dia dan Diona siapkan.
"Wah kalian baik sekali. Ini untuk membalas kebaikan kalian." Elis mengeluarkan dua kotak hadiah untuk Lucca dan Diona. Justin menatap lekat Elis. Dia selalu terpesona pada apa yang di lakukan gadis itu. Justin mantap menikahi Elis karena itu, selain bayi yang di kandung Elis.
"Bayimu sehat, kamu kesulitan tidak?" tanya Diona ingin tau.
"Sehat dan aku tidak kesulitan. Kadang-kadang saja aku mual dan tidak suka akan makanan tertentu." jawab Elis senang.
"Kau harus bilang padaku jika ada yang membuatmu mual atau tidak suka." kata Justin serius. Lucca dan Diona bisa melihat kesungguhan hati Justin.
"Iya nanti aku akan bilang." Elis mengusap wajah Justin lembut. Matanya berbinar bahagia. Justin tidak pernah bosan melihatnya. Pasangan yang bahagia, pikir Lucca. Semoga suatu hari dia bisa menemukan yang seperti ini. Lucca menatap Diona yang dengan ceria bercerita pada Elis. Gadis ini menyembunyikan sesuatu dalam hatinya. Lucca bisa merasakan itu. Sejak pertama bertemu Lucca tertarik dan menyukai Diona. Tapi gadis itu hanya menempatkannya sebagai sahabat. Entah siapa yang di simpannya di dalam hatinya. Awalnya Lucca curiga itu Paul. Tapi ternyata nasib Paul sama saja dengan dirinya. Mereka hanya menjaga Diona. Lucca tidak berani mengorek isi hatinya. Dia khawatir Diona jadi tidak nyaman dan menjauhinya. Lucca sayang pada Diona. Untuk rasa cinta Lucca belum sejauh itu. Lucca juga menjaga hatinya agar tidak kecewa. Entah sampai kapan.
Paul dan Bayu tiba di Bali, tanpa membuang waktu mereka mencari Deliana. Mereka bertemu Dewangga. Kakek itu terkejut melihat Paul. Pria muda tinggi dan tampan ini cucunya.
"Kamu cucu saya?" tanya Dewangga. Bukan cucu langsung tapi tetap saja di hitung cucu.
"Benar, saya Paul putra Deliana. Itu ibu saya." jawab Paul tegas.
__ADS_1