PADA DUA HATI

PADA DUA HATI
Fakta Baru


__ADS_3

Paul tertawa dan duduk bersama mereka.


"Kamu pasti lelah." Diona menyodorkan dari buah pada Paul.


"Ah ini enak. Aku mandi sebentar ya." Paul beranjak untuk mandi. Yang lain pindah ke ruang duduk, meneruskan obrolan.


"Bagaimana pekerjaanmu Paul?" tanya Danu ketika Paul sudah bergabung kembali.


"Hari ini restauran ramai, tapi aku kesal." kata Paul sebal.


"Kenapa?" tanya Danu ingin tau.


"Ada seorang gadis yang berkencan di restauran. Pasangannya seumuran dengannya. Mereka tengah makan malam ketika datang seorang pria yang mengaku juga pacarnya. Tapi anehnya pria itu jauh lebih tua darinya. Sama seperti uncle." Paul menunjuk Danu.


'Maksud kamu?" Wilma jadi penasaran dengan cerita Paul.


"Dari percekcokan yang terjadi, rupanya gadis itu berselingkuh dengan pria yang seumuran dengannya." jelas Paul.


"Lalu bagaimana kau melerai mereka?" tanya Danu.


"Tidak, aku suruh managerku untuk meminta mereka menyelesaikan masalahnya di luar. Mereka sudah mengganggu tamu restauran yang lain. Untungnya mereka melakukannya." Paul menatap Diona seperti ingin mengatakan sesuatu. Diona pun bertanya dengan isyarat matanya.


"Didi sepertinya aku pernah melihat gadis itu di sekolahmu. Aku mengambil fotonya, coba kau lihat. Apa kau mengenalnya?" tanya Paul ragu. Dia memperlihatkan foto di ponselnya. Diona mengamati foto tersebut.


"Ini Claire. Teman sekelasku." teriak Diona.


"Kau yakin? Jadi benar ya dia teman sekolahmu?" Paul lega, dia tidak asal menuduh. Diona mengangguk. Dia masih menatap foto itu. Yang jelas hanya Foto Claire dan pria yang seusia Danu. Pria muda yang bersamanya tidak terlihat wajahnya.


"Didi dari pembicaraan para pelayan katanya pria yang marah itu sugar Daddynya." Paul bicara hati-hati.


"Apa?" serentak tiga orang yang lain bereaksi. Claire punya sugar Daddy, pikir Diona.


"Diona!" sekarang Danu dan Wilma yang bereaksi. Mereka khawatir.

__ADS_1


"Itu kan Claire, bukan aku. Kalian tidak perlu panik begitu." kata Diona membela diri.


"Tapi tetap saja kami khawatir." kata Wilma.


"Ini kan baru gosip para pelayan. Kita tidak tau kebenarannya. Bisa saja pria itu pamannya atau walinya yang lain." kata Paul menenangkan. Dia tidak mau Diona di pojokan.


"Kamu jangan begitu ya!" kali ini Wilma berkata pada Danu. Suaminya masih tergolong muda dan tampan.


"Mana pernah aku begitu. Tidak terpikir sayang." Danu tidak suka di tuduh demikian. Dia sangat mencintai Wilma, tidak berniat menyakitinya.


"Di kamu jangan dekat-dekat dengan gadis itu ya." kata Wilma pada Diona.


"Aku tidak dekat dengannya. Dari awal sekolah dia sudah tidak suka padaku. Jadi aku juga tidak tau kehidupannya." Diona pun menceritakan pada mereka apa yang terjadi antara Dia dan Claire. Ketiganya marah.


'Apa dia berulah lagi Di?" Danu tidak bisa menahan emosinya.


"Tidak, aku juga berusaha jauh darinya. Maksudku kami." Diona meralat, karena kenyataannya dia, Lucca dan Elis menjaga jarak dengan Claire.


"Aku rasa dia suka pada Lucca." pendapat Paul.


"Didi , hal seperti itu dulu banyak kutemui di masa kuliahku dan teman kerjaku." jelas Paul.


"Di kamu jangan seperti itu ya sayang." Wilma memperingatkan. Walau dia yakin Diona bukan gadis semacam itu.


"Ga mungkinlah, aku kan penakut." Diona menyanggah. Paul menatapnya sendu, Diona lebih memilih menyimpan cintanya dalam diam.


"Sudah, ayo kita tidur sudah malam. Pikirkan saja kita mau wisata ke mana. Kami sebentar lagi harus pulang." Danu membubarkan suasana. Mereka pun tidur.


Paul mengajak mereka liburan ke Amalfi, Paul ingin menengok bibinya. Adik kandung ayahnya. Mereka tiba siang hari dan akan menginap di rumah bibi Paul.


"Maaf ya, aku tidak enak kalau kita menginap di hotel. Nanti bibiku menganggap kita sombong." kata Paul dengan menyesal. Tapi yang lain tidak keberatan. Rumah-rumah di Amalfi yang bersusun seperti bukit membuat mereka jatuh cinta. Apa lagi pada malam hari, membuat wilayah itu cantik dengan lampu-lampu. Rumah Irene, bibi Paul cukup besar dan memiliki kolam renang. Tapi tentu saja karena letak rumah yang berbukit, tetanggamu dapat melihat ketika kau berenang. Tapi kolam renang itu menyejukkan mata. Pemandangan laut di hadapan mereka juga tidak kalah.


"Mungkin ga kalau kita tua nanti kita tinggal di Italy?" tanya Wilma pada Danu.

__ADS_1


"Kamu mau tinggal di sini sayang? Kemana pun kamu mau tidak masalah. Kita suruh saja Di mengurus perusahaan. Biar dia puas dulu senang-senang sekarang." Danu mengedipkan sebelah matanya pada Wilma. Dia sudah punya rencana licik di kepalanya.


"Maksudnya apa ya?" tanya Diona menyindir. Sekaligus memberi tau jika dia mendengar perkataan Danu.


"Kalian itu sayang ga sih sama Di? Jadi kalian mau tinggal di sini sama Paul sedangkan aku sendiri di Surabaya?" Diona protes.


"Kan ada Bayu yang temani kamu nanti." hibur Wilma.


"Unty, orang sibuk begitu mana bisa di andalkan." sanggah Paul. Dia sedih membayangkan Diona kembali nanti ke Surabaya.


"Atau kita pindah saja semua ke sini?" tanya Danu.


"Boleh juga tuh." jawab Diona.


"Tapi mungkin tidak bisa cepat. Sabar dulu ya." Danu sadar, urusannya tidak semudah membalikan telapak tangan. Mereka kembali mengamati rumah Irene. Sang pemilik rumah sendiri tengah menyiapkan makan siang untuk tamunya. Irene tinggal di rumah itu bersama putra tunggalnya Raul. Pria itu seumuran dengan Paul. Suami Irene sudah meninggal dunia karena sakit parah. Sejak itu Irene tidak berniat menikah lagi. Dia hanya mengurus Raul. Mereka makan siang dan menikmati keramahan Irene.


"Paul bagaimana keadaan ayahmu?" tanya Irene pada keponakannya. Irene adik kandung ayah Paul, Miguel.


"Sudah lebih baik, tapi ayah tidak boleh terlalu lelah." jawab Paul, masih dengan senyum cerianya.


"Dasar pria bodoh dan keras kepala. Biar dia rasa sekarang." kata Irene kesal.


"Maksud bibi apa?" Paul tidak mengerti mengapa bibinya kesal.


"Kau tidak tau penyebab ibumu pergi?" tanya Irene curiga. Paul menggeleng dengan cepat.


"Mantan kekasih ayahmu belakangan sering datang ke restauran. Ibumu marah, mereka bertengkar. Itu sebabnya ibumu pergi." jawab Irene dengan marah.


"Bibi tau dari mana?" Paul terkejut. Karena marahnya Irene juga tidak bermaksud menyembunyikan kebodohan kakaknya dari orang luar.


"Bibi ada di sini bukan berarti bibi tidak tau. Ada Betsi pelayan ibumu yang selalu melaporkan pada bibi." Irene mengungkapkan rahasianya.


"Bibi yang jauh saja tau, aku yang tinggal dekat mereka justru tidak tau." kata Paul lesu.

__ADS_1


"Kau sibuk bekerja. Lagi pula ayahmu tidak mau kau tau tentang ini. Si bodoh itu takut kau memihak ibumu." kata Irene sinis.


"Aku memang memihak ibuku. Lalu apa wanita itu masih datang?" tanya Paul geram.


__ADS_2