PADA DUA HATI

PADA DUA HATI
Kehebohan


__ADS_3

Belum pernah Paul menggandeng wanita. Paul menuju ruang kerjanya, tapi dia menyapa anak buahnya. dulu.


"Ron, ini temanku Diona. Dia akan melihat-lihat. Tolong bilang pada yang lain." Artinya jangan menggangu Diona.


"Hai aku Ron." pria itu menyodorkan tangannya dengan ramah.


"Diona." kata Diona pelan.


"Ron ini manajer di sini." jelas Paul, lalu dia menggandeng Diona untuk masuk ke ruangannya. Para staf lalu menghampiri Ron. Ingin tau siapa Diona. Ruang kerja Paul tidak begitu luas tapi nyaman. Paul duduk di meja kerjanya, sedangkan Diona duduk di sofa.


"Didi, kamu lapar?" tanya Paul sebelum bekerja.


"Tidak, aku sudah makan siang tadi." Diona menolak. Dia pun sibuk dengan ponselnya tidak mau mengganggu Paul. Seseorang mengetuk pintu lalu masuk. Tampak seorang pelayan dengan baki di tangannya.


"Ron menyuruh saya membawakan minum dan kue." kata pelayan itu sambil melirik Diona.


"Taruh saja di meja." kata Paul sambil menatap tajam pelayan pria itu. Setelah menaruh minuman dan kue, pelayan itu tersenyum pada Diona lalu pergi.


"Dia pasti ingin tau apa yang kita lakukan di sini." kata Paul sambil melihat pekerjaannya.


"Melakukan apa maksudmu?" tanya Diona tidak mengerti.


"Aku tidak pernah membawa wanita ke sini. Tentu saja mereka penasaran akan dirimu." jelas Paul datar. Tapi Diona mengerti maksudnya.


"Oh jadi mereka pikir aku dan kamu beradegan mesra di sini?" Diona tertawa.


"Sepertinya begitu." Paul tersenyum. Diona sibuk lagi dengan gamenya di ponsel Tidak lama ada lagi yang mengetuk pintu. Muncul lagi pelayan tapi berbeda orangnya.


"Apa ada yang mau puding buah?" tanya pelayan itu sopan.


"Didi kamu mau puding buah?" tanya Paul pada Diona. Karena sibuk dengan gamenya Diona tidak menyahut.


"Didi." panggil Paul agak keras.

__ADS_1


"Ya ada apa?" Diona tersentak.


"Kau mau puding buah?" tanya Paul lembut.


"Ok aku mau." jawab Diona asal. Dia sibuk main lagi. Pelayan itu pergi. Datang kembali membawa puding buah. Dia sempat melirik Diona sebelum pergi. Bosan dengan gamenya Diona mulai menikmati kue yang tadi di antar. Enak, pikirnya. Pintu di ketuk lagi. Ya ampun, Paul tidak akan bisa bekerja jika begini. Apa segitu penasarannya mereka pada dirinya, batin Diona. Pintu terbuka kali ini Ron yang masuk.


"Paul, wanita itu datang lagi." kata Ron yang membuat Paul kesal. Pria itu bangkit berdiri dan berjalan keluar. Diona mengikuti karena ingin tau. Paul berjalan menuju kursi pelanggan. Diona memperhatikannya bersama Ron dari belakang meja kasir. Paul berhenti di sebuah meja di mana duduk seorang wanita dengan dandanan menor. Mungkin dari segi usia dia sudah tidak cantik lagi, tapi dia berusaha tampil cantik dengan make up-nya. Walau itu tidak membantunya. Paul tampak berbicara sopan dengan wanita itu yang tampak kecewa. Tampak jelas Paul meminta wanita itu pergi.


"Siapa wanita itu?" tanya Diona pada Ron.


"Wanita perusuh. Dia selalu datang mencari tuan Miguel." kata Ron dengan kesal. Diona langsung tau siapa wanita itu. Tampak wanita itu berjalan menuju keluar, tapi kemudian dia berhenti dan bertanya pada Paul. Di jawab oleh Paul dengan gelengan kepala, wanita itu pun pergi. Paul berjalan kembali.


"Ingat ya, jika wanita itu datang lagi jangan di kasih masuk. Suruh dia pergi. Dan itu berlaku di seluruh restauran ayah." kata Paul marah. Diona merasa ngeri. Paul masuk ke dalam ruangannya lagi, tapi Diona tidak mengikutinya.


"Paul memang galak pada wanita." kata Ron pada Diona.


"Galak? Paul tidak pernah galak di rumah." ah Diona keceplosan. Dia langsung terdiam malu.


"Jadi kau tinggal bersama Paul? Makanan yang Paul bawa pulang ternyata untukmu ya?" mata Ron menatap Diona menyelidik. Diona tersenyum malu. Dia tidak tau harus menjawab apa.


"Katanya untuk temannya." jawab Ron.


"Nah itu aku." Diona lega bisa menjawab Ron.


"Benar kau teman Paul, kalian tidak pacaran?" Ron menegaskan. Diona menggeleng.


"Ah Paul itu bodoh ya." Ron kecewa. Para staf yang menguping pembicaraan mereka juga kecewa. Diona menatap sekitarnya dengan bingung. Mereka tampaknya mengharapkan Paul punya pacar.


"Ada apa sih sebenarnya?" Diona jadi penasaran.


"Paul itu bos yang baik, tapi dia tidak suka bekerja di sini. Dia sukanya di Paris. Kalau Paul punya pacar kami berharap dia akan betah kerja di sini." jelas Ron. Diona mengerti sekarang. Dia merasa geli.


"Aku berasal dari Indonesia, jadi kalau aku pacaran sama Paul akan aku bawa ke Indonesia." Diona jail menakuti Ron.

__ADS_1


"Jangan, dengar kami akan baik padamu. Jadi tetaplah di sini. Ibu Paul juga dari Indonesia, dia bisa mengikuti tuan Miguel tinggal di sini." Ron berusaha meyakinkan Diona.


"Begini saja, kalau kalian ingin aku jadi pacar Paul kalian harus baik padaku." Diona berkata dengan licik.


"Ok itu bisa di atur. Kau juga harus baik pada Paul ya." Ron ingin Diona berjanji. Diona mengangguk. Ketika Diona menoleh ke belakang tampak Paul tengah berdiri menatapnya dengan aneh.


"Paul." sapa Diona terkejut. Diona malu sebenarnya. Khawatir Paul mendengar percakapannya dengan Ron.


"Didi Kau belum makan puding buahmu." kata Paul singkat, lalu masuk ke ruang kerjanya. Dengan berdebar Diona menyusul masuk, Paul tampak sudah sibuk lagi dengan pekerjaannya. Diona pun duduk dan menikmati puding buahnya.


"Paul, apa yang kau katakan pada wanita tadi?" tanya Diona memecah kesunyian.


"Aku bilang jangan datang lagi ke sini " kata Paul tapi dia tidak menoleh.


"Dia menerima begitu saja?" Diona penasaran.


"Dia bilang ingin bertemu ayahku. Aku bilang ayahku sedang pergi bersama ibuku." alasan cerdik Paul., mungkin agar wanita itu tidak muncul lagi.


"Kau yakin itu berhasil?" Diona juga ingin tau hasilnya.


"Mudah-mudahan saja, aku juga kan sudah menyuruhnya pergi. Kau suka pudingnya?" tanya Paul Ki ini menoleh.


"Enak." kata Diona sambil tersenyum, puding itu sudah habis duluan.


"Puding itu resep ibuku. Kalau ibu yang buat pasti lebih enak dari itu " kata Paul menerangkan. Sepertinya Paul merindukan ibunya. Apalagi dengan kedatangan wanita perusuh tadi, pasti membuat Paul lebih teringat ibunya. Diona bingung bagaimana menghibur Paul.


"Tuan ada undangan ulang tahun perusahaan dari kolega Anda." kata Rian pada Aran.


"Kapan acaranya?" tanya Aran yang sibuk dengan pekerjaannya.


"Dalam dua hari ini." jawab Rian.


"Kalau begitu siapkan keberangkatanku." Aran berkata tegas.

__ADS_1


"Baik tuan." Rian keluar dan melakukan tugasnya. Aran memberitahu Mhina tentang kepergiannya untuk beberapa hari ke depan.


__ADS_2