PADA DUA HATI

PADA DUA HATI
Kepedulian Paul.


__ADS_3

"Jangan. Itu tidak cocok untukmu." Diona beralasan. Padahal dia khawatir Paul tidak mau masak lagi. Diona menghabiskan sarapannya.


"Ambil tasmu, kita berangkat." Paul mengambil piring kotor Diona dan mencucinya.


"Jadi tugasmu menyediakan sarapan setiap pagi?" tanya Wilma, dia melihat Paul sudah menyediakan dua piring pasta untuk dia dan Danu.


"Betul Aunty, tugasku memasak. Karena Didi lebih banyak di rumah jadi dia yang mengurus pekerjaan rumah. Maaf aku mungkin terlalu sibuk ya." Paul berkata dengan malu.


"Tidak, kalian terlihat kompak." Wilma berkata jujur.


"Aunty aku akan mengantar Didi sekolah lalu pergi bekerja. Kalian mau pergi ke mana, nanti biar aku antar." Paul dengan ramah menawarkan.


"Tidak perlu kau pergi saja bekerja, kami akan di rumah dulu. Tujuan kami kan bertemu Diona." Wilma menolak. Dia tidak mau merepotkan Paul. Diona menghampiri mereka.


"Ayo berangkat, Tante aku pergi dulu ya." Diona pamit pada Wilma. Dengan senyum Wilma lalu mengangguk.


"Tidak ada yang lupa?" tanya Paul pada Diona. Mereka melangkah keluar. Wilma melihat Paul seperti kakak Diona. Andai Diona punya kakak, mungkin mereka tidak sekhawatir ini.


"Kenapa sepi?" tiba-tiba Danu bertanya. Penampilannya berantakan karena bangun tidur.


"Paul pergi bekerja dan Di sekolah." jawab Wilma. Danu menghampiri. Dia melihat dua piring pasta di meja.

__ADS_1


"Kau memasak sayang?" tanya Danu, dia duduk di sebelah Wilma. Menarik salah satu piring dan mencoba isinya.


"Bukan aku, itu Paul yang buat." Wilma tergoda melakukan yang sama.


"Paul yang buat? Ini enak. Sepertinya dia benar chef." Danu merasakan kelezatan sarapannya. Wilma memeriksa dapur dan mesin pendingin. Bahan-bahan yang ada di sana semua menunjukan Paul seorang chef. Danu dan Wilma menyelesaikan sarapan mereka. Lalu Danu menggendong Wilma.


"Ayo kita mandi sayang. Waktu milik kita berdua." kata Danu sambil membawa Wilma ke kamar. Diona menikmati waktunya sendiri di sekolah, tapi dia tampak bersemangat. Dia senang karena Danu dan Wilma menengoknya. Seperti biasa Paul menjemputnya siang itu dan mereka pulang bersama. Di apartemen Danu dan Wilma tengah bersantai menonton TV ketika Paul dan Diona tiba. Paul langsung ke dapur membuat makan siang untuk mereka. Dengan keahliannya dia cepat menyiapkan empat porsi makan siang. Wilma kagum melihatnya. Padahal Paul hanya membuat daging panggang dengan saus karena sudah lewat waktu makan siang.


"Ayo kita makan dulu Aunty." kata Paul mengajak. Mereka pun menikmati makan siang.


"Memangnya setiap siang kamu pulang Paul?" tanya Wilma penasaran.


"Pantas saja Di tidak mau di pindahkan. Dia kamu manjakan." kata Danu menyadari pemikiran Diona. Sang keponakan hanya tersenyum malu.


"Yah aku kan tidak punya adik, anggap saja aku mengurus adikku." kata Paul beralasan.


"Paul ibumu dari Indonesia atau asli orang Indonesia?" tanya Wilma.


"Ibuku asli orang Indonesia, itu sebabnya aku bisa bahasa Indonesia. Ibu menikah dengan ayah lalu tinggal di Italy. Tapi sekarang entah di mana." kata Paul sedih.


"Kau tidak mencarinya?" tanya Danu, dia jadi iba pada pria muda ini.

__ADS_1


"Aku tidak tau harus mencarinya ke mana. Tapi Bayu berjanji akan mencari tau, karena ibuku masih kerabat dari ibunya Bayu." jelas Paul. Mendengar itu ada kelegaan dalam hati Danu.


"Jadi kamu dan Bayu itu masih sepupu?" tanya Danu penasaran. "Sepupu jauh." Paul berkesimpulan.


"Lalu kamu dekat dengan Bayu bagaimana ceritanya?" Danu jadi tertarik pada Paul.


"Bayu kan sekolah di Italy. Dia di titipkan di rumah ayahku. Karena aku masih tinggal di rumah jadi dekat dengan Bayu. Tapi setelah Bayu lulus dan pulang aku keluar dari rumah. Kadang Bayu datang mengunjungiku. Bayu punya bisnis di Italy, mungkin dengan teman sekolahnya dulu." Paul mengenang masa lalu. Bayu memang mengenyam pendidikan di luar negeri. Berbeda dengan Aran yang memilih tetap di dalam negeri. Sekarang Danu jadi mengerti benang merah antara Bayu dan Paul.


"Jadi selain sepupu jauh, kalian juga bersahabat ya." komentar Wilma.


"Mungkin karena sama-sama anak tunggal, kami jadi dekat." Menurut Paul dia dan Bayu sama-sama kesepian.


"Kamu kenal Aran?" tanya Danu tiba-tiba. Diona terkejut dengan pertanyaan Danu.


"Aran? Tidak tuh. Aku tidak pernah ke Indonesia. Bayu juga tidak pernah membawa teman atau sanak saudara yang lain ke sini. Hanya Didi seorang." jawab Paul bingung. Tapi jawabannya membuat Danu lega. Tidak ada akses Aran untuk menghubungi Paul. Itu berarti Diona aman. Setelah makan siang Paul mengajak mereka jalan- jalan sebentar, sebelum dia pergi bekerja. Wilma ingin pergi ke jembatan tua lagi. Maka mereka pergi ke sana. Dari sana mereka duduk-duduk di taman, Paul membelikan Diona es krim dengan cup yang besar. Rasanya sangat enak, perpaduan coklat dan vanila. Kedatangan Danu dan Wilma selain mengunjungi Diona, mereka ingin mengunjungi Gereja Santa Maria Dell'Isolda di Tropea, Calabria. Gereja yang berada di atas tebing dengan pemandangan indahnya. Apalagi ketika malam hari, lampu-lampu membuat tempat itu memikat mata. Paul pun mengatur waktu, agar mereka dapat pergi ke sana. Ternyata bukan hanya Diona yang terpukau, Wilma juga. Satu kebahagiaan baginya bisa menikmati keindahan dan waktu bersama orang-orang yang di kasihinya. Patut di syukuri, tidak perlu merisaukan hal yang belum datang. Atau malah tidak akan datang. Seorang anak. Sekarang teman-teman Wilma mengagumi acara liburannya. Karena Wilma memasang foto-foto wisatanya bersama Danu dan Diona. Itu semua berkat Diona yang bersekolah di Italy. Danu jadi meluangkan waktu untuk liburan bersama keluarganya. Hal yang sering di lewatkan ya dulu karena kesibukannya bekerja. Selain itu sekarang mereka semakin menyadari arti Diona dalam hidup mereka. Gadis itu kesepian dan terlalu takut merepotkan orang lain, walau keluarganya sendiri. Mereka kembali ke Florence karena Paul harus bekerja. Diona masih libur, maka dia bisa bersantai di rumah.


"Bagaimana jika nanti siang makan di restauran ayahku? Aku akan menjemput kalian?" tanya Paul antusias.


"Tentu kami mau." jawab Danu. Tidak mau mengecewakan Paul.


"Baiklah, kalian bersiap nanti siang aku akan datang." Paul pun pergi bekerja. Diona sangat penasaran dengan tempat Paul bekerja. Selama ini Paul tidak pernah mengajaknya ke sana. Mungkin karena Paul belum berterus terang jika restauran itu milik ayahnya . Kesempatan ini membuat Diona senang dan semangat.

__ADS_1


__ADS_2